Jumat, 18 November 2011

Gelombang Permurtadan di Reruntuhan Gempa


   


SEKAPUR SIRIH


Bismillahi Rahmanir Rahim
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Air mata membasahi Ranah Minang. Gempa besar telah meluluhlantakkan Negeri Nan Elok. Ribuan nyawa tiada, ratusan lagi hilang. Setelah mengalami dan menyaksikan sendiri berita duka lara yang sangat memilukan, tergerak hati saya untuk mengabadikannya melalui sebuah buku. Semoga buku ini di masa mendatang bisa menjadikan pedoman dan acuan buat generasi kita nantinya, dan menambah keimanan kepada Sang Pencipta yakni, Allah SWT Yang Maha Kuasa.
Memang Kuasa Tuhan tidak terbatas, kalau kita pelajari dan kita pahami isi kandungan Al-Qur’an memang sudah digariskan bahwa orang-orang yang melakukan kedurhakaan terhadap ciptaan-Nya maka ketentuan Allah SWT akan berlaku. Untuk menghindari bumi ini dari bencana, marilah kita kembali kepada kedua pusaka yang ditinggalakan Rasulullah SAW yakni, Al-Qur’an dan Hadist. Keduanya adalah pusaka yang membawa kita kepada keselamatan di dunia dan akhirat.
Saya merasa senang dan bangga bahwa selama kepeminpinan Walikota Padang Fauzi Bahar telah menerapkan sistem belajar yang mengarah kepada Islami. Mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, siswanya memakai pakaian muslim. Di Bulan Ramadhan murid sekolah dasar mulai dari kelas IV sampai kelas III sekolah menengah atas harus mengikuti pesantren Ramadhan yang telah diprogram Walikota. Sehingga tidak ada murid sekolah dasar yang tidak bisa membaca Al-Qur’an. Mungkin di Kota Padang ini satu-satunya pelajar yang memakai pakaian muslim dan semua instansi pemerintah pegawainya juga telah memakai pakaian muslim, alhamdulillah.
Gempa yang menimpa Sumatera Barat dengan kekuatan 7,9 Skala Richter. Mudah-mudah kita bisa mengambil hikmah dari tragedi yang memilukan ini. Bagi saya, buku ini merupakan catatan dan refleksi sekilas dari pengalaman dan pencarian berita dalam rangka menemukan makna hidup yang sesungguhnya dan sebagian besar beritanya saya kutip dari beberapa mess media yang terbit di Kota Padang.
Semoga Allah SWT memberikan kita semua taufiq dan hidayah-Nya dalam menyelusuri jalan hidup yang diberkatinya. Menegakkan amal ma’ruf nahi mungkar. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa isi buku ini adalah suatu yang sangat penting dan bisa mengintrospeksi diri kita untuk menatap hari esok yang lebih bahagia di akhirat. Lewat buku ini setidak-tidaknya saya berusaha memberikan bakti dan kebaikan untuk kita semua. Dari musibah ini banyak orang-orang berpisah dengan anggota keluarganya. Mudah-mudahan semua amal ibadah para korban diterima di sisi-Nya. Amin, Amin, Ya Rabbal’Alamin.
Billahi tawfiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.....

  
Penulis


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
SEKAPUR SIRIH 
SAMBUTAN
DAFTAR ISI

Pendahuluan                                                                                                
  1. Sumatera Berguncang    - 10
  2. Fauzi Bahar Mengudara di RRI Padang    - 14
  3. Dampak Dari Gempa   - 15
  4. Tertimbun di Gedung bertingkat    - 18
  5. Gedung LIA Rata dengan Tanah    - 21
  6. Presiden SBY: “Tuntaskan Segera Masalah Listrik”    - 23
  7. Papa, Kami Masih Hidup     - 26
  8. Tolong....., Lalu Senyap     - 29
  9. Mereka Saling Berpelukan     - 30
  10. 17 Jam Tidur dalam Pecahan Beton    - 33
  11. Alhamdulillah, Walau Kaki Patah tapi Nyawa Masih Ada   - 35
  12. Tentara itu Merangkak di Bawah Reruntuhan Beton    - 37
  13. Terasa Hidup Dua Kali    - 39
  14. 400-an Tertimbun Saat Pesta    - 40
  15. Pesta itu Dikubur Gempa    - 43
  16. Mayat Bergelimpangan, Pesta Berjalan Terus     - 44
  17. Orang Minang Memalukan    - 45
  18. 400 Orang Masih Tertimbun    - 46
  19. Selamat dari Hotel Ambacang    - 48
  20. Bantuan Asing Berdatangan    - 49
  21. Berpacu dengan Waktu, Berperang dengan Bau    - 53
  22. Ratusan Mayat Ditemukan    - 55
  23. Kisah Penghuni Hotel Ambacang yang Selamat    - 56
  24. Separuh Murid SD Tertimbun    - 57
  25. Rakyat Dibiarkan dalam Ketakutan    - 59
  26. Ribuan Rumah Hancur di Painan    - 60
  27. Anak Awak Tatimbun Katiko Mengaji    - 61
  28. Ibu Pergi, Setelah Selamatan Adik   - 63
  29. Membuka Jalan Hidayah Bagi Manusia yang Berpikir    - 65
  30. Bocah-Bocah Mengemis di Sepanjang Jalan    - 67
  31. Istighfat Terucap, Longsor Terelak    - 69
  32. Kami Yakin, Masih Ada yang Hidup    - 70
  33. KRI Soeharso bisa Rawat 500 Pasien    - 72
  34. Penjarahan Meningkat     - 75
  35. Hilang Tiga Hari, Ditemukan jadi Mayat    - 76
  36. Dunia Teraso Baputar, Ketika Mendengar Kabar     - 77
  37. Boedioni di Tandikek: Gempa Sumbar Bencana Nasional      - 79
  38. Ramlan Menggergaji Kakinya Sendiri      - 80
  39. Moran Berpesan Akan Pergi Jauh      - 81
  40. Malaikat Baik Hati dari Jerman     - 82
  41. Tertimbun 6 Jam, Seorang Polisi Selamat      - 84
  42. Anak dan Murid Tertimbun, Rosneli Masih Bisa Bangkitkan Warga      - 85
  43. Mimpi Baralek, Ayam Berkokok Hingga Tiga Kali      - 87
  44. Gusti Anola: “Anak Saya itu Rajin Sholat Dhuha”     - 89
  45. Gelas Meletus Tiba-Tiba, Lemang Melayang di Udara      - 91
  46. Pa.... Flashdisk Jangan Dibuang Ya!     - 93
  47. Zikir Massal Hilangkan Trauma      - 95
  48. Cerita Sebelum Terjadi Gempa     - 96
  49. Orang Asing Sebarkan Injil di Padangpariaman     -97
  50. West Sumatra Quake Vistims Warned Againt Disguised Misionary Activity    - 101
  1. Tak Tergantikan Iman dengan Sebungkus Mie    - 102
  2. Kristenisasi di Pasa Kudu “Coklat Tuhan”   - 104
  3. Misionaris Ngaku Beragama Islam, tetapi Nggak Tahu Shalat Ashar      - 106
  4. Dibaptis di Taluk Bayua Koto Tinggi     - 106
  5. Habis Gempa Datanglah Pendeta    - 108
  6. Insya Allah, Kami Masih Sholat     - 111
  7. Warga Pasir Parupuk Buncah, Kristenisasi Berkedok Bantuan Gempa   - 113
KESIMPULAN    - 115

TENTANG PENULIS     - 117
DAFTAR RUJUKAN     - 118



PENDAHULUAN


Sumatera Barat terletak di daerah Pesisir Barat Pulau Sumatera. Dahulu bernama Sumatera Tengah yang meliputi Propinsi Riau, Jambi dan Bengkulu. Negeri nan elok ini mempunyai tradisi garis keturunan yang berbeda daripada negeri-negeri lain di Indonesia. Sumatera Barat atau lebih dikenal dengan nama Minangkabau mempunyai garis keturunan menurut suku yang dianut oleh sang ibu, yakni dengan istilah matrilinial.
Sebelum Belanda masuk menjajah Indonesia, Sumatera Tengah adalah sebuah kerajaan yang indah, makmur dan besar. Kerajaan itu bernama “Minangkabau” yang mempunyai pusat pemerintahan di Kabupaten Tanah Datar.
Dari kenyataan abad pertama Hijrah penyebaran agama Islam sudah dilakukan sebagai akibat dari hubungan dagang orang-orang Arab. Pada umumnya kota-kota dagang di Pulau Sumatera, baik yang terletak di pantai Utara, Barat maupun Timur sejak abad ke 7 atau tahun 650 agama Islam telah mulai merayap secara serentak. (Sayed Alwi bin Tahir Al Haddad, 1957: 21).
Di Sumatera Barat pada tahun 674 Masehi sudah didapat satu kelompok masyarakat Arab. (Hamka, 1961:661).
Penyebaran agama Islam ke Minangkabau dilakukan langsung oleh para pedagang, baik orang Arab, Hindustan, Tiongkok, Persia manpun oleh nakhoda-nakhoda dan palaut-pelaut orang Minangkabau sendiri atau “bangsa kita (Jawa dan Sumatera”. (H. Agus Salim, 1962:13).
Rakyat Minangkabau telah menganut agama Islam. Tepatnya 40 tahun setelah Rasulullah SAW wafat, pedagang-pedagang bangsa Arab singgah di Pesisir Barat Pulau Sumatera dan mengembangkan agama Islam.
Agama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW ini dengan mudah dan cepat diterima oleh Masyarakat Pesisir Barat Sumatera, sehingga seluruh penduduk Sumatera Barat beragama Islam. Sejak saat itu ada ungkapan, “Kalau tidak beragama Islam,  berarti ia bukan orang Minangkabau”. Demikian kuatnya agama Islam yang dianut oleh masyarakat Sumatera Barat. Sehingga ada pepatah adat mengatakan, “Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah. Syarak Mangato, Adat yang Memakai”. Di Maa Bumi dipijak, di Situ langit Dijunjung. Kemana pun orang Minang merantau, adat istiadat tetap dipelihara. Dimana dia tinggal, adat setempat yang akan dipakainya. (bisa menyesuaikan diri dimanapun ia berada).
Kehadiran buku yang disusun khusus tentang musibah gempa yang terjadi 30 September 2009 tepatnya pukul 17.16 Wib yang mengguncang di Sumatera Barat, sehingga meluluhlantakan hampir semua bangunan yang bertingkat. Dan kemurtadan yang terjadi di beberapa daerah yang terkena dampak gempa serta kisah-kisah nyata yang menimpa para korban dan keajaiban-keajaiban yang terjadi Allah akbar.
Kalau kita melihat ke belakang. Sebenarnya permurtadan ini sudah lama terjadi di Minangkabau. Salah satunya kasus penculikan Wawah. Sekitar bulan Maret 1998 Wawah kerkenalan dengan seorang gadis “berjilbab” pintar bahasa Arab dan bahasa Inggris tapi dia bukan seorang Muslimah. Ia seorang Kristen Protestan dan telah dilatih menjadi penginijil dan terampil hipnotis. Wawah seakan terpukau dan tertarik.
Pada suatu malam di saat kakak Wawah sedang tidak di rumah, Lia datang dan mengajak Wawah jalan-jalan. Bagaikan berada dalam keadaan dihipnotis, Wawah tak kuasa menolak hingga mereka sampai di Gereja Kristen Prostestan Indonesia Barat (GPIB) di JI. Bagindo Azis Chan. Di sini sudah menunggu Pendeta Willi Amarullah (adik tiri Buya Hamka), dan sejumlah Umat GPIB. Jadi kedatangan mereka berdua sudah ditunggu, diketahui dan dipersiapkan sedemikian rupa.
Dalam keadaan terhipnotis serta ancaman dari Lia, Wawah terpaksa menurutinya. Lia mengancam “Kamu jangan macam-macam nanti keluargamu akan dihabisi...” ancarnan Lia. Wawah berteriak dan menangis. Kemudian dengan kata-kata bujuk rayu dari Pendeta Willi, Wawah jadi pasrah, lalu alunan nyanyian rohani membuat Wawah terbuai. Pendeta Willi minta Wawah untuk membuka jilbab. Wawah kehilangan kesadaran. Akhirnya Wawah di Baptis setelah terlebih dahulu di mandikan di Gereja GPIB tersebut.
Masih banyak lagi kasus permurtadan yang terjadi di Minangkabau. Diantaranya dialami anggota masyarakat Tanjung Pati, Politani Unand yang membuat korban kesurupan sejak 21 Juni s/d 22 Agustus 2003. Juga kasus terhipnotisnya 23 mahasiswa muslimah Politani tahun 2002. Terakhir kasus kesurupan yang dialami siswi MAN 2 Payakumbuh 24 September 2003.
Dengan terjadinya berbagai peristiwa permurtadan di Minangkabau, diharapkan buku ini mampu memberikan nuansa baru penerangan kepada para korban gempa supaya tetap tabah menghadapinya dan tetap meningkatkan ketakwaan (amal ibadah) kepada Allah Sang Pencipta Alam Semesta. Dan untuk generasi yang akan datang bisa menjadi tolak ukur untuk menatap masa depan yang lebih menjanjikan.
Mudah-mudahan saja keinginan untuk mengembalikan norma-norma agama Islam di tengah-tengah masyarakat bisa terus terwujud dengan baik dan sempurna.
Amin!

  
1. Sumatera Berguncang

Artinya:
16.    Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
17.    Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nabi Nuh Kami binasakan, dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hambaNya. (Surat Al Isra’, ayat 16 dan ayat 17)

Pukul 16.40 wib setelah selesai sholat ashar aku duduk di pinggir kali kecil di depan rumah.  Heran kenapa air kali tersebut berubah hitam kecoklat-coklatan. Biasanya kali kecil tersebut airnya bening dan setiap pagi banyak ibu-ibu yang mencuci pakaian. Kali kecil itu hanya berjarak dua meter dari bibir jalan yang terdapat di jalan Raya Lubuk Minturun.

Dengan bertanya-tanya di dalam hati, ada apa gerangan? Sesaat kemudian aku menyalakan komputer seperti biasanya. Dan mengetik bermacam-macam tulisan yang di kumpulkan menjadi buku. Sore itu cuaca di angkasa agak mendung. Mata hari bersembunyi di balik awan, tetapi pantulan sinarnya yang garang tetap menerangi bumi yang kita cintai ini.
Tepat pukul 17.16 wib meja komputer bergoyang perlahan-lahan, tetapi makin lama makin kuat goyangannya. Aku sadar gempa menguncang bumi. Tiba-tiba listrik mati dan komputer yang menyala mati seketika. Setengah berlari aku berlari ke luar rumah. Di halaman rumah sudah banyak orang berkumpul sambil mengucapkan asma Allah, Astagfirullah ......, Laillah aillahllah ......, dan banyak lagi asma Allah yang berkumandang secara otomatis dari mulut orang yang terucap.
Jalan yang dipijak seperti gelombang air di tengah laut. Sehingga untuk berjalan tidak bisa, karena keseimbangan goyang. Banyak orang yang terduduk di jalan yang terdapat di depan rumah. Tonggak listik bergoyang tidak henti-hentinya. Seakan bumi berguncang dan mengeluarkan isinya. Goyangan tersebut berlansung cukup lama.
*** ***
Lima belas menit setelah gempa terjadi, banyak kendaraan yang menuju ke arah Lubuk Minturun yaitu kawasan yang tertinggi dari bibir pantai Kota Padang. Mobil dan sepeda motor berpacu sambil membunyikan klasonnya. Satu sepeda motor di naiki oleh dua orang dewasa dan tiga orang anaknya sambil membawa bungkusan seadanya. Mobil pick up penuh sesah oleh anak-anak, ibu-ibu dan orang tua di belakang.
Makin lama jalan Raya Lubuk Minturun makin ramai, sehingga untuk menyeberangi jalan tidak bisa. Aku hanya bisa berdiri di pinggir jalan melihat kendaraan yang lalu lalang. Dan banyak pula yang berjalan kaki meninggalkan rumahnya untuk mengungsi mencapai daratan yang tinggi. Ia semua mereka lakukan untuk menghindari dampak dari gempa yaitu bila terjadi Tsunami menghantam Kota Padang. Mereka semua ketakutan, yang berjalan setengah berlari. Suara klason dari kendaraan baik dari mobil maupun dari sepeda motor memekakkan gendang telinga.
Kucoba menghubungi anakku Zuama Qudsi dan Muhammad Zaki Asqalani yang berada di jalan Berok II tepatnya di belakang Lembaga Permasyarakatan Muara. Tetapi sinyal telkomsel yang biasanya menjadi raja di udara tiba-tiba raib tak tentu rimbanya. Seolah-oleh sang operator Veronika juga tenggelam di hantam gempa. Kucoba pula menghubungi melalui telepon rumah tetapi lagi-lagi tidak nyambung. Aku mulai panik, tetapi aku ingin Allah SWT. “Ya... Allah, lindungilah kedua anakku dan semua keluargaku dari bencana ini. Kuatkanlah imanku ya Allah.”
Kunyalakan mesin mobil lalu berjalan perlahan-lahan menembus ribuan orang yang tengah panik. Sepuluh menit mobil tidak bisa lagi meneruskan perjalanan karena terjebak kemacetan yang panjang. Kuhentikan mobil dan berjalan mencari-cari famili atau saudara lainnya. Tetapi pencarianku sia-sia belaka.
Kepanikanku tak dapat dibayangkan. Di sepanjang jalan banyak puing-puing reruntuhan akibat gempa. Pekikan dan ratapan suara korban seakan hilang ditelan kegaduhan.
“Ya Allah...... kenapa jalan ini begitu macet total,” kataku. (Peta Pulau Sumatera dari Seputar Indonesia, Kamis 1 Oktober 2009).
Mencari Daerah Ketinggian
Seperti biasa, kawasan Kuranji dan sekitarnya selalu sibuk setelah gempa besar terjadi. Pada gempa hari rabu 30 September 2009, tak kurang dari 30 menit, lalu lintas Jalan By Pass sontak kacau. Tak ada yang peduli masuk lajur mana, semuanya berebut menuju Kumpus Unand atau daerah ketinggian Kuranji lainnya.
Jembatan Kampung Kalawi akibat gempa mengalami surut tanah, hingga landasan jembatan agak amblas beberapa sentimeter.
Warga yang mengetahui kondisi ini berinisiatif untuk melarang kendaraan roda empat melintas, khawatir jembatan ambruk. Banyak rumah warga yang ambruk total dan rusak ringan. Beberapa warga juga ada yang cidera dan segera dilarikan ke RSUD Sungai Sapih dan RS Siti Rahmah. Kantor Polsek Kuranji juga tak luput dan hoyakan gempa, depannya amblas.
Hingga tengah malam, meskipun hujan turun dengan derasnya namun banyak eksodus yang memilih jalan By Pass untuk tempat beristirahat. Ada yang mengambil parkiran di pinggir jalan, kemudian beristirahat, menggelar tikar di emperan kios, dan tentu saja ramai-ramai mengungsi ke masjid atau mushalla yang tak bertingkat.
Di kawasan persimpangan By Pass, Durian Tarung, ribuan mobil pribadi, truk dan sepeda motor tersendat hingga tiga kilo meter. Tidak ada yang bisa jalan, sehingga kawasan itu jadi luapan manusia dan banjir kendaraan. Tidak itu saja. ratusan warga mengungsi di kantor Pengadilan Agama kelas I A Padang, begitu juga kawasan Durian Tarung lainnya juga diburu masyarakat yang datang dan perkotaan.
Jalan Ampang dan kawasan Kalawi juga jadi macet. Di kawasan itu banyak juga rumah penduduk yang ambruk, sehingga isak tangis tak terbendung lagi. Sementara pengendara sepeda motor tak sabaran, mereka semuanya ingin cepat puang. Ada yang terjatuh dari sepeda motor, ada yang menangis karena luka pada kepala, tetapi tidak mereka pedulikan. Mobil saling senggol dan motor juga bertabrakan, tetapi mereka tetap tidak peduli. Setelah mereka  berdiri dengan motornya lalu kabur tanpa memperdulikan kerusakan mobil atau motor yang penting kabur mencari tempat ketinggian dengan keluarga.
Sementara di Komplek Rahaka Permai Lubuk Buaya Padang juga menjadi tempat evakuasi sementara warga sekitar. Tidak sedikit tenda yang didirikan di sana, mereka hanya pasrah, karena tidak bisa melarikan diri, karena ruas jalan itu telah macet total. Kami tidak bisa pergi lagi, untuk apa mengungsi, jika mati akan mati juga, makanya kami mendirikan tenda di komplek ini kata seorang warga.
Suasana mencekam sore itu menyelimuti ratusan warga Komplek Perumahan Lubuk Gading V di Ganting, Wisma Indah V, Wisma lndah 7, Wisma Indah V Pasir Putih, Perumahan Singgalang, Permata Komplek Pondok Citra Lubuk Buaya, Mutiara Putih, Lubuk Gading IV, Padang Sarai dan sejumlah perumahan lainnya di Kecamatan Koto Tangah. Di sana kaum ibu-ibu dan anak-anak menangis histenis.
Sebagian besar eksodus ke kawasan Lubuk Minturun, Air Dingin dan ke dataran yang lebih tinggi. Mereka ada yang menggunakan kendaraan umum dan pribadi, berjalan kaki berkilo-kilo meter mencari jalan alternatif. Ada pula warga yang enggan melepaskan sandanya saat lari terberit-berit.
Pada umunya di komplek perumahan tersebut mengalami rusak berat dan ringan. “baa aka wak li ko pak, rumah ciek konyo, alah hancur pulo. Kama kami kamangadu, “ kata Putra. (Bagaimana pikiran kita pak, rumah satu-satunya sudah hancur pula. Kemana kita akan mengadukan).
Begitu juga di perumahan Taroko Andesa Permai I Gunung Panggilun, puluhan rumah di kawasan itu ambruk. Tidak sedikit orang kehilangan tempat tinggal, sehingga terpaksa tidur beralasan tikar di masjid. “Di sini parah pak, di blok kami ini saja 13 rumah hancur dan tidak bisa ditempati lagi, “ kata Rina, warga komplek perumahan tersebut.
Tidak hanya rumah-rumah penduduk yang hancur dan rata dengan tanah, falisitas umum dan perkantoran baik instansi pemerintah maupun swasta juga ditemukan hancur dan mengalami rusak berat.
Di kawasan JI. Veteran, terdapat gedung Sucofindo ambruk. Laris Manis Furniture rata dengan tanah, mebel Jepara yang diperdagangkan dalam showroom Lanis Manis hancur dan juga dua mobil terhimpit reruntuhan bangunan. Di Jalan Ujung Gurun, showroom Suzuk hancur, tiga unit perkantoran dan ruko luluh lantak, sedangkan kantor BPKP rusak berat.
Sementara itu di kawasan JL. Rasuna Said kantor cabang Jasindo rata dengan tanah, beberapa bagian kantor DPD Partai Golkar Sumbar roboh. Sedangkan di seputaran Jl. Khatib Sulaiman, Kantor Bappeda, Dinas Pengelola Keuangan Daerah, Kantor Kanwil Ditjen Pajak, Dinas Pengelola Sumber Daya Air hancur total, demikian juga gedung LIA. (Singgalang, Jumat 2 Oktober 2009)

2. Fauzi Bahar Mengudara
Selepas maghrib kucoba kembali menghubungi anakku dan keluarga yang lainnya, tetapi tetap tidak nyambung. Hujan mulai turun membasahi bumi pertiwi Kota Padang, seakan memberikan kesejukan bagi orang-orang yang terkena bencana. Di sepanjang jalan By Pass dipenuhi oleh orang-orang yang mengungsi dari rumahnya di dekat pantai.
Radio, menjadi satu-satunya alat komunikasi yang bisa dihandalkan dalam mengakses informasi sejak gempa reda. Radio Republik Indonesia (RRI) Programa I seperti biasa menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka menyampaikan berita terkini sejak gempa mengluluhkan Kota Padang. Setelah sempat terputus lebih kurang satu jam, RRI mengudara bersama penyiarnya Walikota Fauzi Bahar.
“Warga Kota Padang yang tercinta. Saya Fauzi Bahar, Walikota Padang menghimbau kepada warga yang meninggalkan rumah dan telah mengungsi ke tempat ketinggian, jangan terlalu panik. Memang telah terjadi gempa tektonik berkekuatan 7,9 skala richter dengan pusat gempa di Pariaman. Potensi tsunami kecil, karena telah melewati batas kritis. Sudah lebih dari tiga puluh menit. Saya mohon warga diminta keluar rumah, jauhi gedung-gedung tinggi dan tentu saja jangan lupa kita menyebut nama Allah, bersama Asma ul Husna,” begitu Walikota membuka siarannya.
Siaran satu-satunya itu ibarat setetes air di gurun Sahara. Bagaimana tidak, tak satupun warga yang tahu berapa kekuatan gempa, pusatnya dimana dan tentu saja apakah ada tsunami atau tidak. Semuanya panik, berhamburan membungkus pakaian dan harta benda guna diselamatkan ke pengungsian. Beberapa warga yang berada di tengah memacetan lalu lintas beberapa menit setelah hoyakan gempa besar, langsung mengaktifkan Radio di mobil dan yang di perjalanan mengaktifkan ponselnya.
Tidak lama kemudian Walikota Padang didampingi Wakil Walikota Padang Mahyeldi Ansarullah. Fauzi Bahar dan Mahyeldi berbagi tugas kala on air di radio RRI Programa 1.  Mahyeldi, memberi tausiah kepada pemirsa radio RRI.
Dalam siaran RRI kali ini, tak hanya Walikota dan Wakil Walikota saja yang hadir, tapi juga Kakandepag Kota Padang dan sejumlah toko masyarakat juga hadir sebagai penyiar. Ada satu perbedaan siaran kali ini dibanding siaran gempa sebelumnya. Penyiarnya begitu banyak menerima telpon dan pengaduan langsung dari warga kota yang ingin mencari tahu kabar anak, suami, isteri, dan sanak familinya yang lain.
Saking banyaknya telepon yang masuk, RRI membuka posko pengaduan di pintu masuk. Selain radio RRI, hanya ada dua radio swasta yang berhasil mengudara yaitu Sushi 99,1 FM dan Classy 103,4 FM radio Semen Padang di Indarung. (RRI Padang).

3. Dampak dari Gempa
Sehari pascagempa besar, warga Kota Padang dan daerah-daerah yang terkena dampak gempa masih diliputi kepanikan. Warga cemas, jangan-jangan ada gempa besar lagi.
Badan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang mencatat, pasca-gempa berkekuatan 7,9 pada Skala Richter (SR) puku 17.16 WIB, Rabu 30 September 2009 telah terjadi 9 kali gempa susulan hingga puku 16.15 hari Kamis.

“Pusat gempa di sekitar gempa awal. Kekuatannya pun cenderung menurun. Dengan demikian, berarti gempa yang masih terjadi adalah gempa susulan,” kata Kepala Divisi Data Informasi BMKG Padang Panjang, Heru Nurman.
Gempa utama yang meluluhlantakkan Sumatera Barat berkekuatan 7,9 SR berpusat di dasar laut 57 km Barat Daya Pariaman, di kedalaman 71 km. Atau persisnya pada koordinat 0,84 LS-99,67 BT.
Selanjutnya gempa susulan terjadi pukul 17.38 pada hari yang sama dengan kekuatan 7,3 SR. Setelah itu terjadi lagi 8 gempa susulan. “Kekuatan gempa susulan cenderung menurun. Mudah-mudahan terus demikian,” ujar Heru Nurman.
Soal kepanikan warga karena isu tsunami, Heru menyatakan bahwa informasi yang disebar BMKG tidak mencantumkan potensi tsunami. “Kedalaman gempanya 71 km, sementara yang berpotensi tsunami itu bila gempa terjadi pada kedalaman kurang dan 40 km,”jelas Heru.
Ratusan Tewas dan Ratusan Tertimbun
Sehari pascagempa Kota Padang, Pariaman, Padang Pariaman dan Persisir Selatan masih lumpuh. Sekolah, perkuliahan, kantor pemerintahan, dan kantor pelayanan publik, kecuali rumah sakit libur. Aktivitas warga dan pemerintah terfokus pada penyelamatan korban, dan evakuasi.
Pusat-pusat kegiatan ekonomi, seperti pasar, pusat perbelanjaan, pertokoan, banyak yang tutup. Kantor-kantor bank pemerintah dan swasta juga tak buka. Bahkan jaringan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) semua bank di Kota Padang dan daerah yang terkena dampak gempa rusak. Di banyak kawasan di Kota Padang pasokan air bersih PDAM terputus. Listrik juga tak hidup. Alat komunikasi telepon yang masih agak baik digunakan hanya telepon rumah.
Hingga pukul 17.30 wib tanggal 1 Oktober, Posko Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB) Sumbar mencatat telah 419 orang tewas. Korban terbanyak di Kota Padang, 195 orang. Selain itu, ratusan orang masih tertimbun bangunan yang runtuh. Di Padang Pariaman 154 orang tewas, dan di Kota Pariaman 21 orang. Di Pessel, dan di Bukittinggi juga tercatat masing-masing 7 orang tewas. Selain itu, 4 orang lainnya juga dilaporkan tewas di Kota Solok. Agam juga dilaporkan 27 tewas, dan Pasaman Barat 2 orang. Sedangkan daerah lain belum ada laporan. Diperkirakan korban tewas ini akan terus bertambah, karena masih banyak korban tertimbun yang belum dievakuasi.
Selain korban tewas, juga mengakibatkan 87 orang luka berat dan 2.094 luka ringan. Sedangkan bangunan rusak, mencapai 1.710 rumah dengan rincian 740 bangunan rusak berat, 200 rusak sedang dan 710 rusak ringan.
Di Kota Padang, tercatat banyak gedung pemerintah, hotel, bank, rumah sakit, masjid, gereja dan fasilitas umum lainnya yang rusak. Bahkan gedung Perpustakaan Daerah Sumbar, Kantor DPKD Sumbar, Dinas Pendidikan Sumbar, Pengadilan Agama, Kantor Bappeda, serta Pasar Raya Padang luluh lantak.
Sementara itu, korban tewas tertimbun material bangunan satu persatu dievakuasi. Para korban tersebut banyak ditemukan di Hotel Ambacang, gedung bimbingan belajar (Bimbel) GAMA jalan Proklamasi, kantor Suzuki Finance dan Adira Finance di jalan Sawahan, LPBA LIA jalan Jhoni Anwar, serta showroom-showroom mobil.
Di gedung bimbingan belajar (Bimbel) GAMA diperkirakan 62 orang siswa tertimbun, sementara baru ditemukan 32 orang. Di Hotel Ambacang sekitar ratusan orang masih terjebak dalam reruntuhan bangunan. Sebanyak 20 orang telah ditemukan tewas. Di LBPP LIA telah ditemukan 17 siswa tewas. Diperkirakan masih ada puluhan orang tertimbun. Di Suzuki dan Adira Finance diperkirakan sekitar 40 orang tertimbun. Sementara yang baru ditemukan sekitar belasan orang.
Minimnya alat berat dan cuaca yang sempat hujan, menyebabkan evakuasi korban yang tertimbun masih sulit dilakukan Kondisi itu diperparah dengan padamnya aliran listrik.
Tim SAR gabungan, aparat kepolisian dan TNI masih konsentrasi melakukan evakuasi di gedung bimbel GAMA, Suzuki dan Adira Finance Sawahan, LBPP LIA, dan Hotel Ambacang.
Terganggunya jaringan seluler juga menjadi hambatan tersendiri bagi warga untuk menghubungi sanak keluarganya. Beberapa warga masih melaporkan adanya sanak familinya yang belum diketahui nasibnya.
Hanya yang agak membantu penyebaran informasi adalah siaran radio orari dan on air RRI serta beberapa radio swasta. Selain menginformasikan kondisi di sejumlah daerah, warga juga bisa meminta bantuan untuk menginformasikan sanak keluarganya.
Gempa kali ini merupakan yang terparah dampaknya sejak gempa besar tahun 1926 di Padang Panjang, baik kerusakan materil, maupun jumlah korban jiwa. Gempa 1926 yang disebut-sebut sangat besar menimbulkan korban jiwa 354 orang. Waktu itu kerusakan paling parah memang terjadi di Padang Panjang dengan 247 orang tewas, tapi juga dirasakan secara menyeluruh di sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Barat.
Sejarah Gempa di Sumatera Barat
Gempa
Tanggal
Kekuatan
Kerusakan
Sumbar
1-10-1822
-
Di Padang terasa tiga kali guncangan keras
Padang
26-8-1835
-
Kerusakan ringan dan retakan di Padang
Siri Sori
28-6-1926
-
Tsunami di Pantai Siri Sori
Pd. Panjang
28-6-1926
7
Lebih 354 orang meninggal
Singkarak
9-6-1943
7,6
Pergeseran 60 km antara Danau Singkarak dan Danau Diatas
Pasaman
8-3-1977
5,5
Di Sunurut 737 rumah rusak, Talu 245 rusak.
Padang
13-11-1981
5,4
Retakan di Padang dan Painan
Padang
2-7-1991
6,1
 Kerusakan ringan dan dan getaran sampai Singapura
Malalak
25-1-2003
3,3
Rusak sekitar 80 bangunan
Tanahdatar
16-2-2004
5,6
6 tewas, 10 luka-luka, 70 rumah rusak
Pessel
22-2-2004
6
1 tewas, 1 luka berat, 5 luka ringan
Pessel
9-4-2004
5,5
Rumah retak-retak di perbatasan
Mentawai
10-5-2005
6,7
Dirasakan sampai Kualalumpur
Pd. Panjang
6-3-2007
6,2
4 meninggal, 55 orang dirawat
Kep.Enggano
12-9-2007
8,4
21 tewas, gelombang pasang membanjiran 300 rumah
Siberut
16-8-2009
6,9
Puluhan rumah rusak
Pariaman
30-9-2009
7,9
Lebih 1.000 orang tewas
(Padang Ekspres, Jumat 2 Oktober 2009)

4. Tertimbun di Gedung Bertingkat
Tiba-tiba, pengunjung Toko Buku Gramedia, terkejut hebat. Gedung berlantai tiga itu, mendadak berguncang. Buku-buku terjatuh dari raknya. Dari ruang itu, terdengar suara pekikan, langkah berebut menuruni anak tangga, menuju pintu. Setiba di luar, sepeda motor rebah, beberapa orang jatuh, dan duduk di aspal sembari menatap ke gedung-gedung tinggi. Bumi gonjang-ganjing.
Di depan Toko Buku Gramedia, puncak gedung Damar Plaza bergoyang hebat. Beberapa orang terlihat berlari bergegas menuruni tangga. Seorang perempuan, bertubuh bongsor, memegang bahu tangga, dan roboh sebelum ia menyentuh lantai dasar halaman parkir Damar Plaza. Dia pingsan.
Sekitar setengah kilometer dari sana, sekitar ribuan manusia berhamburan ke luar gedung perbelanjaan Plaza Andalas. Besar-kecil, tua-muda, yang hamil, yang masih balita, saling berebutan untuk secepat mungkin menjauh dan mall berlantai empat tersebut. Ada yang terinjak, ada yang tersungkur, tak sedikit yang luka-luka. Barang dagangan yang tercecer ke sana kemari tak satupun yang memungut. Tak berapa lama api memercik dari kabel listrik yang berseliweran. Dengan cepat api merambat. Asap hitam membubung, merambah kelam sore yang sudah kelabu itu.
Bersamaan dengan itu, gedung-gedung berlantai tiga atau lebih ambruk. Tak sedikit yang rata dengan tanah. Kantor pemerintahan, hotel, lembaga pendidikan, showroom, dan rumah warga tak kuat menahan hoyakan yang dahsyat. Kantor Bappeda. Sumbar, Kantor DPKD Sumbar, Kantor Dinas Pendidikan tak berbentuk lagi.
Gedung LBPP LIA di Jalan perempatan Joni Anwar-Khatib Sulaiman rontok. Puluhan siswa yang sedang belajar di gedung berantai lima itu tak sempat lagi berlari menjauh. Mereka tertimbun bersama material. Di Jalan Proklamasi, gedung Lembaga Pendidikan GAMA berlantai tiga runtuh.
Lebih dari 50 anak ada di dalamnya. Di Hotel Ambacang, ratusan manusia belum jelas nasibnya. Mereka para tamu hotel, peserta seminar, dan anak-anak terjebak bersamaan dengan runtuhnya bangunan hotel. Di Sawahan, puluhan rumah toko (ruko) luluh lantak. Puluhan manusia ada di bawah puing- puing ruko tersebut. Di Jalan Sutomo, Showroom Hyunday seorang bapak bersama anaknya terhimpit oleh bangunan yang sudah rata dengan tanah itu.
Kepanikan, pada Rabu sore pukul 17.16 wib yang kelabu itu, bagai menyergap wajah warga Kota Padang. Jalan-jalan serta-merta menjadi; semrawut. Klakson, gas, dan kecepatan yang tertahan karena macet pun menyergap di depan, membuat suasana kian mencekam.
Trotoar-trotoar pun dinaiki sepeda motor. Beberapa kali antaranya saling tabrak. Dan sangat banyak yang berlarian, dengan bayangan ketakutan. Tsunami seakan tengah mengintai di belakang. Di jalan raya sepeda motor yang sedang melaju kencang tiba-tiba semuanya rebah tak tentu arah.
Sementara itu, di Jalan Veteran, seorang laki-laki terpana menatap Gedung Akademi Bahasa Asing Prayoga Padang yang runtuh. Baru setengah jam seorang bapak mengantar tiga orang anaknya untuk latihan karate di lantai lima. Ia Zukri Saad, aktivis dan pengamat sosial dan lingkungan.
 “Saya pasrah, dan tetap menyerahkan semuanya pada Allah,” kata Zukri. Ia hampiri reruntuhan, sembari memanggil nama anaknya.
“Ayah.....,” ada suara dari runtuhan. Zukri memburu sumber suara itu. Ia lihat, anak sulungnya, Jaka, dihimpit beton besar. Ia coba mengangkat, sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, berhasil.
Lalu ia menoleh ke sebelah. Di situ ada dua orang anaknya. Dana dan gadis kecilnya Rindu. Ia coba mengangkat dari reruntuhan yang menimpa.
“Dua anak laki-laki saya patah tutang rusuk dan pinggang, sedangkan putrinya kening dan kepalanya luka tertimpa reruntuhan,” katanya menghela napas, setiba di rumah sakit dr. M Djamil Padang.
Tiba-tiba, dari pesawat radio seorang mahasiswa kedokteran terdengar suara, “Gempa 7,9 SR berpusat di Pariaman, tidak berpotensi tsunami.”
Beberapa orang yang mendengar, sedikit lega. Namun kelegaan itu, menjadi miris ketika pada saat yang bersamaan, seorang perempuan menangis di bak mobil kijang. Ibunya tergeletak sekarat. Darah mengucur deras dari kepalanya. Tak berdaya dia. Orang hanya lewat, tak bisa membantu.
Perempuan yang ibunya sekarat itu, terus menangis. Orang-orang tetap jalan mencari keluarganya, tempat aman atau menuju suatu tempat yang tak pasti. Sementara, di angkasa asap hitam mengepul. Di beberapa titik tengah terjadi kebakaran hebat. 

Di Rumah Sakit M Djamil, selepas Magrib, suara Ambulance terdengar meraung-raung. Seakan mewakili tangis-tangis korban dan keluarganya. Hujan mulai turun. Korban tewas dan luka serta patah tulang berbaur di lapangan parkir RS M Djamil, tepatnya di depan Unit Gawat Darurat.
Seiring malam merambat dalam derai hujan, berita duka lara menyebar ke berbagai penjuru. Puluhan gedung bertingkat dan rumah penduduk runtuh dan rata dengan tanah. Tragisnya, disertai korban tewas, dalam jumlah yang tak sedikit. Di ruas-ruas jalan, terdengar sirine mobil pemadam kebakaran, juga Ambulance yang meraung menembus malam yang gundah dalam bencana.
Bangunan yang Runtuh dan Rata dengan Tanah di Padang
Gedung Kanwil Dirjen Pajak dan Keuangan Jalan Khatib Sulaiman
Gedung Kantor Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Sumbar
Gedung Bank BTN Jalan Khatib Sulaiman
Gedung Indosat Jalan Khatib Sulaiman
Gedung LBPP LIA Jalan Khatib Sulaiman
Gedung Pratama Jalan Jhoni Anwar
Gedung Laris Manis Furniture Jalan Veteran
Gedung Cabang Jasindo Jalan Rasuna Said
Gedung Kantor Bapeda Sumbar Jalan Khatib Sulaiman
Gedung Kantor Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Jalan Khatib Sulaiman
Gedung Dinas Pendidikan Nasional Sumbar
Gedung BII Jalan Sudirman
Kantor Succofindo Jalan Veteran
Showroom Suzuki Jalan Veteran
Dua Ruko di Ujung Gurun
UGD RSUP Dr. M. Djamil Padang
Showroom Daihatsu (Capela) Jalan Hamka
Masjid Ukhuwah Muhammadiyah Simpang Haru
Masjid Astra Dadok Tunggul Hitam
Dealer Suzuki Jalan Agus Salim
STIKES Siteba Jalan Jhoni Anwar
STBA Prayoga
ADIRA Sawahan
Rumah Sakit Selasih
Hotel Ambacang
Hotel Maharani Internasional
Hotel Inna Muara
Hotel Rocky
Ruko di Adinegoro
Bioskop Satria Simpang Kinol
Bangunan Rusak Berat di Padang
Kantor Gubernur
Kantor Kesbang Linmas
Kantor BPKP
Kantor Telkomsel Padang Baru
Kantor PPB Jalan Hamka
Kantor Indosat
Kantor DPRD Sumbar
Gedung Suka Fajar Jalan Khatib Sulaiman
Showroom Nissan Jalan Khatib Sulaiman
Bioskop Presiden
Plaza Andalas Jalan Pemuda
Satu Unit Berlantai Tiga LP3M (tempat kursus Jalan Hamka)
Rumah Makan Sederhana
LP3I Jalan Ratulangi
PTPG
Hotel Dipo di Jalan Diponegoro
Beberapa Gedung di Jalan Hang Tuah
Ratusan rumah (Singgalang, Jumat 2 Oktober 2009)
Gedung Sekolah Rusak Parah di Kota Padang
SMA Negeri 1 Padang
SMA Negeri 3 Padang
SMA Negeri 5 Padang
SMA Negeri 10 Padang
SMA Adabiah
SMA Don Bosco
SMK Muhammadiyah
SMK Negeri 9 Padang (dua orang penjaga sekolah meninggal)
SMP Negeri 1 Padang
SMP Negeri 4 Padang (empat pelajar meninggal)
SMP Negeri 7 Padang
SMP Negeri 25 Padang
SD Negeri 15 Pondok
SD Percobaan Ujung Gurun
SD 24 Lolong

5. Gedung LIA Rata dengan Tanah
Gedung Lembaga Indonesia Amerika (LIA) di pertigaan jalan Khatib Sulaiman Padang rata dengan tanah. Sekejp mata, kemegahan itu lenyap. Di bawah gedung yang ambruk, setidaknya 30 orang terperangkap. Jumlah sesungguhnya tak diketahui.
Gempa pada Rabu sore itu, telah mengubur mereka. Di tempat lain, banyak gedung yang ambruk, orang-orang juga terperangkap. Langit lalu berwarna gelap gulita melengkapi awal hujan lebat. Ratusan ribu orang berdesakan ke arah ketinggian. Sementara di LIA, tangis sayup-sayup terdengar dari celah reruntuhan. Tak tentu apa yang akan digapai, warga sedang pada puncak kepanikan, tak ada pertolongan, tak ada siapa-siapa.
Debu di sekitar gedung LIA diturunkan hujan yang membasahi bumi. Suara rintih tak terdengar lagi. Sebanyak 30 orang yang berada di dalam gedung LIA, tadinya sedang mengikuti kursus Bahasa Inggris. Rabu sore itu, adalah sore nan jingga, seperti juga sore sebelumnya. Tapi, nestapa datang teramat cepat, mencabik-cabik hari-hari nan damai.
Gedung LIA yang remuk, kini ditonton ratusan orang, sebagian besar orangtua, saudara, sahabat dan mereka yang terjebak di dalam reruntuhan. Tangis pun pecah, bersambung-sambung. Tapi tak bisa melakukan apa-apa.
Malam kian larut, hujan kian lebat. Kota Padang sudah bagai kota mati, tapi penuh sesak di pinggir kota. Gedung LIA kedinginan sendirian. Kamis dinihari tiga orang bisa dikeluarkan, satu tewas. Selebihnya belum diketahui, apa memang terjebak atau bisa menyelamatkan diri.
Rumah Sakit M Djamil Padang bagai ladang kesedihan. Di mana-mana orang merintih. Rumah Sakit Selasih, tak bisa memberikan pelayanan karena gedung rumah sakit itu juga ambruk.
Anakku di mana
Kamis dinihari, jalan By Pass Padang bagai arena parkir sepanjang 22 Km. Mobil macet total, tak bisa bergerak. Hanya motor dan pejalanan kaki yang bisa beringsut. Di mana-mana kendaraan kehabisan bensin. Tak ada yang menjualnya. Kedai kehabisan mie instan, kehabisan rokok, kehabisan air isi ulang.
Gulita menjadi payung raksasa kota berpenduduk 900 ribu jiwa itu. Padang tak ada listrik, tak ada jaringan telepon seluler, Hanya XL yang berdering, itu pun tak banyak yang memakai.
Kabar dari saudara adalah obat yang paling mujarab. Kabar itu yang tak ada. “Anakku di mana?” seorang ibu yang lesu berusaha menanyakan anaknya kepada orang-orang yang jumpai. Memang Kamis malam, Walikota Padang, Fauzi Bahar selama berjam-jam di RRI Padang meminta agar, anak-anak yang sedang bingung dan ketakutan untuk datang saja ke RRI. Tapi dalam gebalau ratusan ribu orang yang panik, kemana seseorang harus dicari?
Pagi, sesudah pukul 07.00 wib seorang anak berpakaian sekolah terlihat pulang dengan wajah lesu. “Rani,” katanya ketika ditanya namanya. Ia hendak pulang ke rumahnya di Kuranji, kawasan yang aman tsunami di Padang. Semalam, ia berteduh entah di rumah siapa di kawasan Gunung Pangilun, sebuah pebukitan menjelang pinggir kota.
Padang seperti kota yang baru saja dikalahkan jenderal yang serakah. Retak di mana-mana, ambruk di mana-mana. Sirine meraung panjang, memilin rasa sedih di hati setiap orang. Sirine membawa mayat dari reruntuhan.
Sampai Kamis sore, di puluhan titik, evakuasi masih dilakukan dan entah kapan akan selesai. Padang yang parah, Padang Pariaman yang parah, Pesisir Selatan yang parah, adalah duka lara anak negeri Minangkabau. (Singgalang, Jumat 2 Oktober 2009)

6.        Presiden RI Sosilo Bambang Yudhoyono:
Tuntaskan Segera Masalah Listrik
Bencana gempa di Sumatera Barat mendapat perhatian khusus dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bersama rombongan, para menteri dan setingkat menteri, Presiden meninjau beberapa bangunan yang runtuh di Kota Padang. SBY menginstruksikan agar dalam pencarian korban mengutamakan kehati-hatian. Tentang masalah kebutuhan penerangan (listrik), air bersih, BBM, dan telekomunikasi, Presiden meminta pejabat dan instansi berwenang menuntaskan secepatnya.
Dalam kesempatan itu, SBY meminta Pemerintah Provinsi Sumbar untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada korban luka. Presiden meminta Dirut PLN memberikan solusi untuk aliran listrik dengan memberi tambahan genset agar aktivitas masyarakat tidak terganggu terlalu lama akibat putusnya aliran listrik.
“Soal listrik perlu disegerakan. Kapan perlu Dirut PLN segera turun ke lapangan untuk penuntasannya. Soal BBM, pihak terkait harus menindaklanjuti agar jangan sampai terjadi kepanikan warga. Begitu juga air bersih, telekomunikasi, dan jalan yang rusak. Jangan sampai mobilisasi dan distribusi bantuan terkendala,” ungkap Presiden usai mendengarkan ekspos Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi dan Wali Kota Padang Fauzi Bahar, di Gubernuran.
Presiden SBY tiba di Padang sekitar pukul 14.00 wib. Ia didampingi Ani Yudhoyono, dan bersama rombongan, di antaranya Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Kapolri Bambang Hendarso Danuri, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri PU Djoko Kirmanto, dan Menkominfo M. Nuh. Malam harinya Presiden dan rombongan menginap di Wisma Indarung Semen Padang.
Dalam penanganan pascagempa dan tindakan tanggap darurat, Presiden berharap, pihak terkait bersinergi. Presiden menyerahkan komando tanggap darurat kepada Gubernur, dan berkoordinasi penuh dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Presiden menghimbau seluruh Bupati dan Walikota di Sumatera Barat untuk menenangkan warganya.
SBY mengharapkan masyarakat dan pemerintahnya tidak berputus asa menghadapi bencana. Pada kesempatan itu Presiden sempat mengoreksi kekuatan gempa. Menurut SBY gempa besar tersebut bukan 7,6 Skala Richter, tapi 7,9 Skala Richter.
Utamakan Penyelamatan
Mendengar penjelasan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi soal masih banyaknya korban yang tertimbun SBY menginstruksikan agar mengutamakan penyelamatan dan evakuasi korban.
“Kapan perlu pencarian korban dilakukan hingga 10 hari atau dua minggu ke depan sambil mengevakuasi yang meninggal. Jangan sampai ada korban yang selamat, tapi karena gegabah malah memperparah korban,” ingat kata SBY.
Dalam keadaan darurat, SBY mengharapkan masyarakat tidak panik. Apalagi pemimpin. Sebab, dalam kondisi demikian, masyarakat perlu pemimpin yang mampu mengayomi dan mengarahkan masyarakatnya hingga kondisi normal kembali.
Khusus Panglima TNI Jenderal Djoko Susanto dan Kapolri Bambang Hendarso Danuri diinstruksikan SBY agar mengkoordinasikan jajarannya di lapangan bahu-membahu, bersinergi dengan instansi terkait lainnya.
Soal bantuan, Presiden mengharapkan jangan terjadi kisruh seperti yang terjadi di Aceh dan Yogyakarta. Begitu pula masalah bantuan dan sumbangan, ia mengharapkan, didistribusikan dengan baik. Untuk bencana gempa Sumbar, kata SBY, pemerintah menganggarkan sekitar Rp 100 miliar sebagai dana tanggap darurat.
“Bantuan pusat, provinsi lain atau luar negeri hendaknya bisa tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang menjadi korban gempa,” pinta SBY.
Di tempat yang sama, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi menyampaikan tak kurang dari 390 jiwa melayang akibat gempa. Sekitar 87 orang mengalami luka berat dan 2.094 orang mengalami luka ringan.
Ratusan orang masih terjebak dalam reruntuhan bangunan di Kota Padang, Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman. Guncangan gempa mengakibatkan 1.710 bangunan mengalami kerusakan. Gubernur juga menyampaikan, sejumlah korban selamat dan meninggal masih terkurung dan tertimbun di reruntuhan bangunan.
Walikota Padang Fauzi Bahar meminta segenap instansi terkait maupun pihak lain yang berada di luar Sumbar untuk memberikan bantuan berupa alat berat.
Fauzi juga berharap do’a perantau, agar musibah gempa jangan terulang lagi di masa mendatang di Padang.
Selain itu, sejumlah kebutuhan pokok dan energi masih krisis. Soal distribusi, kondisi jalan dan mobilisasi yang tidak terarah menyebabkan pendistribusian lambat. Kota Padang bagaikan hutan kota yang gelap gulita, karena aliran listrik masih terputus.
Dari Kabupaten Solok setidaknya 40 unit rumah masyarakat luluh lantak akibat gempa. Gedung Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Solok juga hancur lebur.
Di Bukittinggi 180 bangunan rusak berat, rusak ringan 50 unit. Padang Pariaman rusak berat 156 dan rusak ringan 60 unit. Pesisir Selatan rusak berat 10 dan rusak ringan 50 unit.
Kepala Daerah Jangan Tidur
Setelah meninjau korban gempa di Padang, kemarin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara dan beberapa menteri menuju ke Pariaman melihat pelaksanaan tanggap darurat pascagempa. Dalam kunjungan itu, Presiden meminta kepala daerah tidak tidur dan memerintahkan langsung terjun ke lapangan.
“Memang kurang tidur karena berkeliling terus. Tapi harus dilakukan supaya rakyatnya tenang,” kata Presiden SBY. Saat berdialog dengan ratusan pengungsi di tenda-tenda darurat, di halaman Balai Kota Pariaman.
Kepala daerah jangan sampai kurang cepat dan kurang sigap melaksanakan tanggap darurat, karena sibuk menghitung berapa kurangnya, berapa miliar kerugian. “Itu urusan nanti. Selamatkan dulu jiwa rakyat. Nanti dihitung, baru dialokasikan anggarannya,” kata SBY.
Presiden meminta warga jangan mendatangi dulu mal-mal, rumah, toko dan sekolah-sekolah dahulu.
“Ini termasuk kegiatan tanggap darurat, mencegah terjadinya gempa korban jiwa. Karena di mana pun ada gempa susulan, walaupun tidak sekuat gempa utama. Tapi karena sudah retak sebelumnya, bangunan itu bisa runtuh walau gempa kecil,” jelas Presiden.
Saat berdialog, presiden mendapatkan laporan mengenai pelaksanaan tanggap darurat dari Bupati Padang Pariaman, Muslim Kasim. Dilaporkan, korban jiwa di Padang Pariaman 207 meninggal, sedang di Pariaman 29 jiwa. Korban dirawat 336, sementara yang masih tertimbun diperkirakan 282 jiwa. Jumlah rumah penduduk dan perkantoran yang rusak tercatat 13.750.
SBY juga memerintahkan jajarannya segera mengeluarkan aturan persyaratan warga yang ingin mendirikan bangunan bertingkat. Bagi pendiri bangunan yang sudah memenuhi termasuk kegiatan tanggap darurat, mencegah korban jiwa. Karena di mana pun, setelah ada gempa biasanya ada gempa susulan, walaupun tidak sekuat gempa. Tapi karena sudah retak tapi, harus mengacu pada persyaratan yang benar. Kita harus makin keras, tapi jangan ada kong kaling-kong. Siapa yang mau bikin bangunan jangan langsung diizinkan saja, tapi harus diperhatikan (apakah) persyaratan-persyaratan sudah dipenuhi atau belum. Bila bangunannya tidak kuat, bisa mengorbankan rakyat. Itu jangan sampai terjadi,” cetusnya.
“Bayangkan kalau bangunan-bangunan mal dan pusat perbelanjaan tidak kuat, saat terkena gempa, wah, bisa rontok seperti yang terjadi di Sumbar. Di sana banyak anak-anak dan saudara-saudara kita. Oleh karena itu, nantinya dengan sertifikat persyaratan mendirikan bangunan bertingkat, (kekokohan) gedung bisa dipertanggungjawabkan. Kita berusaha keras menyelamatan saudara-saudara kita. Ini harus menjadi perhatian serius,” katanya lagi.
Kunjungi RSUP Dr. M. Djamil
Sebelum menuju Pariaman, presiden dan rombongan meninjau RSUP M Djamil Padang. Kendati hancur, rumah sakit terbesar di Sumbar itu tetap beroperasi dengan mendirikan tenda-tenda di halaman rumah sakit tersebut. Sedikitnya, ada 15 tenda darurat didirikan, terdiri tenda operasi dan penanganan korban gempa. Presiden SBY terlihat tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat meninjau pasien yang terbaring luka-luka.
“Sabar ya Bu, kita akan tangani ini sebaik mungkin. Kami berdoa agar lekas sembuh,” ujar SBY. Dalam kesempatan itu SBY juga memberikan pengarahan langsung kepada Menkes Siti Fadillah Supari, Mensesneg Hatta Radjasa, Mensos Bachtiar Chamsyah, Mendagri Mardiyanto, dan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi.

7. Papa, Kami Masih Hidup
Suasana pilu mewarnai proses evakuasi korban yang tertimbun reruntuhan bangunan bertingkat di Jalan Sawahan Padang. Di tengah kepanikan dan kerisauan, warga terus berusaha sekuat tenaga menyelamatkan orang yang ada di reruntuhan.
Deretan ruko bertingkat di jalan utama pusat kota dekat Kantor DPRD Padang sebagian besarnya ambruk diguncang gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter. Warga yang melintas di kawasan strategis jalur utama evakuasi Sawahan saat itu memperkirakan orang yang tertimbun di reruntuhan sudah tewas. Pasalnya, bangunan kondisinya sudah rata dengan tanah. Gedung yang sebelumnya tiga lantai sekarang hanya menyisakan satu lantai.
Sekitar pukul 21.00 wib, dari samping bangunan Adira Finance yang rubuh di Sawahan, seorang satpam menginformasikan ada sekitar 30 orang terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Kondisi mereka ketika itu belum dapat dipastikan. Apakah tewas atau masih ada yang masih bertahan hidup.
“Coba pergi ke samping sini, sebab ada bokong cewek terlihat dan belum bisa di keluarkan dari runtuhan bangunan,” kata satpam berseragam itu sambil menunjuk ke arah samping gedung.
Di lokasi, memang melihat bokong wanita terlihat dari sela runtuhan bangunan. Kaki, tangan serta kepala wanita itu tertimbun. Dan samping bokong cewek yang sudah tewas itu ada lubang berukuran pipa delapan inchi. Melalui lubang inilah kemudian diketahui kalau ada tiga orang yang selamat di bawah runtuhan bangunan itu. Namun apa daya, semua orang yang mendengar tangisan dari dalam lobang itu tidak bisa berbuat banyak. Mereka panik dan kebingungan, memikirkan cara untuk mengeluarkan mereka yang terjebak dalam runtuhan itu.
“Siapa yang di dalam, tolong sebutkan namanya. Apa ada yang masih hidup,” teriak seorang laki-laki paruh baya dalam samar-samar cahaya lampu senter di tangannya.
“Ini Tari, Lidia, dan Wanda. Kami masih hidup. Kami haus, tolong berikan air minum,” jawabnya.
Mendengar jawaban dari dalam reruntuhan, laki-laki paruh baya itu langsung menjerit. Sebab memang ketiga nama itulah yang sedang dicarinya. Dua di antara korban tertimbun yang diperkirakan kesemuanya berusia 13 tahun itulah merupakan anaknya. Sedangkan seorang lagi, sepupunya.
Meski begitu dia terlihat semakin bingung dan cemas, memikirkan nasib buah hati dan familinya itu. Lambannya proses evakuasi tentu saja mempertaruhkan nyawa mereka, sebab ketiganya terjebak dalam reruntuhan bangunan telah lebih dari 24jam, tanpa makan dan minum.
“Ini Papa Nak, setengah jam lagi masih tahankan. Papa masih berusaha mengeluarkan Adek. Jangan menangis dan bergerak,” ujarnya terus memberi motivasi untuk bertahan hidup.
Dia kemudian berusaha memasukkan tiga botol air mineral untuk anaknya dari sela-sela lubang. Hanya itulah salah satu cara saat itu untuk menyelamatkan nyawa ketiganya. Selanjutnya lelaki itu menyuruh beberapa orang yang dikenalnya mencari alat berat untuk mengeluarkan anaknya secepat mungkin.
Dua pria berbadan sedikit kekar terus berusaha memperbesar lubang seukuran kepala orang dewasa di puing gedung itu. Dengan harapan, jika lubang itu semakin besar bisa mengeluarkan ketiga anak yang terjebak tersebut.
“Cepat pergilah cari alat berat. Mereka masih hidup dan harus segera dikeluarkan. Sudah puluhan jam anak-anak ini terkubur dalam runtuhan bangunan,” tukas seorang pria dengan tubuh tergopoh-gopoh keletihan karena mengangkat puing reruntuhan.
Akhirnya dua sepeda motor pergi mencari alat bodem (martil besar) di tengah lautan manusia yang terjebak kemacetan. Semua orang yang menyaksikan kejadian ini tak bisa menyembunyikan kesedihan. Sebagian di antananya terus berzikir, mendengar suara ketiga bocah yang masih bisa diajak berbicara itu.
“Papa jangan pergi ya. Tunggu Adek di atas sampai keluar. Adek takut, di sini gelap. Cepat keluarkan Adek ya Papa,” harap Tari sambil terus menangis ketakutan berharap segera dikeluarkan.
Sekitar pukul 23.00 wib, ketiga bocah ini akhirnya bisa dikeluarkan dengan bantuan dua orang bodigot yang bekerja keras membongkar lubang sehingga lebih besar. Tangan dari dalam lubang mulai terlihat dan perlahan-lahan ditarik. Satu demi satu mereka dikeluarkan. Meski lubang yang terbatas itu terlihat masih sulit dilalui anak-anak itu.
Alhamdulillah. Anakku masih hidup. Maafkan Papa ya Nak, Adek masih selamat,” peluk sang ayah dengan erat sambil menangis tersedu-sedu.
Tiga anak yang terlihat lemah dengan wajah pucat itu langsung dievakuasi dengan mobil ambulan yang telah siaga di lokasi untuk mendapatkan pertolongan medis.
Bocor Oli, Alat Berat Sempat Rusak
Tenaga relawan penanggulangan bencana terus berdatangan dari berbagai daerah di Tanah Air dan Negera lain. Mereka umumnya tenaga profesional dalam menghadapi berbagai bencana.
Para relawan menfokuskan percarian terhadap korban yang tertimbun reruntuhan gedung-gedung perkantoran.
Seperti di gedung Adira Finance Padang. Dari 24 karyawannya yang tertimbun, tujuh di antaranya selamat. lima orang lagi dalam pencarian. Lima korban itu antara lain Dwinarni 24 tahun, Ivo Kahairanis 24 tahun, Anisa 24 tahun, Yohana Nofita 24 tahun, serta Rajif Nofaldi. Seorang lagi Muhammad Riska 32 tahun, jasadnya berhasil ditemukan sekitar pukul 13.30 wib.
Tim evakuasi harus ekstra hari-hati melakukan evakuasi agar gedung tidak runtuh. Minimnya peralatan, membuat proses evakuasi terkendala. “Sampai hari ini saja, alat yang telah kita pergunakan selama beberapa hari ini mengalami kebocoran oli, tapi masih kita paksakan untuk bekerja,” ujar Edi, koordinator alat berat kemarin.
Dua jenazah terakhir yang dievakuasi berjenis kelamin perempuan dan laki-laki. Jenazah 1aki-aki terlihat mengenakan cincin serupa cincin pernikahan. Mereka ditemukan di bawah tangga lantai dua hangunan dengan posisi tertelungkup dengan bagian kepala terhimpit beton bangunan, Sementara kaki dan tangannya tertekuk. Mereka ditemukan berdempet, sehingga saat proses evakuasi hanya dibutuhkan satu kantong jenazah saja.
Proses evakuasi tergolong sulit karena memakan waktu hampir lima jam, dikerahkan untuk mempermudah evakuasi. Tim medis dan keamanan pun sudah mengenakan masker, sebab bau mayat semakin menyengat. Wajar saja, para korban sudah terperangkat selama kurang lebih 72 jam.
LBA-LIA
Proses evakuasi korban pada bangunan LBA-LLA Khatib Sulaiman tanggal 2 Oktober, membuahkan hasil. Menurut Koordinator Lapangan proses evakuasi LBA-LIA Asyraf Aziz, hingga kemarin sudah 19 orang dievakuasi.
“Korban yang sudah dievakuasi umumnya ditemukan di tangga. Jadi kami fokuskan mencari korban pada tangga-tangga bangunan, yang jumlahnya ada tiga unit,” tandasnya.
Ruko di Lapai
Sementara itu, proses evakuasi pada bangunan ruko di Jalan Jhoni Anwar, dihentikan. Padahal, sehari sebelumnya, masih terdengar teriakan minta tolong dari dalam bangunan. “Setelah dicari hingga tengah malam kemarin, hasilnya nihil. Diprediksi ada sekitar lima korban yang terperangkap,” ujar salah seorang warga Setempat.
Proses evakuasi korban di sejumlah tempat itu menyedot perhatian warga. Warga menumpuk di lokasi tanpa memberikan bantuan, hanya sekadar menonton. (Padang Ekspres, Jumat 2 Oktober 2009)

8. Tolong....., Lalu Senyap
Tolong, lalu senyap. Suara itu terkubur sudah di puing-puing bangunan. Sampai Jumat sore, sudah lebih dari 48 jam berlalu, tapi masih banyak bangunan runtuh belum disentuh. Di sana, pekikkan minta tolong dibiarkan senyap. Lalu lenyap. Banyak warga Kota Padang, seperti orang-orang yang berdarmawisata. Melihat-lihat, lalu (cigin) pergi ke rumahnya.
Sementara itu, sedikit lainnya, lupa makan, lupa anak, lupa bini, karena bekerja siang malam membantu korban bencana. Mereka bekerja bersama tim relawan yang datang dengan penuh semangat dari seberang lautan.
Pekikan minta tolong terdengar di gedung-gedung runtuh di Padang, beberapa saat setelah gempa. Suara lengking remaja putri yang kian lama kian melemah. Sejak Rabu mereka terhimpit dalam reruntuhan. Kamis pagi, suara itu tak terdengar lagi.
Ini terjadi di sebuah tempat kursus LBB Sony Suggema Collage, Bandung Cabang Padang di Jalan Veteran No 63. Warga sekitar sudah tiga kali melaporkan pada aparat, tapi belum ada yang datang memberikan pertolongan.
Petugas, Tim SAR, TNI, Polri sudah bekerja maksimal, namun baru pada satu titik, sementara titik lain masih belum tersentuh. Semua seperti berkumpul di Ambacang Plaza. Sementara anak-anak yang tadi menjerit, kini entah tewas, entah bagaimana. Belum ada tim yang datang menolong.
Sementara berjarak 6 meter di depan gedung itu, membujur jalan paling sibuk di Kota Padang. Orang-orang bersileweran, memfoto, membawa mobil kesayangannya dengan anak-anak manis di atasnya. Di dalam tempat kursus itu, diperkirakan tertimbun sekitar 40 orang. Nestapanya mereka di bawah beton yang marah. Menurut saksi mata, banyak anak-anak terjebak di dalam gedung tersebut. Tapi, belum satupun yang bisa dievakuasi.
RS Selasih Tersungkur
Rumah Sakit Selasih di Jl. Khatib Sulaiman sudah tersungkur. Di sana hanya ada satpam. Di dalam gedung puluhan orang terjebak. Mereka pasien, pengunjung dan paramedis.
Kemudian jejeran rumah toko (ruko) di depan Masjid Nurul Iman, pada hari Jumat tak ada evakuasi sama-sekali. Dihentikan sementara karena tim berkosentrasi di Hotel Ambacang. Alasannya, di Ambacang banyak orang terjebak dan alat berat kurang.
Di LIA Khatib Sulaiman, evakuasi masih terus dilakukan hingga Jumat sore. Entah berapa orang yang terkubur di dalamnya.
Seputaran Marapalam ada beberapa ruko yang hancur, di dalamnya diduga ada yang terjebak beberapa orang. Kematian seperti membentang panjang di Padang Kota Tercinta, Kujaga dan Kubela ini.
Di Quantum Jalan Pemuda Padang, Jumat dinihari masih terdengar suara dari reruntuhan. Tapi Jumat pagi, suara itu sudah senyap. Quantun adalah tempat les.
Di jejeran toko depan Raya Teater, setidaknya ada dua orang yang masih belum terevakuasi. Tak ada orang yang memberitahu. Para pedagang tetap saja berdagang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pembeli juga demikian itu, terkurung lebih dan 50 jam tanpa ada yang hirau.
Di Jalan Hamka, dekat Polsek Padang Utara, sejak Kamis sampai Jumat masih berlangsung evakuasi. Petugas kesulitan karena bongkahan-bongkahan beton. Laris Manis Furniture di Jalan Veteran, dilakukan evakuasi secara manual seadanya. Belum diketahui, apakah ada korban di dalam atau tidak.
Gedung Bappeda Sumbar, Ditjen Pajak, DPKD belum disentuh sama-sekali. Hal yang sama juga terlihat di PSDA Sumbar. Juga dua perkantoran di Jalan Ujung Gurun. Utama Service di Lolong juga belum tersentuh, serta sejumlah tempat service dan showroom lainnya di Padang, belum tersentuh.
Gedung itu dibiarkan terhenyak begitu saja. Apakah orang ada di dalam atau tidak, tak ada yang peduli. Yang lalu malang melambatkan kendaraannya, memandang sekejap, memfoto lalu pergi. Padahal beberapa jam lalu di sana, suara minta tolong sayup-sayup terdengar.
Tangis yang padam. Senyap, tertelan oleh ketiadaan orang tertelan oleh kesibukan. Pada satu titik berkumpul para penolong, pada titik lain, seolah terabaikan. (Singgalang, Sabtu 3 Oktober 2009)

9. Mereka Saling Berpelukan
Tangis lelaki itu pecah. Ia dari tadi mencoba menahannya. Namun, kepastian tambatan hatinya sebagai salah satu korban gempa terbukti sudah.
 “Itu urang rumahnyo mah,” (Itu isterinya) ujar seorang aparat berseragam menimpali.
Belum lepas mantel hujan dan helm dari kepalanya. Lelaki yang berusia sekitar 25 tahun itu tadi sibuk menyaksikan evakuasi korban gempa di Bimbel Gama Jl. Proklamasi No.60 A-B Padang. Belasan nyawa melayang di sana.
Setiap lima menit, mobil ambulance keluar dari area evakuasi yang dipadati ribuan warga sepanjang Kamis 1 Oktober 2009. Setiap jenazah keluar dari reruntuhan, aparat melalui pengeras suara menginstruksikan pihak keluarga korban untuk mencari tahu sanak keluarganya. Ini untuk mengantisipasi traumatik yang dialami keluarga korban yang justru akan mengganggu evakuasi.
Pada waktu kunjungan Presiden SBY di Bimbel Gama mengatakan, “Pemerintah melalui Gubernur, Walikota, TNI, Polri dan instansi terkait akan menjalankan pemerintahan dan melakukan evakuasi sebaik-baiknya terhadap saudara-saudara kita dan anak-anak pelajar yang terhimpit di reruntuhan bangunan. Kita berdo’a kepada Allah SWT semoga kita diberi kemudahan dalam melaksanakan evakuasi ini.”
Sekitar pukul 12.30 wib, jenazah pertama sepanjang siang itu berhasil dievakuasi. Menurut aparat di lokasi, itu jenazah ketiga setelah sebelumnya sepanjang subuh ditemukan dua jenazah lainnya.
Tepat pukul dua siang, tim evakuasi yang terdiri dan SAR, TNI, POLRI dan PMI menemukan titik korban di gedung Bimbel tiga lantai yang rata dengan tanah itu. Ada belasan jenazah yang menumpuk di lokasi yang sama. Mereka saling berpelukan.
Posisi korban yang bertumpukkan cukup menyulitkan aparat untuk melakukan evakuasi. Sejak pukul dua siang, aparat setiap sepuluh detik mengevakuasi jenazah dari tempat itu.
Di antara korban ada yang masih memakai seragam abu-abu, salah satu jenazah memakai seragam kerja yang dipastikan staf pengajar di Bimbel tersebut.
Ada tangis yang pecah di lokasi evakuasi. Anggota keluarga korban di antaranya tetap bersikeras melihat lokasi evakuasi. Belasan ambulance silih berganti mengevakuasi jenazah. Aparat sendiri menggunakan dua alat berat untuk membuat celah untuk menemukan jenazah.
Ribuan warga ikut menyaksikan proses evakuasi di Bimbel Gama ini. Kondisi ini cukup menyulitkan aparat untuk menertibkan pengunjung yang memasuki area evakuasi. Aparat terpaksa menutup jalan dari arah Proklamasi dan Jl. Bagindo Aziz Chan.
Evakuasi terus berlangsung sepanjang Kamis. Sejak pukul 12.30, setidaknya belasan jenazah dievakuasi dari gedung Gama yang runtuh. Tragisnya, jenazah berada pada lokasi yang sama, mereka saling berdekatan, saling merangkul, saling berpelukan. (Singgalang, Jumat 2 Oktober 2009)
32 Siswa GAMA Tewas
Proses evakuasi korban gempa yang terjebak di reruntuhan gedung Gama, Jl. Proklamasi, Tarandam, Padang berakhir. Seluruh korban telah berhasil dievakuasi.
Menurut data kepolisian, jumlah korban yang tertimbun bangunan di lembaga pendidikan itu sebanyak 45 orang. Tim SAR bersama warga tidak menemukan korban di dalam reruntuhan bangunan. Dengan demikian, diperkirakan tidak ada lagi korban yang terhimpit dalam bangunan.
Di antara 45 siswa yang terjebak di dalam reruntuhan gedung berlantai tiga ini, 13 orang bisa diselamatkan dalam keadaan hidup. Petugas bersama warga bahu membahu mencari korban dengan membongkar puing-puing bangunan secara manual.
Bripda Wahyu Andika, anggota Poltabes Padang, yang melakukan tindak penyelamatan usai gempa, mendengar jeritan korban minta tolong di dalam reruntuhan gedung. Bangunan lantai 3 setinggi lebih 10 meter itu, rata dengan tanah.
13 Korban Berhasil Diselamatkan
Mulai pukul 18.30 wib, Wahyu Andika bersama 6 warga, 2 wartawan, 2 keluarga korban menerobos lantai dua bangunan yang roboh. Dengan cara merayap, relawan itu menemukan para siswa Gama terhimpit material bangunan. Dengan alat seadanya, warga berusaha menyelamatkan korban dengan alat seadanya. Minimnya aparat TNI, Polri dan petugas terlatih lainnya, karena terkonsentrasi melakukan evakuasi korban di Hotel Ambacang dan Pondok.
Suasana begitu menegangkan. Oksigen di dalam ruangan yang runtuh tersebut sangat sedikit. Warga bersama keluarga korban, tetap berupaya menembus ke dalam bangunan.
“Haus..... haus. Capeklah Uda, minta air minum,” kata korban yang terhimpit.
Rasa haru, pilu, sedih dan panik, bercampur aduk mendengar penderitaan para korban. Para korban semuanya siswa SMP. “Rata-rata mereka terhimpit kakinya oleh reruntuhan.gedung,” ungkap Wahyu.
Menurutnya, evakuasi di lantai 2, siswa yang terhimpit kakinya selamat. Namun yang terhimpit pada bagian atas tubuh, meninggal.
Siswa yang pertama kali dievakuasi selamat. Hingga pukul 2.30 wib Kamis dinihari, di antara 19 korban yang berhasil dievakusi, 13 siswa selamat, 2 meninggal di perjalanan, 4 siswa meninggal di tempat.
Evakuasi selanjutnya, mulai 2.30 wib dilakukan 7 personel Poltabes hingga waktu Subuh saat datangnya bantuan TNI.
Hari pertama pascagempa, aparat TNI, PMI mulai bekerja dengan bantuan escavator menembus lautan bangunan menuju lantai satu yang kokoh. “Saya sedih sejak pagi itu (hari pertama usai gempa) 26 siswa yang diangkat dari lokasi sudah tidak bernyawa lagi.
“Jika evakuasi berjalan cepat oleh pihak profesional, kemungkinan makin banyak yang selamat,“ katanya.
Roihan, relawan PMI Kota Padang, ia tiba di lokasi pukul 10.00 wib pagi hari. Evakuasi pertama siswa ini baru terlaksana pukul 11.00 wib. 26 siswa dan guru yang terjebak di lantai satu ini tidak ada satupun yang selamat. “Kondisi tubuh siswa ini saling berhimpitan,” ujarnya.

Daftar nama korban meninggal di Bimbingan Belajar GAMA Jl. Proklamasi No. 60 C Terandam Padang adalah :
1. Destalina, S.Si            (Guru)             12. Jursriyani               (Siswa)
2. Alfioza A                   (Siswa)            13. Khairannisa           (Siswa)
3. Angga Aldino            (Siswa)            14. Kharisma Maharani (Siswa)
4. Annisa Pertiwi           (Siswa)            15. Lestrika Heidina   (Siswa)
5. Audita Utami Ningtyas (Siswa)         16. Nindy Suci R        (Siswa)
6. Desi Monica               (Siswa)          17. Putri Wulandari     (Siswa)
7. Dewi Sartika              (Siswa)          18. Sukmatri Ananda  (Siswa)
8. Dilla Yolanda             (Siswa)          19. Taufik Hidayat      (Siswa)
9. Fadhillah Nurul Putri (Siswa)            20. Fitria Amanda       (Siswa)
10. Goffi Pratama Sugito (Siswa)         21. Fadil Muhammad  (Siswa)
11. Intan Permata Sari   (Siswa)           22. Wynna Agustia     (Siswa)
Data nama korban siswa Gama (Padang Ekspres, Senin 12 Oktober 2009)

10. 17 Jam Tidur dalam Pecahan Beton
Langit di atas Kota Padang terlihat cerah dengan panas menyengat, membakar wajah setiap pengguna jalan. Angin sepoi-sepoi membelai setiap pengunjung di Pantai Padang. Tidak ada tanda akan terjadi petaka seperti yang dirasakan saat itu.
Selasa pagi yang dingin, Friska Yulianita 22 tahun, berpamitan kepada ayahnya untuk pergi ke Kota Padang. Tujuannya untuk mengikuti pelatihan dari Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kabupaten Pesisir Selatan, keluarga sendiri tidak merasakan keganjilan melepas kepergian Friska.
Sesuai jadwal acara, Rabu pagi, Friska mulai masuk ke Hotel Ambacang untuk mengikuti pelatihan kelautan. Acara demi acara saat itu berlangsung khidmat. Suasana canda dalam hotel sangat menyenangkan. Setelah istirahat shalat ashar, penuh riuh tawa. Namun satu jam berlalu, canda dan riuh tawa peserta berubah tangisan dan histeris.
Gempa mengguncang bumi pertiwi. Suasana bubar dan tak menentu. Setiap pintu keluar hotel penuh sesak dan ratusan orang yang ingin menyelamatkan diri. Dalam sekejap, Hotel Ambacang ambruk bersama ratusan orang.
Friska, seorang gadis asal Surantih ini, akhirnya terjebak dalam reruntuhan bangunan di lantai II. Semua terasa gelap seketika ketika pecahan beton bangunan menimpa sekujur tubuhnya. Rasa sakit tidak dirasakan ketika pecahan beton dengan bobot ratusan kilogram menimpanya.
“Setelah tertimpa pecahan beton mungkin saya langsung pingsan. Beberapa jam kemudian mulai sadar, namun semua gelap. Seluruh badan tidak bisa digerakkan, sedangkan mulut tak sanggup berbicara,” jelasnya di bawah tenda perawatan RSUP Dr. M. Djamil sambil menangis kesakitan.
Berdasarkan hasil evakuasi, Friska dapat dikeluarkan dari runtuhan bangunan sekitar pukul 12.00 wib, Kamis 1 Oktober 2009, dengan kondisi lemah. Seluruh bagian badannya luka memar dan membengkak disertai darah hitam yang sudah mengering.
Di bawah tenda perawatan, udara terasa panas. Hanya kipasan tangan keluarga dengan secabik kertas menjadi harapan segar. Setiap tubuh yang lemah dan terluka. Semua korban merintih meminta seuatu. Namun, kondisi tidak memadai. Semua keluarga korban hanya mampu meminta korban bersabar dan berzikir kepada setiap korban gempa.
Begitu juga Friska, ia selalu menangis meminta seteguk air. Tenggorokannya terasa kering ditambah udara tenda yang panas. Namun, keinginan Friska tidak bisa dipenuhi keluarganya yang membesuk karena ia akan dioperasi. Dokter menyarankan, Friska harus puasa dalam beberapa jam menunggu operasi.
“Tolong kasih minum, aku haus. Dari tadi tidak diurusi dan tidak dikasih minuin. Tunda saja operasinya sampai beberapa hari lagi, aku masih kuat hidup,” harap Friska meminta air kepada keuarganya sambil menangis.
Di bawah tenda darurat, Friska ditemani Sias (ayah), Erni (ibu), Syafrisa (kakak) untuk menjaganya. Keluarga Friska juga tidak mampu berbuat banyak, semua hanya menunggu perintah dokter.
Sias 51 tahun, pascagempa langsung pergi ke Kota Padang untuk mencari anaknya. Sejak Kamis pagi, ia mencari anak di berbagai rumah sakit, namun hasilnya nihil. Akhirnya, ia pulang kembali ke kampungnya sambil melihat televisi terkait berita gempa. Akhirnya, Jumat 2 Oktober sekitar pukul 10.00 wib, ia dan keluarganya melihat wajah Friska ketika dibopong sejumlah anggota TNI dari reruntuhan bangunan.
“Saya yakin tubuh perempuan yang diangkat anggota TNI melalui siaran televisi itu anak saya. Sebab, beberapa kali wajahnya sempat tersorot kamera. Kami sekeluarga langsung menangis dan pergi ke RS. Dr. M. Djamil.
Menurut Sias, sampai di RS. M. Djamil, ia juga kesulitan mencari tempat anaknya dirawat. Hampir dua jam ia mondar-mandir keluar masuk tenda untuk melihat anaknya. Semua itu akibat minimnya sumber informasi di di tenda darurat.
“Sampai di RS. M. Djamil saya sudah mencari Fiska. Dua jam keluar masuk tenda tetapi tetap tidak ketemu. Akhirnya dari sekian dokter yang saya temui memberikan informasi dan langsung mengantarkan ke tempat tidur Friska,” ujatnya.
Proses Evakuasi Hotel Ambacang
Sekitar 200-an orang tertimpa reruntuhan gedung Hotel Ambacang. Lambannya evakuasi terkendala minimnya peralatan.
Proses evakuasi, dua korban lagi berhasil ditemukan di Hotel Ambacang. Kedua jasad berjenis kelamin laki-laki, identitasnya belum teridentifikasi.
Hotel bintang tiga di Jalan Bundo Kanduang itu saat terjadi gempa, seluruh kamar dan gedung pertemuan terisi penuh.
Walaupun empat alat berat sudah berada di tempat, namun tim evakuasi belum juga memulai pencarian. Tim SAR memotong Hotel Ambacang menjadi dua bagian. Pemotongan itu dilakukan untuk memudahkan pencarian korban yang diduga tertimbun di tengah gedung.
“Saya dari hari pertama sudah ada di sini. Tapi pencarian korban terkesan lamban. Padahal, hotel ini sudah dibagi dua bagian untuk memudahkan pencarian,” ujar Yos, salah seorang keluarga korban yang terperangkap dalam reruntuhan.
Kapoltabes Padang, Kombes Pol Boy Rafli Amar mengemukakan, “Belum bisa menentukan apakah mereka yang terperangkap dalam hotel tewas atau selamat. Kita berharap semua orang dalam hotel ini bisa segera ditemukan. Selain memakai alat berat, kita di sini juga melakukan pencarian dengan anjing pelacak,” ujar Kapoltabes.  (Padang Ekspres, Sabtu 3 Oktober 2009)

11. Alhamdulillah, Walau Kaki Patah tapi Nyawa Masih Ada
Raut kesedihan tercermin di wajah keluarga korban gempa. Bagi yang mengetahui anggota keluarga dan sanak saudaranya selamat, tergambar sedikit kegembiraan di wajahnya. Namun, Sabtu 3 Oktober 2009, yang belum ada kabar berita sanak keluarganya di papan informasi, terlihat wajah duka bercampur kebingungan.
“Kemanakah dia, tidak mungkin dia hilang tanpa ditemukan jenazahnya,” kata seorang ibu pada salah seorang penjaga posko Prudensial yang menggawangi korban gempa di Hotel Ambacang.
Hal serupa juga dikeluhkan Rifa’i, orang tua renta dari Lubuk Basung, yang sedang duduk lunglai di tepi trotoar RSUP Dr. M. Djamil. Menurutnya, dia mencari anaknya Ahmad Yusuf yang waktu itu mengikuti seminar Prudensial di Hotel Ambacang. Namun hingga kini, dia belum menemukan anak keduanya itu. Di posko tersebut tertulis nama anaknya, “Di ruang mana belum ditemukan anakku,” katanya pasrah.
“Saya tidak tahu harus bagaimana lagi dan seperti apa nasibnya sekarang. Saat ini saya hanya bisa sabar, karena hanya itu yang bisa saya lakukan,” ungkap Rifa’i berlinangan air mata.
Dua orang ini, adalah keluarga korban gempa yang hingga kini belum ditemukan dan belum diketahui keberadaannya. Entah hidup atau meninggal. Mereka berasal dari Kota Padang dan berbagai daerah di Sumbar. Bahkan ada juga yang berasal dan luar Sumbar seperti Jambi, Bengkulu, bahkan ada dari Dumai dan Pekanbaru. Tak ayal, setiap ambulance yang yang datang membawa korban, mereka selalu bergegas menyongsong.
“Saya selalu mendatangi ambulance jika ada yang tiba di rumah sakit membawa jenazah. Namun, yang dibawanya bukan keluarga saya,” kata Audi, ketika itu sedang duduk di salah satu tenda rawat inap.
Berbeda dengan keluarga korban yang hingga kini belum ditemukan anggota keluarganya, yang sudah menemukan anggota keluarganya bisa bernapas lega. Walaupun kepanikan dan kepedihan masih menyelimuti wajah mereka. Misalnya saja, Andrianaus, ayah dan Kurata Ayuna, salah seorang siswa Gama yang selamat. Dia bersyukur putrinya ditemukan dalam kondisi hidup di sela-sela reruntuhan gedung walaupun kaki putrinya itu terluka dan akan menjalani operasi untuk ketiga kalinya. “Dia selamat, saya bersyukur,” ungkapnya dengan wajah sendu.
Rasa syukur juga diucapkan Anifa Dahlan, salah seorang korban gempa yang selamat di Plasa Andalas, yang menderita patah kaki. “Alhamdulillah, walaupun saya menderita patah kaki, namun, nyawa saya masih ada. Padahal, sudah setengah jam saya terhimpit reruntuhan, tanpa ada pertolongan,” tutur Anifa.
Anifa, juga mengaku hingga saat ini dia masih trauma dengan gempa. Rasa takut itu terbawa hingga ke alam mimpi. “Hampir setiap malam saya dihantui mimpi gempa. Ketika itu, siapa pun yang menemani saya, pasli akan membangunkan tidur saya, karena mereka mengatakan bahwa saya menggigau, dan napas terlihat sesak,” jelasnya dengan suara parau. (Padang Ekspres, Minggu 4 Oktober 2009)

12. Tentara Itu Merangkak di Bawah
       Reruntuhan Beton
40 Jam Terjebak Akhirnya Sari Selamat
Semua orang menahan nafas, tatkala para tentara dari Yonif 133 merangkak ke dalam lorong sempit di bawah reruntuhan beton di STBA Prayoga, Jl. Veteran Padang. Mereka merangkak masuk lobang tikus gang dibuatnya selama dua hari itu.
Apa yang terjadi di dalam sana? Tak ada yang tahu, para prajurit ini merangkak sejauh 12 meter ke dalam. Secara estafet, mereka terus menerus mengeluarkan puing-puing bangunan dari dalam lorong.
Tidak ada yang berani tegak berlama-lama di depan lorong yang dibuat dengan bor tangan itu. Kecuali satu kompi tentara bersama segelintir anggota tim SAR dan Palang Merah Indonesia. (PMI). Sebab, dari lorong itu tercium aroma busuk yang menyengat. Tetapi semuanya itu tidak menyudutkan semangat tentara dari Yonif 133 Padang. Mereka terus mencari korban dari reruntuhan dengan semangat kemanusiaan.
Selama dua hari itu, bergantian mereka memasuki lobang. Karena, lorong kecil itu hanya menyisakan ruang bagi enam orang. Seolah tanpa takut, mereka terus saja menggali lebih jauh ke dalam reruntuhan bangunan yang dulunya empat tingkat itu.
Usaha berani itu membuahkan hasil. Jumat 2 Oktober, tentara menemukan dua orang gadis yang masih hidup. Terhimpit di bawah gelimpangan mayat-mayat.
“Ini benar-benar mukjizat. Mereka masih bernafas, meski telah terkubur selama 36 jam lebih, bersama mayat-mayat lagi. Ini bukti kekuasaan Tuhan,” ujar seorang warga yang menonton aksi penyelamatan itu.
Kedua gadis itu bernama Suci 19 tahun, dan Ratna Kurnia Sari 22 tahun. Mereka adalah mahasiswi dan dosen STBA Prayoga yang terjebak reruntuhan akibat gempa berkekuatan 7,9 SR yang mengoncang Sumbar. Sebelumnya, tim juga telah menyelamatkan dua orang yang masih hidup, yakni Agus dan Rudi.
Upaya tim evakuasi semakin gigih. Bahu-membahu mereka menggali dan memperbesar lorong itu. Meski bau busuk semakin membuat perut tidak bersahabat.
“Kita berupaya sekuat tenaga. Mereka harus segera dikeluarkan, jika kita ingin melihat mereka selamat,” ujar salah seorang tim SAR.
Tepat pada pukul 12.00 wib, sebelum shalat Jumat, tim evakuasi berhasil mengeluarkan seorang dari mereka berhasil keluar dengan selamat.
“Suci akan kita keluarkan. tapi mengalami  sedikit stres. Jadi kami mohon agar masyarakat memberi jalan. Ia harus segera mendapat perawatan medis,” seru seorang tentara dengan pengeras suara.
Namun, para wisatawan bencana itu sulit diatur. Sehingga aparat dan para wartawan yang meliput kelabakan.
Setelah keluar, Suci segera dilarikan ke rumah sakit. Sementara, tim evakuasi kembali berjibaku. Kali ini tugas mereka semakin berat. Lantaran, Sari terhimpit onggokan mayat.
“Ada enam mayat yang menghimpit Sari. Kita sudah berupaya. Tapi tubuhnya cukup gempal. Jadi sulit menariknya hanya dengan dua orang,” sebut salah seorang tim evakuasi, Supriadi.
Namun setelah 40 jam tim berhasil mengeluarkan Sari dari puing reruntuhan. Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Pada reruntuhan STBA/ Pravoga itu, diperkirakan masih tertimbun 12 orang lainnya. Itu berdasarkan laporan para orang tua mahasiswa. Namun, harapan hidup mereka diperkirakan sangat tipis. Namun begitu tim evakuasi akan terus mencari para korban dari reruntuhan bangaunan. (Singgalang, Sabtu 3 Oktober 2009) 

13. Terasa Hidup Dua Kali
Pantang mati sebelum ajal. ltulah yang tampaknya terjadi pada diri Ferly 32 tahun, guru Bahasa Inggris di Lembaga Bahasa LIA Padang. Pada saat gempa menimpa Kota Padang, sekitar pukul 17.15 wib, Ferly bersama guru dan beberapa siswa LB LIA Padang lain tertimbun bangunan berlantai empat tersebut tempat dia selama ini mengajar. Meski tertimbun bangunan selama lebih kurang 12 jam, Ferly, Kamis 1 Oktober sekitar pukul 04.30 wib ditemukan selamat. Bahkan Jumat 2 Oktober dengan tertatih-tatih Ferly datang ke Gedung LB LIA untuk memberikan petunjuk kepada Tim Bantuan yang dipimpin Kapten Asyraf Azis dan Batalyon Yudhasakti 133 mencari keberadaan siswa yang masih dicari.
 “Serasa saya hidup kembali. Saat itu saya sedang berada di ruang 214, lantai 2, ada sekitar tujuh siswa karena saat itu ujian lisan. Pertama saya minta siswa menyelamatkan diri. Tapi baru saya berada di pintu, tangga sudah ambruk. Saya bertahan di pintu bersama Dodi Kurnia dan Lailatul Jannah. Daun pintu itu yang menyelamatkan kami bertiga karena membikin rongga, karena saat itu lantai 3 dan 4 sudah menghimpit lantal 2. Tapi tidak lama kemudian Lailatul Jannah tidak dapat bertahan lama sementara Dodi hingga kami ditemukan 12 jam kemudian dengan semangat tinggi,” kata Ferly.
Dua jam pertama, kata Ferly, “Saat yang paling kritis.”.
Abu yang datang akibat ambruknya gedung berlantal empat itu, menyesakan napas. Keringat di badan keluar menjadi-jadi kemudian terjadi  dehidrasi. Ferly sempat putus asa tetapi Dodi terus memberikan semangat. Kita harus hidup, sementara Lailatul Jannah ketika dipegang tangannya sudah dingin. “Saya ingat saya bawa handphone bernomor Flexy. Kemudian saya menghubungi istri saya dan suruh dia datang ke LIA bilang sama tim SAR bahwa dia terjebak di antara reruntuhan gedung ini,” kata Ferly.
Berkat informasi yang dia berikan sama istrinya Tim Bantuan memberikan bantuan roti dan aqua. Tetapi jaraknya sekitara enam meter. Dodilah dengan cara merangkak mengambil roti dan aqua dan memberikan bantuan tersebut kepadanya. Setelah merasa kehilangan harapan, Ferly merasa ada secercah harapan untuk hidup lagi.
“Suara orang di luar kedengaran, ada orang, ada orang. Kami jawab minta tolong, tidak ada jawaban. Kenapa saya bisa selamat karena kekuasaan Allah SWT. Saya bersyukur diberikan kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Alhamdulillah sekitar pukul 04.30 wib kami bisa diselamatkan Tim SAR,” kata Ferly.
Hingga kini, kata Ferly, dirinya masih trauma dengan bunyi ketok-ketokan. Ditambah lagi trauma tidak bisa membantu siswinya Lailatul Jannah yang berada di sisinya “Saya merasa di dalam itu kayak kuburan. Saya selamat keluar, ini kehidupan kedualah, saya hidup lagi,” katanya.
Sementara bagi H. A. Manan Mangan, pimpinan LB LIA, kejadian seperti itu, gedung berlantai empat runtuh dan menimbulkan empat orang siswa tewas dan dua luka-luka serta tiga orang gurunya sempat terjebak di reruntuhan bangunan, tidak pernah terbayang sama sekali.
“Saat itu, saya mengantarkan istri saya, Hj. Junidar Manan, ke rumah. Biasanya saya pulang pukul 06.00 wib sore. Biasanya istri saya diantar sopir. Sungguh saya tidak menyangka kejadian ini. Namun begitu, semuanya akan saya jadikan bahan renungan dan instropeksi ke depan,” kata H. A. Manan Mangan.
Direktur Operasi LBPP LIA Jakarta, Umar Latinulu, SE., M.Si menyatakan derita LB LIA Padang derita LBPP LIA. Untuk itu, seperti kejadian yang menimpa LB LIA Yogyakarta dulu, LBPP LIA turun memberikan sumbangan. “Bantuan kami berikan untuk LB LIA Padang sebesar Rp 100 juta untuk biaya tanggap darurat dan bantuan untuk korban siswa, karyawan dan guru,” katanya.
Koordinator Lapangan (Korlap) Tim Bantuan Kapten Asyraf Azis mengatakan tim yang terdiri dari Batalyon Yudhasakti 133, Brimob, Mahasiswa Universitas Bung Hatta, PMI, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sekuat tenaga akan berusaha mengevakuasi korban yang tertimbun dari gedung LB LIA Padang tersebut.
Akibat gempa yang menimpa Kota Padang empat orang siswa tewas dan dua luka-luka. Mereka adalah Lailatul Jannah, Mira Oktari, Ade Laili Anggaraini, Salmah, guru SMP Negeni 1 Padang. Yang luka-luka Zurnawati dan Dinda (anak Salmah). Selain Ferly, dua guru juga terjebak dalam reruntuah. Juita terjebak sekitar setengah jam dan Nursim Salam terjebak sekitar tiga jam lebih.
Tadi malam seseorang yang diduga Havis Darma Rafke dari no Hp.0813 6372 9472 mengirim SMS bahwa ia terjepit di LB LIA. Dia anak kelas II IPA SMA 2 Padang. (Singgalang, Sabtu 3 Oktober 2009)

14. 400-an Terkubur saat Pesta
Pesta itu Dikubur Gempa
Tenda itu berwarna merah jambu. Ada dua. Baru Rabu pagi 30 Oktober dipasang. Sore kemudian, tenda merah jambu itu menjadi tempat pengungsian keluarga Nursima.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi putra Nursima dan Sunardi. Ia meminang gadis tetangga. Baru saja akad nikah dilaksanakan, namun ia tak sempat menikmati indahnya malam pertama. Gempa datang, rumahnya rata dengan tanah, pestapun bubar, tak jadi dilaksanakan. “Indak tahu ka jadi atau indak...” ujar Nursima.
Dua tenda pesta itu, sampai Sabtu masih terpasang. Nursima menjadikannya tempat berlindung bagi anak dan sanak keluarganya. Ada empat keluarga Nursima bertetangga, keempat rumah itu hancur dihantam gempa 7,9 Skala Richter.
Sudah tiga hari pascagempa, Nursima masih bisa bertahan dengan sisa makanan yang seharusnya digunakan menjamu tamunya di pesta. Namun, ada belasan jiwa yang bertahan dengan sisa makanan itu, sementara bantuan tak pernah kunjung datang.
Pesta berujung duka juga dialami tetangga Nursima di kampung yang berbeda. Pesta baralek Pak Uwih yang menikahkan putranya Ris berakhir bencana. Rumah Uwih di Simpang Gunung Tigo lenyap tak berbekas digulung longsor. Uwih dan keluarga belum jelas keberadaannya. Beberapa anggota keluarganya yang sedang menyiapkan makanan pesta sudah ditemukan jenazahnya beberapa saat setelah gempa. Jenazah itu bergelantungan di sisa-sisa bangunan yang nyaris jatuh ke jurang longsoran yang sangat dalam.
Di depan rumah Uwih masih berdiri tenda pesta. Sementara rumahnya sendiri beserta empat rumah lainnya lenyap ditelan longsor.
Menurut warga yang berjaga di lokasi bencana, di lima rumah itu setidaknya ada 50-an orang. Ramainya di sana karena mereka sedang mempersiapkan pesta. Keberadaan 50-an jiwa itu belum jelas nasibnya. Tim SAR, aparat ataupun relawan tak kunjung ada di lokasi longsoran tersebut.
Mal, lelaki yang ketika musibah itu datang sedang menyiapkan tenda pesta mengaku beruntung terselamatkan dari longsor.” Satu kaki saya sudah jatuh ke ngarai, tapi masih selamat,” ujarnya.
Mal menyaksikan sendiri tiba-tiba bumi bergoncang dan tanah bergemuruh berjatuhan. Rumah Uwih seperti ditelan tanah. Ia menyaksikan sendiri banyak ibu-ibu yang sedang memasak makanan untuk pesta tiba-tiba lenyap digulung tanah yang berjatuhan.
Beberapa saat setelah gempa, Mal menyaksikan ada beberapa jenazah. Namun, Ia sudah kehilangan akal. “Indak tahu bara jenazah kapatang tu,” (tidak tahu berapa banyaknya jenazah kemarin)  ujarnya lirih.
Rumah Uwih tinggal jurang besar yang menganga. Jurang setinggi ratusan meter membentuk sungai tanah yang mencapai kiloan meter. Tak ada kehidupan di sana. Tinggal tenda pesta dengan kebisuannya.
Evakuasi berjalan lambat
Proses evakuasi Tiga Jorong yang rata dengan tanah di Kecamatan Tandikek, Kabupaten Padang Pariaman terus belangsung. Di antara ratusan korban yang tertimbun longsor tersebut, ternyata sekitar 400-an korban sedang menghadiri pesta pernikahan.
“Ambo raso, saat itu labiah 400 urang yang hadir di pesta itu, gampo mahoyak, longsor pun menutupi kampong mereka. (Saya rasa, saat itu lebih 400 orang yang hadir di pesta itu, gempa menguncang, longsor pun menutupi kampung mereka),” ujar Kapalo Mudo Pincuran Tujuah, Kanagarian 2x11 Kayutanam Amril, 45 tahun.
Menurutnya, saat itu dia hendak ke Jorong itu untuk menghadiri pesta pernikahan. Ia termasuk salah seorang undangan. Namun, belum sempat pergi ke sana, gempa menguncang. Dalam sekejap tiga kampung itu pun rata dengan tanah.
Pulauaia itu salah satu dan tiga Jorong yang tertimbun longsor. Dua Jorong lainnya adalah Cumanak dan Lubuklaweh.
Ratusan Orang masih Terjebak
Proses evakuasi korban gempa, Rabu 30 September itu, sampai kemarin masih belum tuntas. Ratusan orang diperkirakan masih terjebak reruntuhan dan longsor di sejumlah daerah di Sumbar. Minimnya alat berat masih menjadi hambatan mengevekuasi korban.
Evakuasi korban Hotel Ambacang misalnya. Sekitar 200 korban tertimpa reruntuhan hingga kini belum bisa dievakuasi. Walaupun empat alat berat sudah berada di tempat, namun tim evakuasi belum juga memulai pencarian.
Tim SAR hanya memotong Hotel Ambacang menjadi dua bagian untuk memudahkan pencarian korban. Tiga korban berhasil dievakuasi kemarin, seorang di antaranya bernama Yusril, 34 tahun yang sehari-harinya bekerja di Adira Finance, ia selamat.
Di antara korban tertimbun, terdapat delapan peserta Bimbingan Teknis Pengolahan Hasil Perikanan. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar Yosmeri mengatakan, “Baru 27 korban berhasil dievakuasi, 8 tewas dan 19 orang selamat. Semua korban selamat dievakuasi ke RS dr. M. Djamil Padang,” kata Yosmeri.
Delapan korban yang belum ditemukan itu adalah, Del, peserta Padang Pariaman, Nurbaiti (Agam), Asmidar (Padang), Indra (Kabupaten Solok). Lalu, Hilman (Kabupaten Solok), Anasrul (Kabupaten Solok), Aswat Dirja (DKP Sumbar), dan Azrima (dari Departemen Kelautan dan Perikanan).
Di gedung Suzuki dan Adira Finance, Jalan Sawahan, masih tertimbun lima orang lagi. Tim evakuasi sangat ekstra hati-hati melakukan evakuasi agar gedung tidak runtuh. “Alat yang telah kita gunakan selama beberapa hari ini mengalami kebocoran oli, tapi masih kita paksakan untuk bekerja,” ujar Edi, koordinator alat berat kemarin.
Tanggal 3 Oktober tim SAR gabungan kembali menemukan 4 korban gempa di Pasar Inpres III Pasar Raya Padang. Jasad korban ditemukan dalam keadaan tubuh hangus terpanggang. Artinya, jumlah korban yang berhasil ditemukan sebanyak tujuh orang.
“Hampir seluruh jenazah yang kami temukan tak dapat dikenali lagi karena sudah terpanggang,” ujar anggota tim SAR Willy.
Di Sentral Pasar Raya (SPR), puluhan korban juga masih banyak terjebak di sana. Evakuasi akan dilakukan di sana. Untungnya, sejumlah pasar tradisional tidak ikut hancur.
Tim evakuasi juga melakukan pencarian korban di deretan ruko yang roboh di Jalan M. Thamrin, ruko di Simpang Haru, Hotel Mariani, STBA Prayoga, dan beberapa gedung lainnya. Khusus ruko di Jl. M Thamrin, hingga tiga hari belum berhasil menemukan satu pun korban yang tertimbun. Tim evakuasi mensinyalir ada sekitar 10 orang yang terjebak di dalam 12 ruko tersebut.
Kepala Dinas PU Kota Padang, Muzni Zakaria menegaskan, Pemko Padang masih membutuhkan alat berat sebanyak 110 unit lagi untuk mengevakuasi korban. Alat berat sebanyak 40 unit sekarang ini tidak mencukupi kebutuhan ideal mengevakuasi ratusan korban yang masih tertimbun reruntuhan bangunan dan ruko.
Mengungsi di Masjid
Hingga tanggal 3 Oktober korban gempa di Pasaman Barat masih mengungsi di masjid dan lapangan terbuka. Selain kehilangan tempat tinggal, meneka juga masih trauma dengan gempa susulan.
Data sementara dari posko penanggulangan korban gempa Pasaman Barat, jumbah kerusakan bangunan mencapai 2.813 unit. Rinciannya, rusak berat 1.006 unit, sedang 679 unit rusak ringan.

15. Pesta Itu Dikubur Gempa
Tenda itu berwarna merah jambu. Ada dua. Baru Rabu pagi 30 September 2009 dipasang. Sore kemudian, tenda merah jambu itu menjadi tempat pengungsian keluarga Nursima.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi putra Nursima, Sunardi. Ia meminang gadis tetangga. Baru saja akad nikah dilaksanakan, namun ia tak sempat menikmati indahnya malam pertama. Gempa datang, rumahnya rata dengan tanah, pestapun bubar, tak jadi dilaksanakan. “Indak tahu kajadi atau indak ....” ujar Nursima.
Dua tenda pesta itu, sampai Sabtu 3 Oktober masih terpasang. Nursima menjadikannya tempat berlindung bagi anak dan sanak keluarganya. Ada empat keluarga Nursima bertetangga, keempat rumah itu hancur dihantam gempa 7,9 SR.
Sudah tiga hari pasca gempa, Nursima masih bisa bertahan dengan sisa makanan yang seharusnya digunakan menjamu tamunya di pesta. Namun, ada belasan jiwa yang bertahan dengan sisa makanan itu, sementara bantuan tak pernah kunjung datang.
Pesta berujung duka juga dialami tetangga Nursima di kampung yang berbeda. Pesta baralek Pak Uwih yang menikahkan putranya, Ris berakhir bencana. Rumah Uwih di Simpang Gunung Tigo lenyap tak berbekas digulung longsor. Uwih dan keluarga belum jelas keberadaannya. Beberapa anggota keluarganya yang sedang menyiapkan makanan pesta sudah ditemukan jenazahnya beberapa saat setelah gempa. Jenazah itu bergelantungan di sisa-sisa bangunan yang nyaris jatuh ke jurang longsoran yang sangat dalam.
Di depan rumah Uwih masih berdiri tenda pesta. Sementara rumahnya sendiri berserta empat rumah lainnya lenyap ditelan longsor.
Menurut warga yang berjaga di lokasi bencana, di lima rumah itu setidaknya ada 50-an orang. Ramainya di sana karena mereka sedang mempersiapkan pesta. Keberadaan 50-an jiwa itu belum jelas nasibnya. Tim SAR, aparat ataupun relawan tak kunjung ada di lokasi longsoran tersebut.
Mal, lelaki yang ketika musibah itu datang sedang menyiapkan tenda pesta mengaku beruntung terselamatkan dari longsor.” Satu kaki saya sudah jatuh ke ngarai, tapi masih selamat,” ujarnya.
Mal menyaksikan sendiri tiba-tiba bumi bergoncang dan tanah bergemuruh berjatuhan. Rumah Uwih seperti ditelan tanah. Ia menyaksikan sendiri banyak ibu-ibu yang sedang memasak makanan untuk pesta tiba-tiba lenyap digulung tanah yang berjatuhan.
Beberapa saat setelah gempa, Mal menyaksikan ada beberapa jenazah. Namun, ia sudah kehilangan akal. “Indak tahu bara jenazah kapatang tu,” ujannya lirih.
Rumah Uwih tinggal jurang besar yang menganga. Jurang setinggi ratusan meter membentuk sungai tanah yang mencapai kiloan meter. Tak ada kehidupan di sana. Tinggal tenda pesta dengan kebisuannya. (Singgalang, Senin 5 Oktober 2009)

16. Mayat Bergelimpangan, Pesta Berjalan Terus
Meski Sumatera Barat baru saja dihempas gempa, namum tidak menyurutkan keinginan warga melakukan pesta perkawinan. Baralek jalan terus. Sementara mereka tengah arak-arakan dengan diiringi alunan talempong, tim evakuasi masih berusaha mengeluarkan ratusan mayat dari puing reruntuhan.
Ratusan orang relawan datang dari luar negeri, menolong dunsanak awak yang ditimpa musibah, sementara di daerah musibah, tenda baralek berdiri gagah dan megah.
Di Kota Padang dan Pariaman, digelar puluhan pesta perkawinan. Padahal, kedua daerah itu tengah berduka. Lantaran, 500 jiwa lebih warganya meninggal dunia dan ratusan lainnya masih terjebak gedung dan rumah yang ambruk.
“Malu saya melihat ulah orang kampung sendiri. Saat orang-orang asing datang membantu para korban di negerinya, mereka malah bergembira ria. Sungguh tak punya hati nurani,” kata seorang warga Andalas, Ridho Firdaus 25 tahun.
Ia menambahkan, saat ini seluruh dunia tengah prihatin melihat Sumbar. Berlomba-lomba mereka datang membantu, atau setidaknya menyumbangkan uangnya untuk para korban.
“Tapi, orang Sumbar sendiri malah bersenang-senang. Tidak peduli dengan penderitaan umat manusia yang ada di depan hidungnya sendiri,” keluh Ridho.
Sepanjang hari Sabtu, memang banyak warga menggelar pesta perkawinan. Mereka tidak saja memajang tenda pelaminan yang mewah, tapi juga melakukan arak-arakan.
Tradisi Minang memang demikian. Kedua mempelai diarak dari rumah pihak pria ke rumah wanita. Rombongan diringi kedua keluarga dan kelompok musik talempong.
Namun, di saat bencana datang melanda, seharusnya acara bisa diundur, atau menggelar pernikahan yang sederhana saja. Sekedar untuk menunjukkan simpati dan empati terhadap ribuan korban di Ranah Minang.
“Sejak awal, kami sudah coba melarangnya. Tapi kedua mempelai memaksa untuk tetap arak-arakan. Apalagi undangan sudah tersebar semua. Tidak mungkin perkawinan ini diundur,” dalih salah seorang keluarga pengantin yang tidak ingin disebut namanya.
Dalam pepatah Minang, perbuatan baik seperti perkawinan memang sebaiknya tidak diundur-undur. Tapi solidaritas dan toleransi antar sesama manusia juga perlu. Agama kita mengajarkannya.
Beberapa pesta perkawinan itu, malah menggelar organ tunggal segala. Dari tujuh tempat pesta yang ditemui di Padang, tiga di antaranya memakai organ tunggal. Hanya beberapa pesta yang menyalakan musik dengan tape yang disambungkan dengan speaker besar. Satu di antara tujuh itu, undangannya membludak.
Beberapa lainnya hanya menggelar pesta dalam sunyi. Kesenian bercampur duka para tamu yang rumahnya hancur atau keluanganya meninggal karena diamuk gempa.
Hanya sunting mempelai yang membedakan pesta itu dengan acara pemakaman. (Singgalang, Senin 5 Oktober 2009)

17. Orang Minang Memalukan
Orang Berduka, Dia Menjarah
Pascagempa, kekacauan mulai terjadi di Pasar Raya Padang. Sejumlah toko mulai dijarah segelintir warga yang memanfaatkan kondisi kepanikan Rabu sore.
Pertokoan di Jalan M. Yamin banyak yang hancur dan kosong ditinggal pemilik. Akibatnya, beberapa orang nekat masuk dan mengambil peralatan toko. Sehingga tidak sedikit toko yang hancur dan diploroti hingga habis.
Bahkan, di salah satu kantor agen travel yang terletak di depan Masjid Muhammadiyah habis dijarah. Tong sampahnya pun tidak luput diambil.
Selain itu, Kasawan Pondok juga ada yang dijarah. Terutama di seputaran daerah Klenteng. Para penjarah itu memanfaatkan kesibukan aparat yang tengah berjuang menyelamatkan para korban gempa di Kota Padang.
Untung saja, di Plaza Andalas keamanan semakin diperketat. Pihak pengelola menambah penjagaan sejumlah satuan pengamanan. Sehingga luput dan penjarahan.
Memalukan
Ranah Minang disapu bencana alam. Ribuan orang menemui ajalnya dalam kondisi memiriskan, Padang nyaris bau mayat. Ratusan orang masih belum ditemukan, lantas ribuan orang dari berbagai belahan dunia datang membantu. Tapi di sini, di negeri beradat, negeri yang katanya keturunan Iskandar Zulkarnain ini, perasaan dan rasa kemanusiaannya seperti lenyap seketika. Tatkala orang berduka, ketika maut masih bermain-main di sekeliling, saat rumah retak makin retak, mereka berpesta ria. Helat, pesta perkawinan digelar dengan organ tunggal, tak jauh dari rumah yang rubuh. Orang menggerutu, organ kian menjadi-jadi.
Ongkos taksi kabarnya selangit dari BIM ke gubernuran, Rp 400.000,- untuk 4 orang. Dari gubernuran mau ke Pasar Raya Rp 100.000,- Bensin Rp30.000,- seliter, air mineral kecil Rp 4.000,- sebotol. Ojek Rp 20.000,-. Rental mobil dikabarkan juga Rp l.000.000,- sehari. Mudah-mudahan semua itu tidak benar.
Ribuan orang berfoto-foto, tertawa-tawa, membawa anak dan bini ke lokasi-lokasi gedung rubuh. Ribuan orang memanjat bukit yang longsor, berpangku tangan melihat Tim SAR bekerja. Di Tandikek, Padang Pariaman, Brimob Polda Sumsel, jadi tontonan para remaja yang memoto-moto diri sendiri dengan handphone. Brimob minta tolong mengambilkan kain untuk menutup jenazah, tapi remaja hebat harapan bangsa itu, tertawa-tawa kecil sambil berpangku tangan. Mereka menganggu dan memadati jalanan sehingga lalu lintas jadi macet.
Di Padang, entah dari mana datangnya, ribuan orang pakai motor dan mobil jadi wisatawan. Kehadiran mereka menghalangi evakuasi. Tak hanya memoto obyek, tapi juga memoto dirinya dengan latar lokasi bencana. Lengkap dengan tertawa-tawa. Lalu kemudian, foto itu dimasukkan ke facebook.
Sementara itu, di gubernuran ratusan relawan, ratusan jurnalis tak tentu makan tak tentu minum, penuh waktu (bersitungkin) menyusun bantuan dan berita. Di lapangan, dari Jepang, China, Arab, Amerika, Korea, Swiss, Australia dan Singapura berkubang-kubang, di lapangan mencari mayat. Jumlahnya 5.000 orang. Lalu, tentara lengkap dengan komandan tertingginya, datang ke sini, menggali beton, menemukan mayat.
Korban lumpur Sidoardjo mengumpulkan bantuan, hampir semua TK di Indonesia mengumpulkan bantuan, seluruh surat kabar dan televisi membuka dompet amal. Bondo nekat dari Surabaya mengumpulkan bantuan di waktu pertandingan sepak bola. Mahasiswa di seluruh kampus di Indonesia meminta sumbangan. Anak jalanan, pengamen di seluruli negeri meminta bantuan. Mereka punya hati nurani. Mereka terketuk, karena Ranah Minang, negeri hebat bin hebat ini, sedang terkena musibah.
Tapi di sini, kita menjadi kapitalisme busuk. Menyedot dari comberan. Bergaya (melagak) hilir mudik tak karuan. Tak mau membantu, malah menjadi wisatawan gempa.
Negeri disumpah barabah, tak bermalu. Tak malu pada orang asing, tak malu pada nenek moyang sendiri dan bikin malu.
Akhirilah perangai buruk itu, malu awak sama orang. (Singgalang, Senin 5 Oktober 2009)

18. 400 Orang Masih Tertimbun
Tiga dusun di Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman tertimbun longsor saat gempa berkekuatan 7,9 SR. Evakuasi telah dimulai Jumat 2 Oktober 2009. Sekitar 400 warga belum diketahui keberadaannya.
Sebanyak 19 orang sudah ditemukan tanggal 2 Oktober. Tim SAR dan masyarakat melakukan pencarian sacara manual dengan menggunakan empat sirso (gergaji kayu).
Pebukitan yang runtuh sepanjang 3 km menimpa setidaknya 250 unit rumah di tiga dusun itu. Tak ada pekik yang bisa dipekikkan, karena tanah longsor mendaram sekejap mata. Hanya dalam hitungan detik, tak ada lagi rumah yang terlihat. Menurut pihak kepolisian, warga yang tertimbun 250 jiwa, namun menurut masyarakat sekitar ada 400 jiwa. Di tiga dusun itu, terdapat setidaknya 200 rumah penduduk.
Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso sudah berada di lokasi bencana. Jenderal ini mengatur evakuasi korban. Evakuasi bisa dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Personil untuk itu telah didatangkan. Satu batalyon dari Jakarta. Mereka siap melakukan apa saja guna menggali timbunan tanah dalam jutaan meter kubik itu.
Dari lapangan menyebutkan, ketiga dusun nyaman itu, robek oleh tanah longsor yang bergemuruh bagai serombongan pesawat tempur di udara. Anak-anak, kaum wanita dan semua penghuni ketiga dusun, tak sempat lagi menyelamatkan diri. Elmaut datang dalam sekejap mata.
Tiga dusun yang tertimbun itu adalah dusun Kepala Koto, Lubuk Laweh, dan Cimanak di Kecamatan Patamuan. Pada lokasi kejadian tak ada lagi bangunan yang tampak. Tanah yang menimbun pemukinan warga berasal dari perbukitan yang terletak persis di belakang rumah mereka.
Bupati Padang Pariaman, Muslim Kasim memprkirakan ada 400 warga yang tertimbun di tiga dusun ini.
Gempa Sumatera Barat
Belum terhitung jumlah kerugian akibat gempa yang meluluh lantakan Sumbar. Namun, dalam taksiran pemerintah, setidaknya diperlukan dana sebesar Rp 4 triliun guna rehabilitasi.
 “Rehabilitasinya bisa triliunan. Mungkin tidak jauh dari gempa Yogyakarta, Rp 3 triliun sampai Rp 4 triliun,” kata Wakil Presiden Jusuf Kala.
Menurut JK, dana yang dikeluarkan di awal sebesar Rp 100 miliar itu hanya diperuntukkan bagi tanggap darurat. Tanggap darurat itu termasuk antara lain, makanan, obat-obatan, dan lain-lain.
Sedangkan untuk biaya rehabilitasi Rp3 triliun sampai Rp 4 triliun itu belum termasuk nilai dan bangunan milik instansi swasta. Seperti misalnya, hotel dan bangunan toko-toko. ltu bisa lebih besar lagi,” ujar JK.
“Saat ini pemerintah sedang menaksir berapa nilai rumah, jalan, serta infrastruktur lain yang rusak akibat gempa. Saya minta Bappenas untuk menilai, kira-kira satu sampai dua minggu. Termasuk kerugian ekonomi,” ujar dia.
Kerugian ekonomi itu termasuk perekonomian yang tidak berjalan selama dampak gempa. Untuk itu, Bappenas masih menghitung rekonstruksi kerugian, data rumah, toko, yang belum selesai.
“Kami perintahkan (hitung), tapi yang paling penting cari dulu korban yang bisa diselamatkan,” kata JK. “Hingga kini, jumlah korban yang tewas masih simpang siur”.
Data menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) korban tewas terakhir mencapai 390 orang. Sedangkan dan Badan PBB Urusan Kemanusiaan melansir korban tewas mencapai 1.l00 orang.
Evakuasi Terkendala
Evakuasi terhadap korban gempa di Padang masih berlangsung. Evakuasi berjalan lambat karena keterbatasan sarana serta petugas yang tak seimbang dengan banyaknya lokasi kejadian.
Hingga kini, masih banyak manusia yang terjebak di bangunan yang runtuh. Akibat lambatnya evakuasi itu, keluarga korban yang tak kenal lelah menunggu kepastian nasib sanak-saudara mendatangkan kekecewaan bagi keluarga. Salah seorang keluarga korban yang terjebak di Hotel Ambacang, Niko mengaku kesal karena banyak korban yang seharusnya bisa diselamatkan, tetapi karena terlalu lama terpendam, jadi banyak yang meninggal. “Kalau melihat cara kerja mereka, saya optimis anak saya bisa diselamatkan,” kata Niko.
Antara menyebutkan, jumlah pasti korban jiwa korban, belum bisa dipastikan. Data sementara yang dikeluarkan Satkorlak PB Sumbar setidak telah 529 warga yang dievakuasi dengan keadaan telah meninggal dunia.  (Singgalang, Sabtu 3 Oktober 2009)

19. Selamat Dari Hotel Ambacang
Kepala Robek, Andi Lari Belasan Kilometer
BEGITU berhasil meloloskan diri dari dalam reruntuhan bangunan Hotel Ambacang, ia terus berlari hingga belasan kilo meter menuju Indarung. Meski bagian kepalanya mengalami luka robek yang cukup serius dan bersimbah darah, ia mampu mencapai lokasi Rumah Sakit PT Semen Padang.
Hebatnya lagi, baru saja selesai mendapatkan tujuh jahitan di bagian kepalanya, Andi Antoni, S.Pt, 34, begitu nama lengkap laki-laki itu kembali ke Hotel Ambacang untuk mencani temannya Rozali 41 tahun yang kemudian ditemukan tewas dalam peristiwa gempa bumi Rabu 30 September 2009.
“Gempa itu sangat tiba-tiba. Begitu merasakan lantai dua Hotel Ambacang termpat kami pelatihan Bintek pengolahan hasil perikanan berguncang, saya dan Rozali seketika lari untuk menyelematkan diri. Namun, baru saja melangkah, lantai hotel persis di tempat saya berdiri sudah rengkah dan seketika suasana gelap akibat saya sudah berada di dalam reruntuhan,” ujar warga Tanjung Balik, Kabupaten Lima Puluh Kota itu mengisahkan kejadian yang dialaminya dalam bencana gempa bumi yang meluluhlantakan Sumatera Barat 30 September di depan Wakil Bupati Lima Puluh Kota Irfendi Arbi ketika mengantarkan bantuan ke kediaman korban.
Dengan semangat juang sembari terus berdoa, la berhasil merangkak dalam reruntuhan yang gelap hingga akhirnya menemukan seberkas cahaya dari jendela lantal dua hotel naas itu. Begitu mencapai jendela berketinggian sekitar 5 meter dari tanah tersebut, bapak satu anak itu langsung melompat dan langsung berlari hingga ke Bundaran Simpang Haru.
Meski bajunya sudah hasah oleh darah dan napas semakin sesak, suami Megawati 28 tahun ini terus berlari menuju Simpang Lubuk Begalung. Ia baru menyadani sudah mandi dengan darah ketika diberitahukan seseorang saat ia berhenti sejenak di Simpang Lubuk Begalung.
Tapi semangat hidupnya mengalahkan luka menganga dan kucuran darah di kepalanya. Buktinya, pengurus kelompok perikanan di Tanjung Balit ini kembali melanjutkan jalannya hingga akhirnya mencapai Rumah Sakit di PT Semen Padang yang berlokasi jauh lebih tinggi dari pusat Kota Padang.
“Saya tidak menyangka kalau saya mampu berlari belasan kilo meter dari Hotel Ambacang selama beberapa jam hingga ke Semen Padang dalam kondisi kepala dan sekujur tubuh luka senius. Begitu luka saya mendapatkan jahitan, saya kembali ke Hotel Ambacang untuk mencari Razali,” tutur Andi.
Kendati masih merasakan sakit, Andi tidak sedikitpun merasa lelah mencari dan menunggu pencarian Razali yang juga warga Tanjung Balit. Laki-laki itu baru mengabarkan kondisinya ke keluarganya setelah Razali ditemukan dan mengurus ambulan yang akan membawa jenazah temannya itu ke kampung.
“Benar, suami saya baru mengabari kami esok harinya setelah ia mendapatkan jenazah Razali. Padahal, saya sangat khawatir, apalagi setelah melihat tayangan televisi yang mengabarkan Kota Padang tempat ia mengikuti pelatihan ponak-poranda,” sela isterinya Megawati.
Beruntung bagi Andi, ia selamat dari maut. Lain bagi Sugirti 42 tahun isteri Razali. Wanita panoh baya itu tidak menyangka bapak empat anaknya yang pergi pagi Rabu tersebut pulang jadi mayat.
“Hari itu saya mempunyai firasat yang tidak enak. Sesaat sebelum gempa yang juga terasa di Tanjung Balit, gelas yang saya pegang pecah tanpa sebab. Pirasat ini sempat saya ceritakan lewat telepon kepada kakak saya di Batam dan para tetangga. Tahunya, esok sekitar pukul 10.30 Wib, saya mendapat kabar suami saya menjadi korban Hotel Ambacang yang ambruk,” ujar Sugirti dengan mata sembab.
Guru SD Tanjung Balit ini juga menuturkan, hari terakhir bersama suaminya adalah ketika ia satu mobil dengan suaminya yang akan ke Padang sedangkan Ia dengan tujuan kantor Bupati di Sarilamak. Dalam penjalanan hingga ia turun di Sarilamak, tidak ada sepatahpun kata dan cerita dari mereka berdua. Malah Sugirti juga tidak menyampaikan kata apa-apa saat turun mobil di Sarilamak dan ia baru ingat serta menelpon kembali ketika Razali sudah sampai di Baso.
“ltulah terakhir kali saya bicara dengan suami saya pak. Tidak seperti biasanya, har itu ia hanya diam saja,” ingat Sugirti yang sebelumnya juga diceritakan Andi.
Wakil Bupati Irfendi Arbi dalam kesempatan tersebut meminta keluarga korban yang ditinggalkan dapat tabah dan kuat menerima kenyataan. Wabup juga meminta pihak pemerintahan nagari tetap memantau penkembangan kondisi keluanga korban. (Singgalang, Sabtu-Minggu 10-11 Oktober 2009)

20. Bantuan Asing Terus Berdatangan
Australia dan Inggris Kirim Tim ke Sumbar
Asutralia mengirim tim pencari  dan penyelamat, bantuan, tim kesehatan militer, serta tim penilai teknis ke Sumatera Barat. Kamis 1 Oktober 2009 Kedutaan Besar Australia di Jakarta mengirim tim darurat beranggotakan tujuh orang ke Padang. Tim akan menginspeksi kerusakan dan membuat perencanaan bagaimana mengirim bantuan Australia dengan cepat dan efektif untuk mendukung Indonesia bagi mereka yang membutuhkan. Selain itu juga untuk membantu warga Australia yang terjebak dalam tragedi tersebut.
Pejabat Australia di Jakarta dan Lembaga Australia untuk Pembangunan Internasional (Aus. AID), Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan, dan Polisi Federal Australia sedang bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mengidentifikasi bagaimana Australia dapat memberikan bantuan terbaik kepada penduduk Sumatera.
“Australia sedang bekerja sama dengan para mitra Indonesia untuk bekerja dengan cepat dan seksama untuk memberi tanggapan dengan segera terhadap dampak gempa bumi tersebut,” ujar Kuasa Usaha Australia untuk Indonesia Paul Robilliard.
Bantuan darurat Australia mencakup obat-obatan, selimut, dan tenda juga dikirim ke Sumatera Barat. Australia telah memberikan bantuan sebesar 250.000 dolar Australia kepada LSM Muhammadiyah untuk mendukung tim kesehatan dan operasi kemanusiaan mereka.
Tim pencari dan penyelamat perkotaan beranggotakan 36 orang dan sekitar 20 tenaga medis dan insinyur Angkatan Pertahanan Australia.
Dana sebesar 100.000 dolar Australia juga telah diberikan kepada Palang Merah Indonesia untuk operasi tanggap darurat mereka, yang mencakup obat-obatan darurat dan perlengkapan keluarga. Australia siap untuk menawarkan bantuan lebih lanjut kepada Indonesia setelah terjadinya bencan.
Tim pencari dan penyelamat Inggris kini tengah dikirim ke Sumatera Barat oleh Departemen Pembangunan Internasional (DFID) Inggris, untuk membantu proses evakuasi dan penanganan pascabencana.
Sebuah pesawat yang dicarter Pemerintah Inggris bertolak dari London menuju Padang pada pukul 01.30 wib pada hari Jumat 2 Oktober. Pesawat juga mengangkut perlengkapan khusus untuk pertolongan.
Kru pemadam kebakaran Inggris yang terlatih dalam pencarian darurat dan teknik penyelamatan juga siap bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan nyawa korban.
Staf dari sejamlah lembaga bantuan Inggris juga akan berada dalam pesawat itu. DFID juga mengirim tim respons darurat untuk menaksir skala bencana. Bekerja dengan organisasi bantuan internasional lainnya, mereka akan membantu mengombinasikan upaya bantuan dan menaksir dukungan tambahan apa yang bisa diberikan Inggris buat Indonesia.
Para ahli kemanusiaan DFID juga berangkat ke Sumatera sebagai anggota misi penaksir PBB, untuk memperkirakan dan melaporkan bencana tersebut.
AS dan Australia Kirim Hercules
Militer Amerika Serikat dan Australia masing-masing mengirimkan satu unit pesawat C-130 Hercules, untuk membantu penanganan korban gempa bumi berkekuatan 7,9 SR di Padang.
Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan, dua Hercules dari Amerika Serikat dan Australia itu sudah tiba di Indonesia.
 “Hari ini, pesawat sejenis dari militer Thailand juga tiba di Padang untuk membantu evakuasi korban dan pengiriman bantuan kemanusiaan wilayah bencana,” katanya di Jakarta Sabtu 3 Oktober.
Panglima TNI mengatakan, sehari setelah gempa bumi memporak porandakan Padang dan sekitarnya, telah banyak militer negara sahabat yang menawarkan bantuan seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Australia, Ametika Serikat dan Thailand.
“Itu merupakan komitmen angkatan bersenjata negara-negara ASEAN dan Asia Pasifik untuk saling membantu, selain bekerja sama dalam hal pendidikan, latihan, pertukaran perwira dan saling kunjung pejabat miiiter,” tutur Djoko.
Ia menambahkan, seluruh bantuan militer asing itu telah dikoordinasikan dengan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana.
“Jadi, mereka izin kepada pemerintah, kepada saya selaku Panglima TNI lalu keberadaan mereka saya laporkan dan koordinasikan dengan Bakornas BP,” jelas Djoko.
Bantuan internasional mulai mengalir unluk para korban gempa bumi di Sumatera Barat dan Jambi. Itu melengkapi tim penyelamat asing yang telah tiba di Padang, Sumatera Barat.
Pesawat Arab Saudi Mendarat di Medan
Pesawat cargo milik Ukrania yang membawa bantuan dari Arab Saudi untuk korban gempa Sumbar terpaksa transit di Bandara Polonia Medan, Jumat 2 Oktober sore. Padatnya lalu lintas di Bandara Minangkabau, membuat pesawat akan terbang ke Padang kesok harinya.
Pesawat Maximus Aircargo yang mengangkut dua unit truk dan satu unit ambulance tanggap bencana ini tiba di Bandara Polonia Medan sekitar pukul 16.30 wib. Pesawat ini juga membawa empat ekor anjing pelacak yang akan digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan korban, baik yang selamat maupun korban yang tewas di bawah reruntuhan bangunan.
Kepala Divisi Operasional TNI Angkatan Udara Medan, Letnan Kolonel Edward Wisnu mengatakan, pesawat akan menginap di Bandara Polonia Medan sambil menunggu arus lalu-lintas udara dan kesiapan Bandara Minangkabau.
“Direncanakan, Sabtu pagi, pesawat akan terbang ke Padang. Semoga tidak terjadi penumpukan bantuan di posko gempa di kawasan bandara,” kata Edward.
Sementara Ketua Tim Penyelamat Pemerintah Arab Saudi, Faraq mengatakan, selain membawa alat evakuasi dan sarana medis tanggap darurat, pesawat juga membawa sejumlah tim penyelamat yang akan bekerja membantu proses evakuasi di lokasi bencana.
Uni Eropa Sumbangkan 3 Juta Euro
Uni Eropa (UE) melalui Komisi Eropa telah memberi sumbangan awal (initial contribution) sebesar EUR 3 juta kepada korban bencana gempa bumi di Sumbar. Javier Solana dan Presidensi UE yang dipegang Swedia saat ini juga telah menyampaikan ucapan belasungkawa dan simpati kepada korban bencana gempa di Sumbar.
Demikian disampaikan Duta Besar RI untuk Uni Eropa, Belgia dan Keharyapatihan Luksemburg Nadjib Riphat Kesoema. “Bantuan ini akan segera ditambah seterimanya laporan dari tim UE yang saat ini telah diterjunkan di daerah bencana di Sumbar,” tambah Nadjib.
Menurut Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Brussel PLE Priatna, di tengah forum dialog European-Indonesian Business Dialog yang sedang berlangsung di Brussel, Duta Besar RI Brussel dan juga Dirjen Amerop Retno Marsudi menerima ucapan belasungkawa dan simpati dari pihak UE yang disampaikan oleh James Moran, Direktur Asia Ditjen Kerja sama Luar Negeri Uni Eropa.
Pagi harinya saat briefing dengan peserta EIBD (European-Indonesia Business Dialog) dari Indonesia, Duta Besar RI Brussel, Nadjib Riphat Kesoema, mengajak para peserta diskusi mengheningkan cipta sejenak.
Dari Seberang Lautan Datang Menolong
Orang-orang gagah datang dengan peralatan canggih, membawa anjing pelacak, membawa perlengkapan yang amat lengkap, datang ke Ranah Minang guna menolong korban gempa. Relawan asing itu, mulai unjuk gigi di Padang. Mereka 80 relawan dari 17 organisasi mendarat di BIM Ketaping. Mereka berasal dari berbagai negara, seperti Swiss, Australia, Amerika Serikat, Jepang dan lainnya.
Tidak berselang lama, mereka menggelar persiapan peralatan di lapangan parkir GOR Agus Salim, Padang. Kawasan olah raga di Kota Padang dijadikan base camp tim asing itu. Sebagian mereka juga memanfaatkan halaman gubernuran yang cukup luas.
Kedatangan mereka itu guna membantu evakuasi korban gempa di Sumbar. Mereka difasilitasi oleh Pemprov Sumbar dengan penyediaan beberapa pemandu.
Dengan kedatangan relawan dari mancanegara tersebut kita harapkan para korban yang masih terjebak reruntuhan dan evakuasi lainnya bisa cepat dilakukan. Apalagi, para relawan itu membawa berbagai perlengkapan yang cukup. Bahkan, relawan Swiss membawa serta anjing pelacak, agar memudahkan pencarian mayat.
Relawan Jepang tidak mau kalah. Peralatan yang mereka angkut sangat canggih, seperti pendeteksi gempa dan tsunami.
Namun, relawan AS lebih hebat lagi. Di saat relawan negara lain sedang briefing dan melakukan persiapan, mereka curi star dengan langsung terjun ke lapangan. Mereka tampaknya sudah tidak sabar melakukan aksi kemanusiaan. Berlomba-lomba untuk kebaikan, agama kita mengajarkan.
Tim Hongaria ke Padang
Dua Tim Search and Rescue Hongaria telah sampai Padang, Sumbar untuk membantu proses pencarian korban gempa yang tertimbun reruntuhan bangunan. Di samping membawa obat-obatan dan alat perlengkapan pencarian mereka juga membawa peralatan berat untuk mengevakuasi korban serta beberapa ekor anjing pelacak. Pemakaian anjing ini sangat membantu, sebab terlatih khusus untuk pencarian korban yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.
Menurut Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Budapest Shinta Hapsari, dalam menghadapi bencana alam tsunami 2004 di Aceh dan gempa tahun 2005 di Nias, Hongaria juga menerjunkan tim serupa. Ketika itu tim SAR Hongaria ini juga membuka rumah sakit lapangan.
Rombongan pertama tim  penyelamat pemerintah Hongaria bersama Baptistaid terdiri dari 19 orang. Sedangkan rombongan kedua diberangkatkan Palang Merah Hongaria dengan pesawat Sabtu 3 Oktober. Rombongan ini dipimpin Mayor Peter Jakovics.
Antara Indonesia dan Hongaria telah terjalin semacam saling pengertian khususnya antara Badan Penanggulangan Bencana Nasional Indonesia dengan Ditjen Penanganan Bencana Hongaria. Dua negara ini sepakat untuk saling membantu dalam menghadapi setiap bencana yang terjadi.
Tim asing yang, telah terjun di Padang; UAE USAR Team, Disaster Relief Team Japan, Swiss Rescue, Civil Singapore Defence, Urban Search dan Rescue Republic of Korea National 119 Rescue Services, dari Jerman, Turki dan sebagainya. (Padang Ekspres, Minggu 4 Oktober 2009)

21. Berpacu dengan Waktu, Berperang dengan Bau
Hari keempat pascagempa berlalu sudah. Namun, ratusan tim evakuasi korban gempa masih berjuang mengeluarkan ratusan korban, meskipun mungkin harapan hidup korban sangat tipis. Bagaimana upaya mereka menyelamatkan korban gempa, di tengah medan reruntuhan bangunan yang sangat terjal dan ringkih?
Bau bangkai mulai menyengat hidung di tengah puing-puing Hotel Ambacang. Bagaimana tidak, puluhan bahkan mungkin ratusan orang masih tertimbun hidup-hidup di dalam bangunan berlantai enam yang ambruk itu.
Upaya tim evakuasi pun masih berlangsung. Bahkan saat penulis berada di lokasi, tim evakuasi yang berasal dari berbagai kalangan, baik TNI, Polri, tim SAR, PT Semen Padang maupun beragam sukarelawan dari daerah dan negara lain, sedang mencoba mengeluarkan tubuh korban di antara reruntuhan gedung lantai tiga yang menyatu dengan lantai dua dan lantai satu bangunan itu.
“Jangan dipaksakan, coba pakai sekop,” teriak salah seorang tim evakuasi yang harus memakai masker agar ban busuk tak merusak konsentrasi kerjanya. Bergegas dua anggota tim lain berupaya mencari sekop, untuk mencongkel reruntuhan yang masih mengapit mayat yang posisinya terjepit reruntuhan bangunan dengan posisi tengkurap.
Sebelumnya alat berat dikerahkan, untuk menyibak puing-puing yang menimbumi mayat itu. Enam tim evakuasi tampak berdiskusi mengupayakan bagaimana cara mengeluarkan mayat dengan kondisi utuh. Proses evakuasi pun akhirnya berhasil, setelah sekitar dua jam tim evakuasi berupaya mengeluarkan mayat korban berjenis kelamin laki-laki.
“Ini pengalaman luar biasa selama saya ikut tim evakuasi, karena medan penyelamatan sangan riskan. Jadi harus ekstra hati-hati untuk mengeluarkan korban,” ujar Ichwan, tim evakuasi yang didatangkan dari Polda Sumut, yang sudah bergabung selama 8 tahun dalam kesatuan Polri.
Pria yang mengaku hanya ganti baju dua hari sekali ini tak mampu menyimpan kekhawatirannya akan kesuksesan mengeluarkan semua korban. “Tapi tetap harus optimistis dan bekerja semampu kami, karena terpenting upayakan yang terbaik,” ujarnya.
Dia bercerita, saat tiba di Kota Padang, Kamis tanggal 1 Oktober dini hari. Dirinya dan sekitar 107 lainnya dibagi dalam beberapa tim, Ichwan kebagian tim evakuasi Hotel Ambacang. “Pukul 07.00 wib kita langsung ke lokasi untuk proses evakuasi,” kenangnya.
Menurutnya, sudah empat mayat yang berhasil dievakuasinya, bau mayat sudah sangat menyengat, karena. baru bisa dikeluarkan pada hari ketiga dan keempat. “Apalagi saat meugeluarkan mayat laki-laki berjas, dengan posisi membungkuk, yang kelihatan dulu adalah punggungnya,” kata Ichwan.
Saat evakuasi jenazah pria berjas itu, tangan dan baju Ichwan berlumuran darah korban, karena kondisi badan korban itu sudah sangat rapuh akibat terhimpit bangunan dengan berat belasan ton. “Tapi untung bisa utuh dievakuasinya,” tutur pria asal Medan ini.
Hal senada diungkapkan Ismet, tim evakuasi dari PT Semen Padang mengaku sempat berada dalam ruang pengap tanpa oksigen, sehingga harus mendapatkan bantuan oksigen. Di benaknya terpikir, bagaimana nasib korban yang sudah puluhan jam terperangkap. “Saya saja sebentar di dalam reruntuhan sudah pengap, apalagi mereka,” kata Ismet.
Lain lagi Asyraf Aziz yang ikut mengevakuasi korban gempa di reruntuhan bangunan LBPP LIA Padang. Dia mengaku sempat tak bisa melakukan proses evakuasi karena cuaca tak mendukung. Bahkan pada detik-detik pertama evakuasi, dirinya dan beberapa personel TNI lainnya hanya menggunakan alat manual berupa linggis. “Karena kami tak mau mengambil risiko korban terjebak dan meninggal, jika memakai alat berat,” jelasnya. Dia juga mengaku sempat terpana saat berada di dalam reruntuhan. (Padang Ekspres, Senin 5 Oktober 2009)

22. Ratusan Mayat Ditemukan
Berhimpitan di Lantai III Hotel Ambacang
Akhirnya, upaya pencarian korban yang terjebak di Hotel Ambacang pada hari Senin 5 Oktober membuahkan hasil besar. Hari kelima evakuasi itu, tim SAR telah menemukan ratusan jasad korban di lokasi kolam renang dan ruang pertemuan.
Namun, mayat korban belum bisa dievakuasi karena sulit menembus puing-puing bangunan. Sebuah tiang beton utama hotel, menghalangi tim SAR melakukan evakuasi. Diperkirakan tamu hotel terjebak di lantai tiga dan di dalam kamar. Sebagian tubuh korban telah terdeteksi tim SAR.
“Jumlahnya mencapai ratusan jasad. Sulit melakukan evakuasi karena banyak tiang-tiang gedung yang menjadi hambatan. Kalau dipaksakan, gedung akan runtuh. Tim evakuasi berusaha memotong tiang beton tersebut,” ujar Musdi, koordinator tim evakuasi.
Lokasi jasad korban tersebut telah dipasangi bendera warna merah. “Umumnya korban berada di lantai tiga, tempat acara berlangsung di dua ruangan, serta di kolam renang,” ujar Musdi sambil terus memantau proses evakuasi.
Beda dengan anggota tim SAR, seorang tamu hotel yang selamat, Yusri, memperkirakan hanya puluhan mayat tampak potongan tubuhnya di lantai tiga hotel. “Saya kira hanya puluhan saja. Jasad abang saya, Yusra, juga tampak berhimpitan bersama jasad lainnya. Yang saya lihat hanya tangan kakak saya. Saya bisa mengenali jasad kakak saya walaupun hanya melihat jam tangan serta baju yang dikenakan,” ujar Yusri disela-sela evakuasi.
Saat gempa terjadi, Yusri bersama kakaknya mengikuti kegiatan Prudensial.
Tim evakuasi juga telah menemukan salah satu barang-barang milik salah seorang pramugari Maskapai Penerbangan Lion Air bernama Nita. (Padang Ekspres, Selasa 6 Oktober 2009)

23. Kisah Penghuni Ambacang yang Selamat
Dwi Budianto mau Shalat Ashar
“Astagfirullah, Allahu Akbar, selamatkan hamba dari maharabahaya ini ya Allah. Ya Allah hamba belum siap menghadapMu, karena belum Shalat Ashar,” kalimat tersebut terlontar dari bibir Dwi Budianto, 48 tahun ketika guncangan gempa berkekuatan 7,9 SR melanda Kota Padang dan sekitar Rabu 30 September. Saat itu ayah dua anak ini tengah berada di kamar 336 di Hotel Ambacang, untuk Shalat Ashar dan istirahat.
Sekitar pukul 19.00 wib nanti, dia akan menjadi narasumber bagi 30 peserta bimbingan Teknis Pengembanan Produk Nilai Tambah Tinggi yang diselenggarakan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Barat.
Pikiran pria yang berprofesi sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Hasil Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan melayang, teringat kedua anak dan istri yang masih membutuhkan dirinya di rumah, apalagi dosa-dosa selama ini. Saat guncangan berlangsung, tidak henti-hentinya, pria berkumis itu meminta pertolongan yang di atas.
“Saat goncangan berlangsung saya baru sampai ke dalam kamar. Lima menit masuk kamar, secara mendadak, guncangan hebat terjadi. Saya panik, karena kunci kamar tidak bisa dibuka. Lalu tampak sebuah meja di sana, dan saya berinisiatif untuk menyelamatkan diri di bawah meja tersebut. Tak lama berselang, bangunan runtuh lantai atas memimpa meja, tapi anehnya saya tidak terluka satupun. Lalu, terdengar sayup-sayup orang minta tolong, dan menyebut asma Allah,” ungkap Dwi kembali mengingat kejadian Rabu kelabu itu.
Di bola matanya terlihat kesedihan dan trauma mendalam akan getaran. Dia berhenti sebentar. Lalu, disaat beribu-ribu reruntuhan bangunan memimpanya, Dwi selalu ingat Allah dan dosa-dosanya selama ini. Apalagi anak kedua kesayangannya yang masih membutuhkan. “Mungkin doa-doa mereka selama ini yang menyelamatkan saya dari reruntuhan ini,” ungkapnya dengan nada kangen melepas rindu kepada keluarganya di Jakarta.
Tak lama berselang, dia menendang sebuah batu kecil, dan melihat sedikit lobang cahaya. Lalu dia menendang kembali, hingga nampak lobang yang besar.
Beruntung dia berhasil melewatinya hingga selamat. “Saat saya selamat, tersebut pakaian saya compang-camping, tak satu pun yang berhasil terselamatkan, kecuali baju yang dipakai,” ungkapnya.
Dia bersama temannya, Azinar Chaidir datang ke Padang atas undangan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Barat. Rencananya keduanya sebagai instruktur. Dan akan memberikan sedikit ilmunya sekitar pukul 16.00 wib. Namun, karena saat itu, narasumber dari Bank Nagari, juga ingin memberikan. pelajaran. Hingga akhirnya, jadwal ceramahnya ditunda hingga pukul 19.00 wib.
“Lalu, kami berdua kembali ke kamar, karena saya belum sholat ashar. Lima menit berselang, guncangan hebat terjadi. Pandangan saya kabur dan tertutup debu. Saat guncangan tersebut saya sempat, memanggil Azinar yang berada di kamar 338,” ucapnya.
Karena dia berangkat dari Jakarta bersama dengan Azinar Chaidir dan sampai di Bandara Internasional Minang Kabau (BIM) sekitar pukul 11.00 wib. Lalu panitia menyediakan penginapan untuk keduanya di Hotel Ambacang Padang. Sesampai di sana keduanya langsung check in. Ternyata, hotel penuh dan mereka menunggu untuk check in hingga pukul 13.30 wib.
Ternyata guncangan melanda bumi persada Bundo Kandung ini telah memisahkan dia bersama Azinar Chaidir. Hingga, hari Minggu tanggal 4 Oktober tim evakuasi belum menemukan mayat temannya tersebut. Suami tercinta Azinar Chaidir dengan setia menunggui Hotel Ambacang, dengan perasaan sedih yang mendalam dia bertanya kepadaWalikota Padang. “Sampai kapan pencarian ini akan berlangsung,” ungkapnya dengan nada sedih.
Sang walikota benjanji pencarian akan tetap berlangsung hingga semua korban reruntuhan 30 Gempa September berhasil ditemukan. Perasaan lega terpancar di raut wajah lelaki separo baya itu.
Hal yang sama juga dilakukan keluarga Asmidar, 50 tahun. Semenjak Rabu 30 September lalu, seluruh saudaranya menunggu di depan hotel Ambacang. “Kami akan tetap menunggu sampai mayatnya ditemukan, ujar kakak ipar Asmidar, Entri.
Entni mengatakan, terakhir kontrak dengan adik iparnya tersebut, pukul 3.00 wib. Dimana percakapan tersebut, dia bersama tiga temannya bergurau, akan menginap di Hotel Ambacang. Kata-kata tersebut masih terngiang-ngiang di telingganya.”
Saya melihat saudara saya itu pergi ke Hotel Ambacang dengan pakaian lengkap dan serba rapi. Dan saya tidak menyangka gempa ini, memisahkan kami,” ungkapnya. (Singgalang, Senin 5 Oktober 2009)

24. Separuh Murid SD Tertimbun
Kabar duka dari Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman kian mengiris hati. Di Korong Sumanak, Kenagarian Tandikek Mudiak Padang, sebuah gedung SD rata tertimbun longsor. Tragisnya, hampir separuh peserta didiknya, terkubur hidup-hidup. Akibatnya, proses belajar mengajar yang sedianya dimulai, akhirnya diganti aktivitas pendataan korban.
Sekolah itu adalah SD Negeri 14 Pulauaia. Dari 103 murid, separuh tewas tertimbun. Seorang guru yang tinggal di kompleks sekolah itu, ikut menjadi korban bersama anggota keluarganya.
Guru itu bernama Marnis, guru kelas VI dan suaminya Basir, beserta tiga anaknya.
Dari informasi di lokasi kejadian, saat itu tidak ada proses belajar mengajar. Para guru dan murid baru saja bergotong royong membersihkan sekolah sejak siang.
Semua murid telah pulang ke rumah masing-masing. Hanya satu guru dan keluarganya saja yang tinggal di sana. Tanpa diduga, tiba-tiba gempa mengguncang hingga longsor menimbun kompleks sekolah dalam sekejap.
“Hampir separuh murid kami yang jadi korban tertimbun longsor, tapi jumlahnya belum pasti. Sebab, belum semua murid kami temukan,” ujar Kepala SD Negeri 14 Pulauaia Patamuan.
Sebagian besar murid SD Negeri 14 itu berdomisili di ketiga korong yang tertimbun longsor.
Pada gempa September 2007 lalu, gedung SD ini juga rusak parah. Setelah direhab, sekolah itu lalu ditempati kembali. SD ini memiliki taman yang indah dan asri.
Di sekolah itu hanya ada 8 guru termasuk kepala sekolah dan satu penjaga sekolah. “Baa lai pak, sadonya lah anyuik kini (Bagaimana lagi pak, sudab habis semuanya sekarang),” ujar Kepala tersebut lirih.
Belajar di Tenda
Aktivitas di SD Negeri 14 telah dimulai. Guru bersama warga sekitar, bahu-membahu mendirikan posko bencana, persis di atas sekolah mereka yang tertimbun.
Hanya ada empat guru yang hadir mendampingi Usmar. Mereka tidak berseragam. Saat itu, memang aktivitas belajar mengajar belum dimulai.
Beratap reruntuhan sebuah rumah warga, Usmar memajang foto-foto sekolah yang baru beberapa minggu lalu diabadikan. Guru lainnya sibuk menyalin nama-nama peserta didik yang diduga tewas tertimbun. Menurut Usmar, pihak Disdik Padang Pariaman telah mendata sekolah itu. Namun, kapan proses belajar dimulai, belum bisa dipastikan.
Tiga Korban Ditemukan
Proses pencarian dan evakuasi korban terus dilanjutkan. Alat berat atau eskavator telah ditambah. Ada 7 eskavator di lokasi longsor di Kenagarian Tandikek. Sebagian lagi diarahkan ke Lubuk Laweh.
Pada evakuasi Senin tanggal 5 Oktober, tiga korban tewas berhasil ditemukan. Jenazah pertama adalah anak kecil. Saat ditemukan, tubuh mungil itu terjepit di antara dua pohon pinang yang tumbang dan tertimbun tanah. Saat itu, pencarian telah dilakukan pada kedalaman 5 meter.
Begitu mencium bau tak Sedap, tim rescue langsung menggali tanah longsoran. Tubuh bocah itu terimpit pohon pinang, dengan posisi tangan sedang memeluk pohon pinang itu. Mungkin, ketika itu dia mencoba bertahan dan berlindung.
Tak jauh dari jasad bocah itu, tim rescue kembali menemukan satu korban lagi. Saat ditemukan, kondisinya mengenaskan. “Korban yang berhasil ditemukan sampai tanggal 5 Oktober sore telah 47 orang. Hari Minggu 4 Oktober ditemukan 7 orang dan hari Senin 3 orang,“ ujar Kasi Sosial Kecamatan Patamuan, Amrizal.
Kuburan Massal
Masih di Korong Sumanak, tim evakuasi membuat lubang sekira 5 X 3 meter. Lubang itu akan digunakan sebagai kuburan masal. Kuburan itu berada di bawah pohon kelapa dan pohon durian.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga telah berencana menjadikan tiga korong atau dusun di Lembah Gunung Tigo, Kenagarian Tandikek, Kecaniatan Patamuan, sebagai kuburan massal. Sedikitnya, 300 orang masih terkubur tanah longsor di lembah Gunung Tigo dan sulit dievakuasi. (Padang Ekspres, Selasa 6 Oktober 2009)

25. Rakyat Dibiarkan dalam Ketakutan
Rembulan terlihat suram menempel di langit tua. Senyap, Sabtu malam 3 Oktober Kapao Koto di Jorong Pulau Air Tandikek, Padang Pariaman, tenggelam dalam malam yang ketakutan. Di sebuah rumah yang, Asrizal 41 tahun duduk di bangku di sisi mejanya. Ia menyeduh teh sendirian, menghirup rokok kretek merek Jingga. Rabu lalu, rumah istrinya itu, nyaris rubuh akibat gempa kuat. Rumah itu, ditopang kayu. Jika topangannya dicabut, maka runtuhlah rumah itu.
Malam yang temaram, membantu kaki melangkah mendekati rumahnya. Ia segera beranjak ke lantai, menggeser lampu togok yang dibuat di botol minuman Fanta. Asap hitamnya, melayang di udara. “Silahkan masuk, hati-hati,” katanya.
Kami masuk ke runah kecil itu. Sebuah lemari pakaian dan lemari makanan masih tersisa, kemudian dinding yang rapuh, jenjang yang goyang. Hanya itu yang ada di atas rumah. Isterinya, Kamelia 40 tahun tidak di sana. Ia tidur di tenda bersama empat orang anak-anaknya, Asri Amelia Rahmi, Vera Yulianti, Muhamad Abrar dan Muhammad Iiham. Keempat anaknya, sedang trauma, seperti juga dirinya sendiri. Rumah yang dibuat tahun 1994 itu, adalah surga bagi Asrizal dan Kamelia. Tapi kini, sudah, tak bisa lagi ditempati lagi.
Asrizal melayangkan pandangannya kepada orang yang datang bertamu hampir mendekati malam buta. Ia menggeser ke tengah lampu togoknya. “Gelap, tak ada listrik, kami tak diberi diesel,” katanya memberi penekanan bahwa gelap benar-benar menyiksa. Baru saja ia selesai bicara, masuk mertuanya, Ibuk Am. Wanita bergigi platina ini, menyuguhkan kami sisa kue lebaran.
“Makanlah nak, makanlah, iko kue amak lainnyo,” katanya. Kami pun merobek plastik kue yang kami bawa dan meletakkannya di tengah-tengah tempat kami duduk.
Kapalo Koto, Pulau Air adalah desa terakhir yang bisa diinjak kendaraan. Seratus meter di atasnya, yang terlihat hanyalah tanah yang robek. “Di sini sekolah, di sana rumah ibu Marnis. Ibu guru Marnis dan suaminya Basyir serta tiga anaknya semua perempuan terkubur hidup-hidup. Sabtu sore, ibu guru Marnis yang sudah mengajar di sana selama 25 tahun ditemukan.
Asril mengganti rokoknya. Ia berusaha untuk tenang. Dan ia agak ‘berdarah’ ketika familinya yang lain juga masuk rumah. Ada Ardianto, perantau di Jakarta yang bergegas pulang, demi mendengar Padang Pariaman luluh lantak. Ada perantau dari Pekanbaru dan beberapa warga lainnya.
Mereka curhat ketiadaan makanan, tidak adanya genset dan anak-anak yang trauma. Di kampung mereka ada posko tim SAR. Malam itu, bau mayat menyengat dari posko yang gelap gulita itu. Aparat pemerintah entah di mana. Posko tempat Brimob dari Sumatera Selatan berposko, gelap seperti kampung yang ditinggalkan. Tak ada air, hanya tenda Depsos yang kedinginan. Aparat datang berduyun-duyun menampingi tamu-tamu dari pusat, tapi mereka tak membawa apa-apa.
Asrizal mempererat duduknya. Lelaki ini saat gempa baru saja pulang mengambil upah menyabit padi orang. begitu sampai di rumah, ia disambut gempa dahsyat. Ia selamatkan anak dan istrinya. Setelah itu, episode buruk dalam kehidupannya pun dimulai.
Malam-malam kemudian mereka lalui di alam terbuka. Angin malam adalah lawan yang kuat untuk kesehatan.
Sementara di luar sana, di Pariaman dan jalanan lain, bantuan menumpuk, apalagi di Posko Kota Pariaman. Jika saja batasan geografis diabaikan, maka bantuan bisa disebar ke seluruh wilayah.
Di jalanan dari Padang sampai ke Pariaman, banyak orang baralek. Malah menjelang Tandikek masih saja orang (baralek) pesta pernikahan dengan tenda yang meriah. “Tak ado hati, urang bakabuang, inyo baralek juo, meriah-meriah juo,” kata sejumlah warga. Baralek, ya Tuhan.
Kapalo Koto makin larut. Embun telah turun. Lokasi bencana sudah lama tersungkup malam yang perkasa. Seperti tak ada orang di Kapalo Koto. Kami pamit. Warga meminta agar ke kampung mereka diantarkan genset, makanan dan tenda. Bahkan Asrizal meminta di desanya dibangun posko induk. Mana pula pemerintah peduli akan hal itu.
Jorong Pulau Air, Lubuak Laweh, Cumanak, kenagarian Tandikek, benar-benar tenggelam dalam larutnya malam. Sepertinya daerah ini bukan bagian dari tragedi bencana gempa. Warga menjerit minta bantuan, tapi bantuan menumpuk entah di mana.
Kami tinggalkan petugas dari PT Jaya Konstruksi yang baru saja mengantarkan alat berat. Di tengah jalan, kami temukan warga sedang menguburkan tiga jenazah. (Singgalang, Senin 5 Oktober 2009)

26. Ribuan Rumah Hancur di Painan
Dampak gempa yang melanda Kabupaten Pesisir Selatan, dari penghitungan sementara nilai kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan lebih dari setengah triliun rupiah. Infrastruktur yang terkena berupa rumah warga, sarana ibadah, sekolah, sarana kesehatan, kantor pemerintah, jalan, jembatan dan fasilitas umum lainnya.
Data dari Posko Bencana Gempa Pesisir Selatan menyebutkan, 1.331 unit rumah rusak berat, 3.057 rusak sedang, dan 9.017 rusak ringan. Sembilan orang warga meninggal dunia, tujuh luka berat dan 20 orang luka ringan.
Warga korban gempa saat ini, ada yang masih bertahan tinggal di tenda darurat, sedangkan sebagian lainnya memilih tinggal di rumah saudara terdekat. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, dan sangat mengharapkan bantuan.
Dedeh 40 tahun warga Kampung Ampuan, Kenagarian Lumpo Kecamatan IV Jurai, menuturkan, sejak rumahnya hancur dihoyak gempa hingga rata dengan tanah, ibu empat anak itu terpaksa tinggal di rumah papan sudah lapuk dimakan usia yang merupakan milik orang tuanya.
“Kebetulan rumah amak awak ko lai kosong (kebetulan rumah ibu ini kosong), kami sakaluarga tinggal sajo di situ (tinggal saja di situ). Tapi kondisi rumah ko ndak lo rancak, kalau hari hujan, basah. Karano atoknyo bocor (tapi kondisi rumah tidak bagus, kalau datang hujan kita basah, karena atapnya sudah bocor). Maklumlah rumah lah lamo ndak bahuni (maklumlah rumah sudah lama tidak ditempati),” ujar Dedeh yang baru saja berstatus janda.
Untuk urusan makan, sejak kejadian gempa ia mendapat bantuan beras dari pemerintah. Sehingga empat anaknya tetap bisa makan dan tidak kelaparan.
Di Nagari Lumpo terdapat sebanyak 15 unit rumah hancur, 161 rusak berat, 360 rusak sedang dan 256 rusak ringan. Tidak ada korban jiwa di nagari itu akibat gempa.
Harga sembako naik
Dampak gempa, ternyata membuat harga sembako melambung. Seperti cabai merah tiba-tiba meroket sampai Rp 50 ribu perkilogram. Soalnya pasokan dari berbagai daerah ke Kota Painan tidak masuk. Hal yang sama juga terjadi pada gula pasir. Saat ini di tingkat pengecer harga jual gula mencapai Rp12.000 perkilogram, sebelumnya hanya Rp 8.500 perkilogram.
Menurut Reni, salah seorang pedagang di Pasar Inpres Painan, kenaikan harga dipicu karena pasokan barang dari Padang terputus total sejak kejadian gempa. Sementara permintaan tetap berlanjut setiap hari.
“Tidak lama lagi stok barang akan habis. Sementara pasokan dari Padang tidak ada. Sehingga kondisi ini yang membuat harga menggila” ujarnya.

27. Anak Awak Tatimbun katiko Mengaji
Sore hari menjadi waktu membahagiakan. Semua anggota keluarga berkumpul dan melakoni aktivitas masing-masing. Ibu memasak, anak-anak asyik bermain. Namun rutinitas itu terenggut setelah peristiwa memilukan, Rabu sore 30 September pukul 17.16 wib.
Mendadak tanah bergoyang kuat dan menghancurkan semua yang berdiri di atasnya. Dalam waktu bersamaan, suara gemuruh dari atas rumah warga di Desa Tandikek, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman, kian nyaring. Tanah bergerak begitu cepat. Semua pepohonan di atas bukit itu, tumbang terbawa longsoran tanah mengubur ratusan rumah warga.
Dalam tempo singkat, Desa Tandikek disulap menjadi kuburan massal tanpa ada seorang pun yang merencanakan. Semua hanya nasib dan tinggal sebuah cerita tentang kesejukan udara kampung tercinta.
Selama dua jam terkubur dalam reruntuhan bangunan dari tanah longsor, di balik beton yang jebol terdengar suara seorang perempuan minta tolong. Ternyata benar, masih ada beberapa nyawa yang hidup di balik reruntuhan bangunan dan timbunan tanah longsor itu.
Seorang gadis berlari menghampiri suara tersebut, tanpa mempedulikan. risiko yang akan dihadapinya. Ia bertarung dengan longsoran tanah yang masih bergerak liar.
Spontan gadis itu menjerit histeris ketika melihat sebagian tubuh kakaknya tertimbun tanah. Kepalanya terjepit reruntuhan bangunan. Ia bingung mau bagaimana. Akhirnya, gadis tersebut berteriak lebih keras meminta tolong. Selang beberapa menit, lima warga menyatukan ototnya untuk menyelamatkan perempuan yang masih memiliki harapan untuk hidup itu.
Rosmawati, 29 tahun seorang ibu rumah tangga bersama ketiga anaknya terjebak dalam reruntuhan bangunan dan timbunan longsor. Namun warga hanya bisa mengevakuasi dirinya dan bayinya Aini, 1,5 bulan.
Tubuhnya masih letih ketika sampai di RSUP Padang Pariaman. Secara perlahan, Ema yang akrab disapa tetangganya itu, berbagi dukanya itu. Rasa trauma terlihat diraut wajah ibu tiga anak itu terlihat luka.
Sore itu, ia sedang memasak di dapur menyiapkan sajian makan malam sambil meninggalkan bayinya yang masih tertidur lelap di kamar. “Anak awak Rahma Indri Yeni Safitri, 8 tahun sedang mengaji di teras rumah. Adiknya, Aril Hasnul Firdaus, 4 tahun bermain di halaman rumah,” katanya.
Ketika gempa mengguncang, Ema sempat lari menyelamatkan diri dari petaka yang mengincarnya. Sebelum berlarii, ia masih menyempatkan pergi ke kamar menggendong anak. Ternyata bangunan rumah itu tidak sekuat yang diduganya.
“Ketika getaran gempa terasa, saya langsung menuju kamar dan keluar bersama Aini. Baru sampai ruang tamu, tembok (dinding) rumah sudah ambruk miring. Tanah menimbun rumah kami,” kenang Ema sambil menangis tergagap-gagap.
Mujurnya, Ema masih memeluk bayinya di bawah reruntuhan tembok. Namun beberapa puing-puing bangunan lainnya sudah menimpa bagian wajahnya, sedangkan kaki bayinya terjepit kayu dan atap rumah.
“Sekitar pukul 9.00 wib saya dan suami dibawa ke RSUD Padang Pariaman untuk mendapatkan perawatan. Setelah diperiksa, ternyata kaki Aini di bagian pergelangan mata kakinya patah. Sampai saat ini, Aini terus menangis merasakan sakitnya bagian tulang kakinya,” keluhnya sambil sesaat mengusap dan mencium kening bayinya.
Biarpun selamat, tapi dukanya terasa menyakitkan. Sudah tiga hari pascagempa dan longsor, kedua buah hatinya belum ditemukan. Keduanya diyakini tertimbun longsor bersama bangunan rumahnya.
Ardi Saputra, 31 tahun suami Rosmawati juga menceritakan, saat terjadi gempa dan tanah longsor itu ia berada di halaman rumah. Namun kakinya juga terjepit reruntuhan bangunan saat akan masuk rumah untuk menyelamatkan anak dan istrinya.
“Begitu gempa mengguncang, saya langsung lari masuk rumah menyelamatkan anak dan istri. Sebenarnya kalau tidak terjadi longsor kami sekeluarga selamat. Sebab reruntuhan bangunan rumah kami tidak parah,” tuturnya sambil memeluk istri dan bayinya yang masih terus menangis.
Ardi menambahkan, tanah longsor tersebut menimbun tiga kampung yang ada di Tandikek. Di antaranya, Kampung Lubuk Laweh, Cumanah, dan Polo Koto. Ketiga kampung tersebut nyaris hilang tertimbun tanah bersama ratusan warga.
“Sampai saat ini masih ratusan warga tertimbun. Sekarang kampung kami sudah hilang tertimbun dan tak ada yang bisa diselamatkan. Hanya baju di badan satu-satunya harta yang tinggal,” katanya. (Padang Ekspres, Minggu 4 Oktober 2009)

28. Ibu Pergi, Setelah Selamatan Adik
Wajah bocah berusia 4 tahun itu masih penuh lebam. Matanya membiru, kulitnya menguning serta wajahnya pucat pasi. Sesekali tangannya bergerak meminta perhatian sang kakak yang duduk dengan setia mendampingi di Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman, Kamis tanggal 1 Oktober siang.
Gadis mungil berkulit kuning langsat itu bernama Ayu. Dia hanya bisa terbaring lemah di atas sebuah tempat tidur di tengah puluhan orang warga senasib dengannya yang juga terbaring, baik di tempat tidur maupun lantai rumah sakit. Sang Kakak, Leni, 16 tahun hanya bisa mengusap-usap rambut adiknya untuk menghibur, agar tak ada rasa sedih di wajahnya.
Mereka adalah dua orang piatu, karena sang ibu serta salah seorang adiknya meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan bangunan tempat tinggalnya saat gempa berkekuatan 7,9 skala richter yang berada pada episentrum 57 km dari Pariaman. Karena sang ayah tak berada di dekat, mereka hanya bisa saling menutupi rasa sedih satu sama lain dengan berkisah hal-hal kecil saja.
“Sembuh ya dik, cepat sembuh, biar kita bisa pulang,” bujuk Leni dengan suara lembut nyaris tak terdengar kepada Ayu yang hanya bisa terbaring lemah dengan memicingkan kedua matanya yang membengkak.
Tak tahu persis apa yang menjadi penyebab wajah sang adik menyembab menguning dan membiru itu, karena, menurut informasi yang diperoleh, adiknya, Ayu tidak terkena reruntuhan. Ayu menjadi salah satu anggota keluarga Leni yang selamat setelah paristiwa naas yang meluluhlantakkan hampir seluruh lingkungan di seputar tempat tinggalnya di Sungai Sariak, Ibunya Umai tewas terkubur bersama sang adik, dan jasadnya baru bisa dievakuasi setelah para tetangga dan ayahnya Ramilis pulang. Umai dikeluarkan bersama dengan jasad seorang anaknya dalam kondisi berpelukan.
“Ada yang bilang, saat gempa terjadi, ibu berusaha menyelamatkan kedua adik saya, salah satunya Ayu, makanya, saya tak sanggup mengenang ungkapan tetangga soal situasi itu. Saya sedih sekali,” ungkap Leni sambil mengusap-usap kedua belah matanya semenjak awal bertutur sudah basah menyembab.
Kasih sayang ibu tersebut juga yang membuat Leni mengaku tegar untuk menjaga adiknya Ayu yang sedang terbaring lemah di rumah sakit milik pemerintah tersebut. Tak ada sang ayah yang menemani, hanya berdua saja.
Ayah Ayu dan Leni, Ramilis baru saja pulang pada pagi hari dari rumah sakit setelah menemani Ayu.
“Paginya ayah pulang lagi ke rumah, katanya mau memakamkan jasad ibu, tadinya saya ingin melihat, tapi ayah mengatakan sebaiknya saya menjaga Ayu di sini. Tapi sampai sekarang ayah juga belum datang, saya takut ada apa apa lagi,” ujarnya lemah.
Apa yang dialami Ayu dan Leni ini hanya sepenggal kisah sedih dari penampungan korban gempa di Pariaman dan Padang Pariaman yang hingga kemarin sudah memakan korban hampir 104 jiwa. Ada puluhan orang anak seusia mereka bahkan ratusan yang nasibnya serupa.
Ibrar, bocah kelas 4 SD yang sedang termenung di lorong rumah sakit yang sama. tampak hanya bisa pasrah. Sepuluh jahitan bersarang dikepalanya. Penyebabnya, tak lain karena terkena sambat berlindung di dalam rumah.
Sang ibu tak henti meratapi dengan wajah sedih bukan saja karena anaknya yang harus mendapat perawatan khusus dan diperban pada bagian kepala, namun juga dikarenakan mereka tidak tahu harus pulang ke mana lagi. “Rumah kami sudah hancur, rata dengan tanah, sanak saudara dan tetanggapun begitu, kami tak tahu harus pulang ke mana,” ujar Erna dengan suara lirih di dekat sebuah pembaringan.
Nasib memilukan juga menimpa Yudha Rahmatullah (3 bulan) anak dari Kambang Manih, 30 tahun yang tewas dengan tragis karena tubuhnya tertimbun reruntuhan saat hendak diselamatkan sang ibu. Bayi dengan tangan sudah terikat dan tubuh tarbujur kaku itu wajahnya membiru sembab, dia tak tersenyum lagi, hanya diam di samping jasad ibunya, Kambang Manih dan neneknya, Masnah, 70 tahun.
Sampai hari Kamis tanggal 1 Oktober siang, jasadnya pun belum diambil oleh sanak keluarga. “Nanti siang kami akan memberitahukan lagi kepada para kerabatnya, agar segera dimakamkan selayaknya,” sebut dr Hj. Asmayeti, dokter di Puskesmas Sungai Limau.
Beberapa orang balita lainnya pun terlihat lemah tanpa daya diterpa guncangan gempa yang dianggap oleh sebagian besar warga di Padang Pariaman dan Pariaman sebagai pertanda tsunami itu. Salah satunya Ardi yang hanya bisa terdiam dengan tubuh bergetar tanpa diketahui apa penyebabnya.
Sang ibu, hanya bisa menangis dan meneteskan air mata dengan menempelkan wajahnya ke wajah sang putra yang hanya bernafas satu-satu itu.  Tak ada sahutan dan sang ibu ketika ditanyakan kondisi anaknya, dia hanya memeluknya erat seerat-eratnya sambil menangis tanpa sedikitpun bersuara. (Padang Ekspres, Jumat 2 Oktober 2009)

29. Membuka Jalan Hidayah bagi yang Berpikir
“Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Tegaklah ke dalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat. Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya. Kita mesih tabah menjalani, hanya cambuk kecil agar kita sadar adalah Dia di atas segalanya. Anak menjerit-jerit, asap panas membakar, lahar dan badai menyapu bersih, ini bukan hukuman, hanya satu isyarat, Bahwa kita mesti banyak berbenah.”
Kutipan bait per bait lirik lagu ciptaan Ebit G Ade tersebut pantas direnungi semua pihak. Allah yang. menguasai langit dan bumi. “Dia bisa membuat apa saja mulai dari gempa bumi, bencana alam alam ciptaan-Nya kapan saja dan di mana saja. Namun dari semua itu tentu ada hikmah, pelajaran yang harusnya bisa dibaca dari tanda-tanda itu,” kata Bupati Pasaman Yusuf Lubis, di sela-sela kunjungan runtuhnya ratusan rumah di Nagari Binjai, Kecamatan Tigo Nagari, Pasaman.
Yusuf mengatakan warga senantiasa diminta untuk menyikapi bencana dengan ikhlas dan tawakal. Musibah tidak akan bisa ditolak dan selalu diikuti sejumlah hal yang bermuara pada hikmah dalam kehidupan manusia. “Bencana jangan dianggap semata-mata hal yang merugikan. Justru harus kita petik hikmahnya karena akan diikuti terbukanya jalan hidayah, rasa empati atas penderitaan orang lain, bahkan pencapaian keseimbangan dalam kehidupan ini,” kata Yusuf Lubis.
Gempa yang melanda Rao Pasaman, Padang, Padang Pariaman serta Kerinci dalam selang waktu yang tidak jauh berbeda harus dipahami suatu kekuasaan dari Sang Khalik. Karena kita harus selalu berpikir positif dari setiap kejadian mendapatkan hikmah yang terkandung di dalamnya.
Pemaknaan dengan yang benar diharapkan akan membawa kebaikan bagi semua warga di Sumbar, “Hal terpenting dalam menghadapi musibah, bagaimana sikap kita dalam berhadapan dan mengambil hikmah dari sebuah musibah yang Allah berikan pada kita,” kata Yusuf Lubis.
Dikatakan Yusuf Lubis, salah satu hikmah dari bencana secara riil di depan mata, terwujudnya kebersamaan. “Warga yang menyaksikan saudara-saudara mereka yang tertimpa bencana alam sudah semestiuya ikut prihatin dan memberikan bantuan, baik moril maupun materil, sebagai wujud ukhuwah islamiyah, karena saat ini adalah mereka yang merasakan belum tentu besok atau lusa,” terang Yusuf Lubis.
Bencana ini dapat dijadikan sebagai wahana untuk introspeksi diri. Bagi yang merasa ini merupakan ujian, maka ibadah harus lebih ditingkatkan lagi. Akan tetapi apabila merupakan siksa (na’udzu billah), maka harus memutar arah menjadi manusia yang berbakti. Apakah kita termasuk golongan yang mendapatkan ujian, atau golongan yang mendapatkan siksaaan. Jawaban ini tergantung pada individu masing-masing.
Kerugian dari adanya bencana bukan hanya berakibat pada kerusakan fisik saja, seperti ambruknya rumah, nyawa yang melayang dan sebagainya. Akan tetapi menimbulkan akibat buruk bagi psikis. Hal ini merupakan kesempatan bagi yang diberi keselamatan oleh Allah untuk tolong-menolong dalam kebaikan, kesempatan untuk membuktikan kekuatan iman yang ada pada diri, solidaritas sesama manusia dalam bentuk bantuan fisik dan doa.
Secara terpisah, Ustadz Syafrizal mengatakan banyak hal yang dapat dipetik dan diambil hikmah atas terjadinya gempa. “Kalau kita pikirkan, mungkin bisa dikatakan bahwa kejadian ini adalah peristiwa alam semata. Akan tetapi, alam ini ada yang memiliki, Allah Yang Maha Kuasa. Dan Allah pun menjelaskan penyebab kerusakan di muka bumi ini,” kata Syafrizal, usai gelar shalat ghaib.
Ulah manusia menjadi salah satu penyebab adanya kerusakan di muka bumi. Bencana alam seperti banjir, longsor, global warning dan sebagainya merupakan akibat dari tangan manusia yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi, mengabaikan akibat buruk yng ditimbulkan dari perbuatannya itu.

Artinya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).” (QS.30:41).
Suatu bencana bukan hanya ditimpakan bagi orang yang melakukan kesalahan saja. Orang yang berbuat baik pun mendapat bagian. Bencana, bagi orang yang beriman merupakan ujian dan bagi orang sebaliknya, merupakan siksaan. Bagi orang yang beriman, bencana itu merupakan ujian. Sebagaimana firman-Nya:

Artinya :
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.2:155). (Padang Ekspres, Selasa 6 Oktober 2009) 

30. Bocah-Bocah Mengemis Sepanjang Jalan
Gempa bumi berkekuatan 7,9 skala richter, benar-benar meluluh lantakkan kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Bahkan, ratusan bocah usia sekolah di Kabupaten Padang Pariaman, kini terpaksa meminta-minta sepanjang jalan raya. Sampai kapan mereka begini? Siapa peduli masa depan mereka?
“Tolonglah Pak. Tolonglah Bu. Beri kami sumbangan. Ala kadarnya saja. Rumah kami kanai gampo (kena gempa).
Nada penuh hiba itu mengalir dari mulut Bella, bocah perempuan yang duduk di bangku Kelas V SD Negeri 01 Sicincin Kabupaten Padang Pariaman, ketika meminta sumbangan di Jalan Raya Bukittingi-Padang, tepatnya di Dusun Pila Jaya, Korong Kiambang, Nagari Lubuak Pandan, Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung, Padang Pariaman, Senin 5 Oktober, sekitar pukul 13.30 wib.
Siang itu, Bella tidak sendiri. Bersama belasan teman-teman sepermainannya, termasuk El yang tercatat merupakan pelajar kelas III SD Muhammdiyah, dia dengan cekatan menyetop mobil atau sepeda motor yang melintas di Dusun Pilla Jaya. Kemudian, menyodorkan bekas kardus mie instan berisi uang recehan dan ribuan kepada para pengemudi.
“Hari ini, belum banyak yang Bella dapat Bang,” akunya polos, sambil membetulkan letak topi berlambang klub sepak bola asal Italia, Inter Milan.
Bella sendiri mengaku, sudah tiga hari berada di jalan raya, untuk mendapatkan lembaran rupiah dari para pengemudi yang peduli terhadap nasib mereka korban gempa. Setiap hari, uang yang ia kumpulkan bersama teman-temannya cukup banyak juga.
Sayang, jumlahnya Bella tak tahu pasti. Tapi, menurut bocah yang hari itu mengenakkan kaos kuning, celana coklat, dan sandal jepit merah, uang sumbangan yang mereka peroleh bisa digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan pokok, terutama beras, mie instan, dan air kemasan.
Pengakuan Bella, secara tersirat dibenarkan sejumlah warga dewasa yang tinggal Dusun Pila Jaya, seperti Acin 45 tahun, Lina 44 tahun dan Wati 40 tahun. Menurut mereka, sejak gempa terjadi, pasokan kebutuhan sehari-hari di Pila Jaya, memang sangat tersendat.
Sementara bantuan yang didapat dari pemerintah daerah, ‘hanya’ beberapa kilogram beras dan beberapa bungkus mie instan saja. Padahal, mereka tidak lagi bisa beraktivitas atau mencari nafkah seperti sedia kala.
“Untung, ada bantuan dari beberapa warga Sumbar, serta sumbangan dari para pengemudi kendaraan yang dikumpulkan anak-anak. Dengan itulah, kami membeli berbagai kebutuhan pokok,” aku Acin, seraya meminta kepada bocah-bocah, agar tidak terlalu ‘merengsek’ ke tengah jalan.
Hampir Setiap Sudut
Fenomena bocah-bocah korban gempa Pariaman meminta-minta sumbangan di jalan raya, tidak hanya terlihat di Dusun Pila Jaya. Beberapa kilometer dari tempat tersebut, juga nampak hal serupa. Misalnya saja di depan salah satu Sekolah dasar, dalam kawasan Kampung Tangah, Parik Malintang. Kemudian, di Kampung Tangah, Pungguang Kasiak, Kecamatan Lubuak Alung.
Lalu, jika anda masih berputar-putar di Kabupaten Padang Pariaman, banyaknya bocah yang terpaksa meminta juga dapat dilihat di kawasan Sintuk Toboh Gadang, Kecamatan Sintuk, Simpang Taluak Balibis, dan Nagari Pasia Laweh, serta sejumlah kawasan lainnya.
Sama halnya dengan para boca di Pila Jaya, bocah-bocah di tempat tadi, mengaku, juga tidak ‘disuruh’ untuk meminta sumbangan. Namun, mereka sendirilah yang secara sukarela berniat membantu orang tua.
Mereka Juga Punya Masa Depan
Namun, semangat para bocah membantu beban orang tua mereka karena gempa, tentu juga tak bisa dibiarkan berlama-lama. Apalagi menurut informasi sejak Selasa 6 Oktober, sebagian di antara mereka ada yang sudah harus mulai masuk sekolah.
“Kalau dibiarkan terus di jalan, tentu bisa-bisa mereka nanti tidak sekolah. Padahal, mereka juga punya masa depan,” kata Azwardi 46 tahun seorang warga dari Kabupaten Limapuluh Kota yang sempat memberi sumbangan untuk para bocah.
Karena itu pula, menurut Sago Indra, seorang aktifis lembaga swadaya masyarakat yang ikut menjadi relawan gempa di Sumbar, tak ada pilihan yang harus dilakukan, pemerintah daerah bersama Satkorlak, selain memikirkan, bagaimana kebutuhan pokok korban gempa dapat terpenuhi. Sehingga mereka dapat ‘menghentikan’ aksi bocah masing-masing, agar tidak lagi di jalan raya. Mungkinkah?
Evakuasi Terkendala Medan
PT Semen Padang kembali menyalurkan bantuan kepada Satlak Padang Pariaman. Bantuan berupa 10 ton beras, 100 tenda darurat, dua unit ambulans, air minum dan tim medis. Tak hanya itu, PT Semen Padang juga mendirikan dapur umum di Sungai Sirah dan posko utama di Padang Bukik.
“Hari pertama hingga hari ketiga pascagempa, kami fokus mengirim bantuan untuk Kota Padang. Kini, saatnya kami ke luar Padang, mengirim bantuan ke Kabupaten Padang Pariaman. Namun sebelumnya, PT Semen Padang juga telah menyerahkan bantuan Rp l,5 miliar kepada Gubernur Sumbar,” ujar Dirut PT Semen Padang Endang lrzal usai menyerahkan bantuan, di Kantor Bupati Padang Pariaman.
Bantuan diterima Wabup Ali Mukhni didampingi Sekkab Yuen Karnova. “Ini baru bantuan tahap pertama. Yakni, bantuan tanggap darurat. Bantuan-bantuan PT Semen Padang 1ainnya akan menyusul, yakni tahap recovery (pemulihan) dan rekonstruksi nantinya,” tambah Endang.
Tak hanya itu, PT Semen Padang juga mengirimkan bantuan relawan dan alat berat. “Kami menyadari, alat berat masih minim di lapangan. Khusus alat berat, kita berdayakan alat berat yang ada di pabrik, sekitar lima unit. Eskavator kita baru, tiba di Malalak dan Tandikek saat ini,” ulasnya.
Di tempat yang sama, Wabup Padang Pariaman Ali Mukhni mengatakan terbatasnya alat berat, menjadi salah satu kendala untuk mengevakuasi korban. “Medan longsor di Padang Pariaman, sangat sulit. Daerahnya berbukit-bukit. Kami sangat terbantu dengan bantuan alat berat ini,” ulas Wabup.
Ditambahkan Wabup, korban tewas di Padang Paraman mencapai 280 orang, luka berat 260 orang. Sebanyak 31.282 unit rumah rusak berat, 6.947 unit rusak sedang dan 2.386 unit rusak ringan. Korban hilang mencapai 200 orang. (Padang Ekspres, Selasa 6 Oktober 2009)

31. Istighfat Terucap, Longsor Terelak.......
Tuhan menampakkan kuasa-Nya pada keluarga Labai Ayuih. Ketika semua rumah di Kampung Sumanak hilang ditelan longsor Gunung Tigo, rumahnya selamat beserta seluruh penghuni. Bagaimana kisahnya?
Korong Sumanak, merupakan salah satu Korong yang rata dengan tanah ditimbun longsor. Letaknya berada di Kecamatan Patamuan, Kenagarian Tandikek. Hanya 2 km dari Pasar Tandikek atau sekitar 10 km dari Simpang Kotomambang.
Sumanak berada persis di pinggang bukit Gunung Tigo. Di bawahnya mengalir Batang Sumanak. Ketika hari cerah, airnya mengalir tenang. Jika hujan, berubah menjadi ganas. Di sinilah, kampung nan elok ini keluarga Labai Ayuih tinggal.
Pria berusia 56 tahun ini memiliki 6 orang anak. Saat kejadian, hanya anak sulungnya berada di luar rumah. Rumah semi permanen yang dihuni keluarga Labai, persis berada di tengah longsoran. Seluruh rumah permukiman di kampung itu hilang dihantam longsor.
Ajaibnya, tidak sedikit pun material longsor menimbun rumah Labai. Tanah lunak bercampur lumpur itu hanya melewati kiri-kanan rumah Labai, dan menyapu rumah lainnya. Hanya suara gemuruh yang terdengar kala itu. Gunung Tigo mengamuk, menyapu bersih kampung itu.
Sembari menyelamatkan anaknya M Riki 3 tahun, Labai terus beristighfar. Tak ada firasat apa pun yang dirasakannya. Hanya, saat itu anaknya M Riki minta buang air besar. Menurutnya, tidak biasananya Riki buang air besar di sore hari. Beberapa menit setelah Riki buang hajat, gempa besar tiba. Bumi bergetar begitu kuatnya. Labai langsung menyuruh anaknya lari ke luar rumah.
Sekitar 10 menit setelah gempa, terdengar gemuruh di langit. Topografi kampung itu memang berada di kemiringan. Rumah Labai sendiri berada di pinggang bukit.
Gemuruh itu begitu keras. Sehingga pekikan warga nyaris tidak terdengar. Kalah keras dari suara gemuruh longsor. “Awak langsuang ambiak Riki, sudah tuh balinduang di luar rumah (Saya langsung ambil Riki, dan berlindung di luar rumah),” terang Labai.
Seperti dalam mimpi. Labai takjub begitu mengetahui seluruh anggota keluarganya selamat dari maut. Hatinya seketika luluh, saat menyaksikan puluhan rumah tetangganya disapu longsor. Rata dengan tanah. Pemandangan berubah tragis, kampuang nan dicinto hilang. Hanya lumpur bercampur tanah gunung yang tampak. Puluhan orang terkubur di sana.
Sebuah mushalla ikut hilang diterjang lumpur.
Biasonyo, kalau ka sumbayang, hanya ado imam jko awak, tu babarapo padusi. (Biasanya, hanya ada imam, saya dan beberapa jamaah perempuan) yang shalat di mushalla itu,” ujarnya.
Kendati rumah Labai masih utuh, namun Labai berencana tak lagi menetap di situ. Saat ini, Labai terpaksa mengungsi ke rumah kerabatnya di Kampung Paneh. (Padang Ekspres, Selasa 6 Oktober 2009)

32. Kami Yakin, Masih Ada yang Hidup
Empat hari setelah musibah gempa terjadi, Pemprov Sumbar sepakat melakukan pemakaman massal di Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman. Lantas, seperti apakah kondisi nagari yang disebut sebagai “ikue darek kapalo rantau” Minangkabau tersebut?
Bola mata Jawanis 43 tahun nampak sembab. Raut mukanya kuyu. Sekuyu kain sarung yang dipakainya sewaktu menggali reruntuhan bangunan akibat gempa hebat di Korong Jumanak, Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman.
“Lah pai sadonyo Pak. Ndak ado nan tingga lai. (Sudah pergi semuanya Pak, tidak ada lagi yang tinggal). Tolonglah kami. Tolonglah kami,” kata Jawanis sambil mengais puing-puing bangunan rumahnya yang telah rata dengan tanah, Jumat 2 Oktober siang.Waktu itu, di Nagari Tandikek yang memiliki beberapa korong (setingkat dusun), di antaranya Jumanak, Gunuang Tigo, Lubuak Laweh, keadaan amat mencabik-cabik relung hati. Sekitar 90 persen rumah penduduk dan fasilitas umum rata dengan tanah. Ratusan orang diperkirakan tertimbun reruntuhan bukit yang mengitari nagari tersebut.
Sementara bantuan makanan, minuman, pakaian atau obat-obatan belum didapat warga. Begitu pula tim SAR TNI dan Polri, belum ada yang datang untuk mengevakuasi atau mencari ratusan warga yang tertimbun.
Sehingga tak heran, saat itu Nagari Tandikek benar-benar mirip sebuah “perkampungan mati”. Sisi utara Nagari Tandikek berbatasan dengan Kabupaten Agam dan Gunung Tandikek, arah selatan dengan Kenagarian Sungai Durian dan Kecamatan Padang Sago, Kecamatan V Koto sebelah barat, dan Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung serta Bukit Barisan sebelah timur.
Walaupun demikian, Jawanis bersama puluhan warga Tandikek yang masih bertahan hidup, belum mau beranjak meninggalkan kampung mereka yang dalam pameo masyarakat Minangkabau disebut sebagai atau daerah yang terletak antara wilayah rantau (Pariaman, Padang dan lainnya) dengan wilayah darek (Luhak Limo Puluah Koto, Tanah Datar, dan Agam).
“Alun mungkin awak pai dari siko. Kami yakin, masih adoh dusanak nan hiduik. (Belum mungkin saya pergi dari sini. Saya yakin masih ada keluarga dan kerabat yang hidup),” kata Jawanis, ketika disarankan menunggu kedatangan tim SAR di posko-posko terdekat.
Jawanis memang sangat berharap orang-orang terdekatnya selamat dari maut. Sebab, sebagaimana disampaikannya kepada Bupati Limapuluh Kota Arbi yang hari itu memimpin relawan dan Satkorlak Limapuluh Kota dengan ditemani Camat Patamuan Nur Hilda, dan 22 orang anggota keluarga terdekatnya, baru enam orang yang ditemukan selamat.
“Makonyo, awak cari di rumah ko. Untuang-untuang ado juo nan hiduk. (Makanya, saya cari dalam rumah. Mudah-mudahan ada juga yang hidup),” ujar Jawanis, dengan mata berkaca-kaca.
Semangat untuk mencari anggota keluarga yang hilang di Korong Jumanak, Nagari Tandikek, menjelang rencana pemakaman massal di kawasan tersebut, juga diperlihatkan seorang wanita berusia sekitar 24 tahun, asal Lubuk Alung.
“Rumah mertua ada di kampung Jumanak ini. Waktu gempa dia di sini. Saya sekarang mencarianya, mudah-mudahan beliau selamat,” ujar perempuan yang baru datang dari Lubuk Alung tersebut.
Sementara itu di Korong Lubuk Laweh yang merupakan daerah tetangga Korong Jumanak, kodisinya juga terlihat sangat memprihatinkan. Tanah dan pasir putih menimbun rumah-rumah warga. Beberapa rumah gadang kebanggaan orang Minang, nampak tinggal gonjongnya saja.
Dua hari yang lalu, kondisi darurat di Lubuk Laweh belum tersebtuh sama sekali. Namun, tim SAR bersama warga sudah turun melakukan evakuasi dan pencarian. Hasilnya, ada beberapa jenazah yang bisa ditemukan. Sehingga, meski dikurung sedih, warga dan tim SAR masih semangat melakukan pencarian.
Jadi Makam Massal
Pada tempat lain, bersamaan dengan semangat warga dan tim SAR untuk melakukan pencarian di Tandikek, Pemprov Sumbar menyepakati pendirian pemakaman massal di kampung tersebut.
“Berdasarkan keputusan rapat kami akan menjadikan wilayah tersebut (Tandikek) sebagai kuburan massal,” ujar Kepala Biro Humas Setprov Sumbar Dedek Nuzul Putra.
Dalam rapat tersebut, pemerintah akan lebih memfokuskan pencarian pada korban yang kemungkinan masih dapat bertahan hidup dalam reruntuhan bangunan atau yang mengalami cedera. “Juga lokasi ini agak sulit dijangkau dan mereka (korban) sudah tertimbun cukup lama selama 3 hari. Jadi tidak ada kemungkinan hidup,” kata dia sembari menyebut alat-alat berat sangat minim.
Pemerintah daerah pun akan meminta bantuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk meyakinkan keluarga korban agar rela memakamkan keluarganya secara massal.
Namun, rencana pendirian pemakaman massal di Tandikek, belum ditanggapi beberapa masyarakat yang berada di ujung utara Kabupaten Padang Pariaman tersebut. Beberapa keluarga korban justru masih berharap, pencarian dapat dilakukan dalam dua hari ke depan.
“Kalau juga belum ketemu, baru dilakukan pemakaman massal. Sebab kami yakin, masih ada yang hidup,” kata beberapa warga. Mungkinkah? (Padang Ekspres, Senin 5 Oktober 2009)

33. KRI Soeharso Bisa Rawat 500 Pasien
Kapal Republik Indonesia (KRI) Teluk Cirebon dan KRI Dr. Soeharso yang mengangkut bahan logistik bersandar di Pelabuhan Teluk Bayur. Kapal milik TNI Angkatan Laut yang dilengkapi tim medis dan bantuan obat-obatan ini juga berfungsi sebagai Rumah Sakit terapung nantinya.
 “Dua KRI ini juga membawa beberapa alat berat yang akan digunakan nantinya untuk melakukan evakuasi korban yang masih terperangkap,” ujar Dantamal II Padang, Laksamana Pertama (Laksma) Arnold Datuak Batuduang Ameh.
Logistik, alat berat serta tim medis ini akan disebarkan nantinya ke Padang dan Padang Pariaman. “Dua kapal tersebut standby di Pelabuhan Teluk Bayur dalam waktu yang tidak ditentukan, ujar Arnold.
Sejak Senin sore 5 Oktober, KRI Dr Soeharso-990 milik TNI-AL berlabuh di Teluk Bayur untuk membantu penanganan para korban gempa di Sumatera Barat. KRI Dr Soeharso adalah kapal yang juga berfungsi sebagai rumah sakit terapung. Di dalamnya telah siaga tim medis lengkap.
Sekitar pukul 10.00 wib, di sela menangani para pasien, rumah sakit terapung itu dikunjungi Menteri Perdagangan Mari E Pangestu. Saat mendarat di hanggar kapal tersebut, Mari disambut Walikota Padang Fauzi Bahar dan Kepala Dinas Kesehatan Armada Timur Kol dr Arie Zakaria SpOT.
Mari hanya mampir sebentar untuk melihat fasilitas kapal yang memang tidak kalah lengkap layaknya rumah sakit umum. Kapal rumah sakit yang dirancang Korea pada 2003 itu, bahkan dilengkapi ballroom yang kerap dipakai menyambut kedatangan presiden maupun sejumlah pejabat penting lain. Bahkan, Mari kagum saat melihat ruang intensive care unit (ICU) kapal tersebut yang steril. “Korban sepertinya cocok kalau dirujuk ke sini,” ujarnya.
KRI Dr Soeharso-990 berangkat dari Surabaya menuju Jakarta pada Kamis 1 Oktober. Saat tiba di Padang, korban yang ditangani tidak terlalu banyak. Sebab, sebagian besar sudah dirawat di RSUP Dr M Djamil.
Gratis, tak Dipungut Biaya
KRI Soeharso salah satu kapal rumah sakit terapung, keberadaannnya masih belum diketahui masyarakat. Kapal yang bisa merawat 500 pasien tersebut, saat ini baru dihuni 12 orang pasien rawat inap. KRI yang mempunyai perlengkapan layaknya rumah sakit tersebut, dijaga 10 dokter yang standby 24 jam.
Belum banyaknya pasien yang dirawat di kapal rumah sakit tersebut diduga kuat karena kurangnya informasi dari masyarakat takut dipungut bayaran. “Saya tidak tahu kalau kapal ini dijadikan rumah sakit. Saya mengetahui adanya kapal rumah sakit dari tetangga yang bekerja di Teluk Bayur,” ujar Zulfan, pasien yang baru masuk.
Dikatakan Zulfan, untuk ke rumah sakit berobat ia tidak mau karena kurangnya layanan pada pasien sehingga saat ini kaki kirinya yang patah sejak gempa terjadi telah membengkak.
Kurangnya pasien juga diakui Kapten KRI Soeharso, Letkol LautYudowarsono. Menurutnya hingga kemarin baru 12 pasien yang dirawat.
Di kapal ini tidak dipungut bayaran, dan peralatan untuk pemeriksaan pasien yang digunakan juga standar rumah sakit yang berada di darat.
“Kita berharap keluarga korban bisa membawa korban yang terkena gempa ke kapal ini. Di kapal ini tidak dipungut bayaran sepersen pun, karena ini sudah merupakan tugas,” ujarYudowarsono.
Ditambahkannya, untuk korban yang tidak bisa dibawa dengan kendaraan karena ada beberapa ruas jalan yang belum bisa dilalui, juga disiapkan satu helikopter untuk melakukan evakuasi.
“Bagi kawasan yang jauh dari kota Padang, tinggal memberitahukan ke posko TNI AL, dan akan kita jemput dengan helikopter. Sedangkan untuk masuk ke sini pun tidak memerlukan persyaratan yang sulit,” ungkapnya.
Kemarin, pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut sekitar 12 orang. Umumnya korban dari daerah sekitar.
Nuraini adalah salah seorang korban gempa yang dibawa anaknya, Yualfi, ke RS terapung itu. Perempuan berusia 67 tahun itu menderita patah tulang kaki sebelah kiri karena tertimpa pagar rumah.
Sebelumnya, Nuraini dirujuk ke RS Dr M Djamil. Namun, karena di sana terlalu banyak pasien, dia tidak tertangani secara layak. “Dia hanya diinfus. Saya takut kakinya terinfeksi. Akhirnya, saya bawa ke sini,” ujar Yualfi.
Fasilitas RS terapung, kata Arie Zakaria, cukup lengkap untuk memberikan pertolongan. Di kapal itu ada poliklinik THT, anak, penyakit dalam, mata, jantung, bedah, dan jiwa. .Juga ada dua kamar operasi. “Kami bahkan memiliki poliklinik kejiwaan. Sebab, trauma pascabencana pasti terjadi,” ujarnya.
Dia mengatakan, amat penting membawa psikolog. Sebab, berdasarkan pengalaman menangani korban bencana, peran psikolog dinilai sangat penting. “Memang seminggu pertama korban terlihat biasa saja. Karena yang dipikirkan masih keselamatan dirinya. Tapi, setelah itu, mereka sadar tidak memiliki apa-apa. Gejala stres pun bakal terjadi.”
Arie mengatakan, untuk menangani korban di daerah, sudah ada batalyon TNI yang khusus terjun ke lapangan dan menolong. “Para korban yang membutuhkan pertolongan medis akan dibawa ke sini. Bisa melalui perjalanan darat maupun udara. Kami juga sediakan heli,” terang Arie yang kemarin terbang dengan heli untuk memantau para korban gempa yang butuh pertolongan.
Cepat Tangani Darurat
Di antara sejumlah aset Tentara Nasional Indonesia yang dianggap tidak memenuhi unsur kelayakan, masih ada segelintir “harta” yang bisa dibanggakan. Salah satunya adalah armada rumah sakit terapung KM dr Soeharso. Bukan hanya desain yang canggih, kapal itu juga dilengkapi fasilitas medis mutakhir.
Dengan dimensi panjang 122 meter dan bobot saat kosong 11.394 ton, KRI dr Soeharso terlihat menonjol di antara kapal-kapal di sekitar Teluk Bayur.
Kapal dengan daya angkut 11.300 ton dan berkecepatan maksimum 15 knot itu, hanya bisa diparkir pada kedalaman lebih dan 15-20 meter.
Untuk naik turun di kapal lima lantai itu, bisa menggunakan lift. Lantai dua kapal itu terdiri atas ruang-ruang yang merupakan bangsal dan kamar isolasi serta ruang untuk rapat kru dan kamar-kamar kru.
Lantai tiga terdiri atas fasilitas perawatan rumah sakit. Lantai empat dan lima merupakan kamar-kamar kru, ruang pertemuan, dan fasilitas operasional kapal.
Lorong-lorong dan koridor dalam kapal tersebut terlihat sangat rapi dan bersih. Lantai serta tembok kapal terlihat mengkilat layaknya sepatu yang baru disemir. Dalam kamar dan kabin-kabin utama, kasur serta meja terlihat ditata rapi.
Kondisi itu membuat kapal terasa sangat nyaman, walaupun lorong dan kamar terasa lebih sempit jika dibandingkan bangunan biasa. “Kami merawat kapal ini lebih baik daripada merawat diri kami. Sebab, ketika kami melaut, adalah aset utama untuk hidup,” celetuk salah seorang kru yang kebetulan melintas.
Di lantai tiga, seluruh kegiatan medis dipusatkan. Lantai tiga menjadi salah satu bagian vital kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit terapung itu. Lorong-lorong dalam lantai tiga terdiri atas sekitar 40 ruangan kecil yang dilengkapi fasilitas kesehatan lengkap dan memiliki berbagai fungsi.
Melihat ruang operasional dan sarana penunjang kesehatan dibuat sangat lengkap dengan fasilitas medis standar RS pada umumnya. Tiap ruangan didesain layaknya ruang praktik dokter-dokter spesialis.
Dalam ruang poli gigi, terdapat sebuah kursi untuk perawatan dilengkapi rak yang berisi alat-alat operasi gigi dan lampu operasi. Di ruang poli mata juga ada fasilitas untuk operasi kecil serta pengobatan, kapal itu memiliki 75 awak buah kapal (ABK) dan 65 staf medis yang standby setiap saat. Berdasar data yang terpampang di salah satu dinding kabin kapal, secara keseluruhan kapal tersebut mampu menampung 40-100 pasien rawat inap. Jika dalam keadaan darurat, KRI dr Soeharso juga mampu menampung 400 personel dan sekitar tiga ribu penumpang. (Padang Ekspres, Kamis 8 Oktober 2009)

34. Penjarahan Meningkat
Aksi penjarahan semakin banyak terjadi di Kota Padang pascagempa yang meluluhlantakan sebagian kota itu Rabu 30 September. Sedikitnya, 12 orang ditahan polisi akibat perbuatan tersebut.
Kapoltabes Padang, Kombes Pol Boy Rafli Amar, mengakui hal itu. Menurutnya, aksi penjarahan kerap tidak hanya terjadi di pertokoan Pasar Raya, tapi juga perkantoran yang rusak karena gempa.
“Tadi pagi, kita menangkap seorang lagi yang diduga penjarah. Tersangka seorang tukang becak. Aparat kita menangkapnya karena ia membawa barang-barang yang bukan miliknya,” ujarnya di Padang Selasa 6 Oktober 2009.
Dengan penangkapan itu, katanya, berarti sudah 12 pelaku penjarahan yang diamankan di Mapoltabes Padang.
Boy menyebutkan, semua penangkapan itu terjadi karena aparat kepolisian yang tengah berpatroli memergoki orang-orang yang membawa barang dalam jumlah banyak.
“Saat kita tanyai, mereka kelabakan. Karena barang itu bukan milik mereka,” terangnya.
“Tempat kejadiannya beragam. Ada yang di pertokoan Pasar Raya, Sawahan, Sentral Pasar Raya (SPR) dan ada pula di perkantoran pemerintah,” imbuhnya.
Karena kejadian ini, aparat kepolisian akan meningkatkan personel patroli. Agar, aksi penjarahan itu tidak terulang lagi.
“Kita juga mengimbau pemilik toko dan perkantoran supaya memperketat penjagaan. Karena konsentrasi kepolisian kini terpecah lantaran evakuasi korban gempa masih dilakukan,” tuturnya.
Hentikan Penjarahan
Psikologis korban gempa kian tertekan. Minimnya bahan makanan di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok, membuat warga kalap. Mereka nekat menjarah apa pun barang-barang untuk diuangkan. Tindakan tercela itu tentu sangat disesalkan.
Seperti yang terjadi di depan Terminal Regional Bingkuang (TRB) Air Pacah. Material bangunan yang ditimbun di area TRB, dijarah sejumlah warga. Diduga penjarahan dilakukan warga semata-mata untuk mencari keuntungan pribadi. Mengingat besi bekas itu bisa dijual dengan harga tinggi kepada pedagang penjual besi bekas.
Aksi penjarahan tersebut dibenarkan Ketua Rt.1/Rw.1 Kelurahan Air Pacah, Asril serta sejumlah aparat TNI dan petugas PU Kota Padang yang ikut menjaga tumpuka material. “Saya pun juga tak bisa memastikan apakah warga saya ada yang ikut dalam aksi penjarahan tersebut. Mereka banyak sekali,” ujar Asril.
Hal senada dikatakan Masnal, pegawai PU Kota Padang. “Material yang ditumpuk di sini, banyak berasal dan ruko yang ada di Jalan Sawahan, seperti Adira Finance. Diperkirakan, besi yang berhasil dicuri warga, mencapai 4 ton,” ungkapnya. (Padang Ekspres, Senin 5 Oktober 2009)

35. Hilang Tiga Hari, Ditemukan jadi Mayat
Ondeh nak baa batinggakan mama, jo sia mama iai nak, kakak jauah sadonyo, papa lah maningga pulo. Kecek Yani ka pulang hari Sabtu, baa ko baiko jadinyo nak, “ Ratap tangis tidak henti-hentinya keluar dari mulut Upik, ibu Yani, mahasiswi Teknik Industri (TI) Unand. Begitu melihat foto salah seorang korban gempa yang terpajang di kamar jenazah RSUP M Djamil Padang.
Orang-orang di sekitar yang juga sedang mencari keberadaan sanak saudaranya berusaha menenangkan Upik, ibuYani. Apalagi saat itu ia hanya datang dengan adik laki-lakinya yang merupakan paman korban. 
Yani adalah anak yang pintar. Ia berkali-kali menyabet juara umum semasa di SMAN 1 Pariaman. Yani berhasil lulus SPMB di Teknik Industri Unand. Yani juga anak yang shalehah. Ia tidak pernah lupa untuk shalat tahajud dan puasa sunat Senin-Kamis.
TerakhirYani menelpon ambo. Inyo mangecekan kalau inyo ndak pulang Jumat ko do. Inyo kamaurus beasiswa,” ujarnya sambil terisak-isak.
Tetapi setelah itu, ia kehilangan kontak hingga terjadinya peristiwa gempa. Kamis 1 Oktober Upik berusaha mencari keberadaan Yani dengan mendatangi teman-temannya namun tidak diketahui keberadaannya.
Upik pun mendatangi seluruh rumah sakit di Kota Padang untuk mencari tahu keberadaan anaknya. Namun hingga Jumat 2 Oktober, keberadaan Yani tak kunjung diketahui. Sabtu 3 Oktober, Upik kembali mendatangi RSUP M Djamil Padang, namun foto jenazah yang belum teridentifikasi luput dari penglihatannya.
Sampai akhirnya, atas saran seorang warga di RSUP M Djamil, ia pun memandang foto-foto yang terpajang satu per satu. Ternyata benar, anaknya telah menjadi korban gempa. Almarhumah Yani pun dibawa dari RSUP M Djamil dan akan dimakamkan di Sungai Rotan Pariaman. (Padang Ekspres, Senin 5 Oktober 2009)

36. Dunia Terasa Berputar Ketika Mendengar Kabar
Hajjah Bahar, Korban Longsor Kehilangan 24 Anggota Keluarga
Tanah bercampur lumpur itu masih memerah. Di sana, masih ada ratusan orang tertimbun hidup-hidup. Di antaranya, nestapa itu dialami keluarga Buk Hajjah Bahar. 24 orang anggota keluarganya turut terkubur. Duka itu mengisi relung hatinya yang paling dalam.
Duka Nagari Tandikek yang berada di kaki Gunung Tandikek sekitar 60 km dari Kota Padang sungguh pilu. Sebuah tragedi kemanusiaan terjadi. Tiga kampung di nagari itu lenyap tak berbekas. Nagari itu tertimbun longsor. Sekejap, semua seperti mimpi. Tak ada lagi tawa canda anak-anak kampung, aroma kayu bakar ibu-ibu menanak nasi, atau adzan berkumandang di salah satu mushalla. Semua lenyap bersama ribuan material tanah bercampur lumpur yang dimuntahkan Gunung Tigo.
Kabar itu pun cepat menyebar ke penjuru negeri. Sementara warga yang selamat, segera mencari tahu kabar sanak saudaranya. Termasuk Buk Hajjah Bahar demikian ibu itu akrab disapa. Perempuan itu tampak tegar saat ditemui di Pasar Tandikek. Saat itu, Buk Hajjah Bahar sedang termenung di sudut kedainya.
Ibu ini selamat dari amukan longsor karena kebetulan tidak berdomisili di Sumanak. Dia tinggal di sekitar Pasar Tandikek. Hajjah Bahar itu adalah nama suaminya (almarhum), yang dulunya tokoh masyarakat setempat. Di Cumanak, tinggal orangtua dan beberapa adik-adiknya beserta keluarga.
Sumanak merupakan salah satu kampung di Lubuk Laweh dan berada di Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman. Di Lubuk Laweh in berdasarkan data di posko gempa kecamatan, tercatat 137 korban meninggal. Sedangkan di Konong Pulau Aia, tercatat 43 onang tewas. Di Korong Lareh Nan Panjang 75 konban meninggal. Dari jumlah korban tertimbun itu, hanya sekitar 50 orang yang berhasil dievakuasi. Terbanyak ditemukan di Sumanak.
Dari 137 korban di Lubuk Laweh itulah, 24 anggota keluarga Buk Hajjah Bahar bermukim. Salah satu adiknya yang menjadi korban longsor, tertimbun bersama seluruh keluarganya. Adiknya itu bernama Marnis, guru kelas VI di SD Negeri 14 Patamuan. Sekolah itu, juga hilang tertimbun longsor. Suami Marnis, Basir bersama tiga anaknya, tak bisa menghindar dari longsoran.
“Marnis tinggal di kompleks SD yang tatimbun itu nak. Inyo saat itu basamo saluruh kaluarga. Adiak ambo tatimbunjo kaluarganyo (Marnis tinggal di. kompleks SD yang tertimbun itu nak. Dia saat itu bersama seluruh keluarganya. Adik saya tertimbun dengan keluarganya),” imbuh Buk Haji Bahar lirih.
Sebelum petaka itu menimpa, Buk Hajjah Bahar mengaku tak mendapat firasat apa pun. Hanya saja, dadanya sebelum kejadian sempat bendegup kencang. Tapi, hal ini dianggapnya biasa, mungkin kelelahan.
Sekitar pukul 17.00 wib atau sebelum kejadian, Buk Hajjah sempat teringat adiknya di Sumanak. Ia berniat mengunjungi mereka besok (sehari setelah kejadian).
Namun 16 menit setelah itu, tepatnya 17.16 wib, bumi bergetar begitu kuat. Saking kuatnya, beberapa kedai di depannya ambruk. Buk Hajjah sempat terjatuh saat berusaha menyelamatkan diri. Beruntung selamat.
Gempa 7,9 SR itu pun reda. Tapi, sekitar 10 menit terdengar gemuruh dari arah hulu. Entah apa yang terjadi.
“Gamuruah itu, kareh tadanga. Ndak tau ambo bunyi apo itu (Gemuruh itu keras terdengar, tidak tahu saya bunyi apa itu),” ujannya mengingat.
Ternyata, beberapa saat setelah kejadian, warga mulai ribut. Longsor besar telah tejadi. Tiga kampung tenggelam. Bumi menelan ratusan jiwa warga di daerah itu.
“Dunia taraso baputa pas mandanga kaba itu (Dunia terasa berputar saat mendengar kabar itu),” kenangnya.
Saat ini seluruh keluarga besar Buk Hajjah di perantauan telah berada di kampung. Mereka memberikan bantuan dan berusaha menyelamatkan apa pun yang tersisa. “Itulah, jiko Allah berkehendak, ndak ado satu pun yang bisa manolaknya (Itulah, jika Allah berkehendak, tidak ada satu pun yang bisa menolaknya),” lirih ibu itu. (Padang Ekspres, Rabu 7 Oktober 2009)

37.  Boediono di Tandikek: Gempa Sumbar Bencana Nasional
DPR RI akan mengusulkan bencana Sumbar menjadi bencana nasional, menginggat banyaknya kerusakan yang terjadi di Ranah Minang. Selain itu DPR juga meminta pemerintah Sumbar melibatkan pihak berwajib dalam pengawasan dan pengelolaan dana bantuan gempa.
Demikian diungkapkan Ketua DPR RI Marzuki Ali, usai menyerahkan bantuan korban gempa di gubernuran, Selasa 6 Oktober 2009. “Gubernur Sumbar menyanggupi penggelolaan bencana sendiri, kita di DPR RI tetap akan mengusulkan bencana Sumbar sebagai bencana nasional. Tentunya dengan melihat mekanisme permasalahan, apakah dikategorikan sebagai bencana nasional atau bencana daerah,” kata Marzuki.
Dikatakannya, keputusan gubernur yang menyatakan bencana Sumbar sebagai bencana daerah sudah tepat. Meski begitu seluruh elemen masyarakat tetap diminta membantu dalam berbagai hal, baik yang ada di Sumbar maupun dari luar. Tujuannya untuk menyelamatkan dan memberikan pertolongan kepada saudara-saudara yang ada di Ranah Minang. Sedangkan DPR RI sendiri juga akan mengusulkan anggaran yang memadai khusus penanganan bencana.
Saat ini papar Marzuki, kinerja-Pemda Sumbar masih efektif dalam menjalankan tugas-tugasnya. Tapi jika Pemda setempat tidak mampu menjalankan tugas dan fungsinya akibat gempa tersebut maka, bencana yang terjadi bisa dikategorikan sebagai bencana nasional. Seperti yang terjadi di Aceh beberapa tahun lalu.
Untuk pendidikan gratis bagi pelajar sebut Marzuki, juga diserahkan kepada Pemda Sumbar, karena semuanya ditangani Pemda. Seperti persiapan ruangan belajar bagi gedung sekolah dan kebutuhan belajar lainnya.
Sementara, Wakil Presiden RI terpilih Boediono, juga datang untuk meninjau secara langsung korban gempa di Sumbar. Saat mendarat di BIM mantan Gubernur Bank BI itu dijemput Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi, beserta jajarannya. Kemudian rombongan menuju Pariaman, Malalak dan Kota Padang. Di Pariaman ia sampai ke Dusun Kapalo Koto, Tandikek.
Di Padang, Boediono enggan memberikan komentar kepada wartawan, tapi dia sedikit menyinggung tentang pembentukan Badan Rehabiltasi dan Rekontruksi (BRR) yang telah dan sedang dibentuk di pusat, untuk bencana Sumbar. (Singgalang, Kamis 7 Oktober 2009)

38. Ramlan Menggergaji Kakinya Sendiri
Ramlan 18 tahun mencangkul kakinya sendiri agar putus. Gagal. Ia ambil sendok semen, ditusuk-tusuknya, belum berhasil. Lantas, ia ambil gergaji. Selama 10 menit, lelaki ini terus menggergaji kaki kanannya. Tidak terkira rasa sakitnya, ia masih terjebak di lantai enam, karena dinding beton menghimpit salah satu kakinya. Sementara orang-orang sudah berlarian meninggalkan gedung. Ia semakin panik.
Ia terus menggesekkan gergaji kayu itu. Darah bercipratan. Sakit sekali. Tapi pekerjaan ya sudah setengah jalan. Sambil memejamkan matanya, ia terus menggergaji. Ujung gergaji menyentuh tulangnya. Ia menjerit.
Untung, salah seorang temannya, Herman, mendengar jeritan kesakitan Ramlan. Ia berlari ke dalam gedung. Meski sebagian gedung Telkom yang terletak di Padang Baru itu sudah retak dan runtuh.
Saat Herman tiba di lantai 6, tempat Ramlan berada, ia terkejut. Bagian bawah tubuli Ramlan sudah bersimbah darah, sementara tangannya memegang sebilah gergaji kayu. “Kamu kenapa Lan?” tanyanya, “Tolong aku mas, tolong putusin kaki ini. Aku sudah nggak tahan,” ujarnya menahan kesakitan.
Tanpa pikir panjang, Herman menggergaji kaki Ramlan hingga putus. Ramlan hanya bisa menjerit menahan rasa sakit yang teramat sangat. Tapi ia tidak pingsan. Lalu, Herman bersama dua orang temannya yang datang membantu, segera memopong tubuh Ramlan ke luar gedung. Mereka pun melarikannya ke rumah sakit Yos Sudarso, yang jaraknya tidak begitu jauh.
Di sana, ia mendapat perawatan intensif. Hingga Selasa 6 Oktober, ia masih terbaring lemah di ranjang di dalam tenda perawatan rumah sakit bagi korban gempa.
Pada hari Rabu 30 Oktober silam, ia bersama lima orang temannya sesama buruh bangunan, tengah bekerja di lantai 6 gedung Telkom itu. Saat gempa terjadi, sebuah dinding roboh dan langsung menghimpit kaki kanannya. Sedangkan teman-temannya sudah berlarian keluar gedung. Karena takut akan bencana tsunami, ia memilih meninggalkan kakinya itu. Sebuah cangkul yang terletak di sebelahnya, ia gunakan untuk memotong kaki itu. Tapi usahanya gagal.
“Lalu aku ambil sendok tembok dan aku tusuk-tusuk kakiku yang terhimpit beton itu. Tapi tidak juga berhasil,” terang Ramlan, lelaki asal Purwakarta, Jawa Barat itu.
Karenanya, ia mencoba meraih sebuah gergaji. Lantaran letaknya jauh, ia menggunakan cangkul. Kemudian ia gergajilah kakinya sendiri.
Kini, salah satu kakinya sudah buntung. Ia tidak dapat lagi berjalan dengan normal. Tapi ia tidak menyesal. “Ini sudah takdir Ilahi,” ujarnya lirih.
Ramlan berniat, jika sudah keluar dari rumah sakit ia akan pulang kampung dulu. Menemui kedua orangtuanya yang sudah menanti dengan cemas.
“Bapak dan ibuku sudah aku kabari. Mereka sangat cemas. Tapi mereka tidak bisa ke sini karena tidak punya uang. Makanya aku ingin segera pulang,” sebut anak ketiga dari pasangan Dedi dan Sikar itu. (Singgalang, Rabu 7 Oktober 2009)
Manohara Jenguk Korban Gempa
Artis cantik Manohara Odelia Pinot mengunjungi korban gempa di Pariaman dan Padang, Sabtu 10 Oktober dan Minggu 11 Oktober. Manohara di Sumbar bersama dengan para pengurus Laskar Merah Putih pimpinan Edi Hartawan.
Menurut Bendahara Laskar Merah Putih Sumbar, Evi Nurdin, selain memberikan bantuan, kedatangan Mano dan Laskar Merah Putih juga untuk menunjukkan rasa simpati atas duka lara yang menimpa Ranah Minang ini. “Mano sangat sedih dengan kondisi masyarakat yang terkena musibah gempa,” katanya di Markas Laskar Merah Putih di Aur Duri Padang.
Disebutkan Evi, untuk korban gempa Mano dan Laskar Merah Putih telah menyerahkan bantuan berupa selimut, tenda, beras, minyak goreng, telur, mie instan, pembaut wanita, baju bekas dan air mineral. “Itu diserahkan langsung pada masyarakat Pariaman pukul 02.00 wib Minggu dinihari,” sebut Evi.
Dalam kesempatan tersebut, Evi juga menyampaikan bahwa Mano akan tinggal sementara di Padang untuk beberapa hari ke depan. (Singgalang, Senin 12 Oktober 2009)

39. Moran Berpesan Akan Pergi Jauh
Angku Kutar, tak henti-henti mengusap tetesan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Dia tak kuasa membendung duka, nielihat mayat cucu satu-satunya yang terbujur kaku di halaman rumahnya di Nagari Sikucua, Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman.
Masih terngiang jelas di telinga Angku Kutar, pesan cucu satu-satunya itu usai gempa menghoyak sekitar pukul 17.16 wib. Sembari bersepeda, Moran berteriak kepada sang kakek menjelang pergi. Moran berkata ia akan pergi ke suatu tempat yang amat jauh bersama keluarga Egi. Ketika ditanyakan sang kakek, akan pergi kemana? Moran malah mengayuh sepedanya bersama Egi, meninggalkan sang kakek sendirian di rumah yang mereka didiami berdua selama ini.
Seperti biasanya, jika Moran pergi tentulah pergi menonton televisi di rumah temannya di sekolah maupun di rumah itu, Egi di Nagari Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur. Nagari Padang Alai dan Sikucua, merupakan daerah yang saling bertetangga di Kecamatan V Koto Timur. Dari Kota Pariaman, lokasi ini bisa ditempuh dengan jalan darat menuju arah utara (Kabupaten Agam) dengan lama perjalanan 30 menit.
Usai gempa pada hari Rabu, listrik langsung padam di kawasan itu. Karena berita gempa, membuat hasrat Moran menonton televisi tak terbendung. Bersama belasan anak-anak lainnya, siswi kelas V SD ini menyimak berita yang disajikan berbagai stasiun televisi, yang ada di rumah sahabatnya di rumah maupun di sekolah Egi. Keluarga Egi, tergolong berada di Nagari Padang Alai. Keluarga ini memiliki perangkat (receiver), yang bisa menangkap hampir seluruh chanel televisi.
Saat gerimis mengucur di kawasan itu sekitar pukul 19.40 wib, kawasan itu tiba-tiba bergejolak. Usai adzan Isya berkumandang, perbukitan yang ada di sekitar Nagari Padang Alai mengalami terban hingga menimpa tiga nagari yang ada di bawahnya. Korban pun berjatuhan. Tak heran, laporan sementara perangkat nagari Padang Alai, korban yang menonton televisi di rumah Egi sekitar 15 orang. Dan 15 orang itu, baru tujuh orang yang berhasil dievakuasi dari rumah Egi hingga Rabu 7 Oktober.
Moran semenjak berusia 3 tahun, telah ditinggal pergi kedua orang tuanya. Ayah dan ibu Moran meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Karena tak ada orang yang akan mengasuh lagi, Moran dibesarkan sang kakek Angku Kutar. Pada Rabu 30 Oktober 2009, sang kakek yang telah lama kehilangan istri berikut anak-anaknya itu, harus kembali merasakan duka yang mendalam. Cucu sebagai pewaris keturunannya, juga telah dipanggil keharibaan Ilahi. “Kenapa tidak saya saja yang diambil. Kenapa harus dia,” kata Angku Kutar dengan kalimat terbata-bata.
Angku Kutar tidak pernah menyangka dan membayangkan, akan kehilangan Moran dalam waktu secepat ini. Namun, Angku Kutar akan tetap berusaha tabah dalam menghadapi cobaan hidup ini. Menurutnya, di balik segala sesuatu yang terjadi itu, pasti ada hikmahnya, yang pastinya kita sebagai manusuia harus tetap tabah menerima apapun yang akan ditakdirkan oleh Allah SWT. Saat ini, Angku Kutar pun hidup sebatang kara dan tinggal menerima nasib yang telah dituliskan oleh-Nya.

40. Malaikat Baik Hati dari Jerman
Ajak Anak-Anak Bermain Agar Tidak Frustasi
Menyaksikan siaran televisi tentang gempa di Kota Padang, rasa kemanusiaan Enke 50 tahun berontak. Nurani warga Hamburg, Jerman itu tersentuh menyaksikan puluhan anak yang menangis di antara puing reruntuhan. Enke mengaku terenyuh, melihat siaran tersebut. Keputusan pun segera diambilnya.
 “Saya harus ada di tengah anak-anak itu. Mereka butuh belaian kasih sayang,” itulah yang tersirat dalam hati guru taman kanak-kanak yang mengabdi selama 30 tahun. Dengan biaya sendiri, Enke berangkat ke Kota Padang. Dia rela menempuh perjalanan beribu-ribu mil. Enke tak peduli, larangan orang-orang dekatnya agar tak pergi ke Padang, tak diindahkan. Enke tetap berangkat. “Tujuannya saya hanya satu, saya bertekad memulihkan kembali mental para bocah yang terguncang akibat gempa yang mendera,” ucap Enke yang memakai baju merah yang dipadu dengan celana bini.
Mimik Enke terlihat sumringah saat bersenda gurau dengan puluhan bocah korban gempa di lapangan bola milik PT Kereta Api Indonesia. Kulitnya tampak memerah di timpa cahaya matahari, rambut pirangnya berkilau-kilau. Namun Enke tak peduli, kebahagian anak-anak seakan menjadi penawar dari panas yang menyerang.
Begitu juga puluhan anak yang diajak Enke untuk bermain, tak ada rasa canggung berinteraksi dengan bule yang baru dua hari mereka kenal. Bagi mereka, Enke adalah malikat baik hati dari Jerman. Bocah-bocah itu saling berebutan memeluk tubuh Enke yang telah basah peluh yang mengucur dari lubang pori-porinya.
Mata-mata bening anak-anak Seolah mengisyaratkan kalau mereka telah lupa dengan bencana yang menimpa. Reruntuhan rumah di sekeliling lapangan kontras dengan kebahagian yang tercipta di tengah lapangan.
“Ani sayang jo Miss Enke. Tadi Ani diagiah gulo-gulo. Miss Enke maajak bamain. Enke elok,” ucap Ani. Bocah delapan tahun yang kelihatan paling bahagia dibandingkan anak lainnya. Dia terus dekat dengan Enke.
Menurut Enke, anak-anak menanggung beban yang dalam akibat bencana ini. Rumah-rumah yang runtuh, orang tua yang menangis, mayat-mayat bergelimpangan, rintihan kesakitan dan suasana kacau saat gempa menimbulkan konflik dalam pribadi anak-anak. Jiwa mereka terguncang, bahkan ada yang mengalami depresi.
“Apa yang mereka lihat saat gempa akan menjadi pijakan dalam menapaki hidup. Jika anak-anak tidak siap, suasana seperti saat ini akan mempengaruhi. Bagaimanapun, anak-anak ini harus bisa melupakan bencana yang melanda,” kata Enke.
Saat ini, Miss Enke tidur di tenda pengungsian bersama anak-anak. Nyamuk yang beterbangan tak membuat Miss Enke jera. Dia ditemani dua orang yang juga mempunyai misi sama dengannya. Yakninya Citra dari Universitas Negeri Padang dan seorang lagi dari Jakarta. Bertiga mereka berusaha kembali memulihkan mental anak-anak yang drop. Enke tak peduli walau biayanya semakin menipis. Enke berniat bertahan hingga akhir bulan.
Pastinya, anak-anak akan merasa kehilangan sosok yang disayang jika Enke pulang ke negara asalnya. Enke terus bergurau, berlarian dengan anak-anak di tengah lapangan berumbut. Sampai-sampai Enke terguling-guling sembari tertawa.
Enke bahagia dan anak-anak lupa dengan derita yang mereka rasakan. Sementara, saat Enke menguras tabungan agar bisa ke Padang, banyak warga kota yang selamat dari gempa memilih untuk melarikan diri dan pergi meninggalkan para korban, termasuk anak-anak. Adakah orang Padang asli yang mau seperti Miss Enke. (Posmetro Padang, Kamis 8 Oktober 2009)

41.  Tertimbun Enam Jam, Seorang Polisi Selamat
Kalau tidak ajal, berpantang mati. Pepatah ini betul-betul dialami anggota Ditlantas Polda Sumbar, Aiptu Soerip 57 tahun yang ditugaskan di UPTD Samsat Padang di Kantor Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah (DPKD) Jalan Khatib Sulaiman.
Pria kelahiran 29 Juni 1952 di Sawahlunto itu, selamat dari maut setelah terkurung enam jam, Rabu 30 Oktober lalu. Mas Soerip yang akrab dipanggil Pak De itu, saat ditemui di Kantor Samsat UPTD sementara Jalan Rasuna Said 74 Padang, pada tanggal 8 Oktober, sudah mulai kembali menjalankan rutinitasnya.
“Saya memang sering terlambat pulang. Prinsip saya, sebelum pekerjaan selesai tidak akan pulang. Bahkan tak sampai mandi sore, itu biasa,” katanya didampingi Ka DPKD Sumbar, Zul Evi Astar dan Ka UPTD Padang Jaya Isman, kemarin.
Sore itu, sebelum gempa. terjadi, Pak De bersama rekannya Julkaidir, Erwan Nusantara, Dedi Adrian, Nofi Ajo dan Febrian Kiong untuk menyelesaikan pekerjaannya. Waktu itu tak ada firasatnya akan terjadi gempa. “Kami masih sempat bercanda,” kata bapak enam orang anak itu.
Bercanda baginya menjadi harga mati
Kalau tidak canda, lama rasanya menyelesaikan pekerjaan. Waktu itu, sedikitnya ada 300 berkas lagi yang belum terdata. Namun apa bisa dikata, sebelum pekerjaan selesai, tiba-tiba terjadi guncangan hebat disertai gemuruh reruntuhan.
“Melihat benda-benda keras mulai berjatuhan, saya menyelamatkan diri dekat tiang pembatas ruangan penetapan pajak dengan pengolahan data elektronik,” tambahnya.
Kendati guncangan berhenti, tapi semua jadi gelap gulita. Dalam benaknya, mungkin inilah akhir hidupnya. Dalam kepasrahannya itu, ia tidak henti-henti menyebut Asma Allah. Ia pun menutup mulut dan hidungnya dengan baju lengan panjangnya.
Sambil mengucapkan Allahu Akbar, Pak De merayap menggunakan punggung sambil membersihkan batu-batuan yang menghalangi perjalanan. Waktu itu yang terlintas di pikirannya, keluarganya masih membutuhkannya.
Saat ini, dua anaknya masih kuliah di UNP dan membutuhkan bimbingan orangtua. Begitu sampai di samping kantor, dekat Bank BTPN, sudah terlihat ada Kompol Zulpardi Sani. “Begitu sampai di luar gedung, saya mengucapkan syukur pada Allah karena selamat,” katanya. Untuk sampai ke luar, ia harus merayap menggunakan punggung selama enam jam.
Begitu sampai di luar, Pak De mendengar, “Itunyo Pak De”. Lalu, pria yang beralamat di Jalan Kalpataru II Parupuk Tabing itu berangkulan dengan teman-teman lainnya. Anak Pak De, Surya, mencari ke Samsat usai gempa.
Waktu itu, Surya hanya menemukan sepeda motor Bapaknya yang terhimpit. Ia pulang memberitahu ibunya, bahwa Bapak terkurung. (Padang Ekspres, Senin 12 Oktober 2009)

42. Anak dan Murid Tertimbun, Rosneli Masih Bisa Membangkitkan Warga
Kampungnya sudah tidak ada. Rata ditelan tanah. Enam puluh dua nyawa, melayang seketika. Termasuk anak kandung dan belasan murid-muridnya. Tapi, ia tak mau berlama-lama larut dalam duka. Dan tenda pengungsian, ia meredakan air mata warga yang kehilangan sanak saudara, rumah, dan harta. Inilah kisah seorang guru mengaji di daerah Malalak, Kabupaten Agam, Sumbar, yang selamat dari timbunan tanah akibat gempa.
Azan shalat ashar berkumandang di Masjid Al Falah, Jorong Bancadama, Nagari Malalak Selatan, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Rabu 3 Oktober. Mendengarnya, sejumlah warga termasuk 13 bocah usia sekolah dasar, langsung berlari-lari kecil mengambil air wudhu.
Setelah menunaikan kewajiban sebagai Muslim, warga berlalu meninggalkan masjid. Sementara para bocah, yang di antaranya bernama Ison Andidas, Fitri Yuliana, Ahmad Agustiar Febi Usni Gustami, Ostika, dan Bedari Sonata Puti, tetap berada di sekitar “rumah tuhan” tersebut.
Maklum saja, seperti hari-hari sebelumnya, selepas menunaikan ibadah shalat ashar, para bocah tidak bisa langsung pulang ke rumah. Sebab, mereka telah disuruh orangtua masing-masing untuk belajar baca tulis Al Quran, pada Rosneli 42 tahun garin perempuan yang merangkap sebagai guru mengaji di Taman Pendidikan Al Quran (TPA), dekat masjid tersebut.
Makanya, sebagai anak kampung yang dikenal “taat” kepada orangtua, begitu selesai mengerjakan shalat, Ison Andidas, Fitri Yuliana, Ahmad Agustiar Febi Usni Gustami, Ostika, dan Bedari Sonata Puti, langsung mengambil Al Quran untuk siap-siap mengaji.
Begitu pula dengan rekan mereka lainnya, seperti, Puti Boy Eko, Afrizal Dapir, Iril Ronaldio, dan Clauda Jesman, yang merupakan anak kandung dari Rosneli, juga ikut mengambil kitab suci Al Quran.
Namun, belum beberapa lama para bocah mengaji, tak tahunya, mata Rosneli sebagai seorang guru, menderita kantuk teramat hebat. Bukan hanya itu, sekujur badan ibu dua anak ini juga terasa lemas.
“Karena tidak tahan, akhirnya, saya putuskan kepada murid-munid, untuk memulai mengaji jam lima sore saja. Sementara saya, tidur-tiduran di rumah yang masih dalam kompleks masjid,” cerita Rosneli.
Mendengar perkataan dari Rosneli, sebagian di antara para bocah tentu senang. Dalam hati, mungkin pula ada yang berbisik, “Dengan dimulainya pelajaran mengaji pada jam lima sore, pasti waktu mengaji tidak akan tiga jam lagi seperti biasa”. Walaupun begitu, tak satu pun di antara bocah yang berani pulang. Mereka tetap menunggu di TPA dan bermain-main di sekitar Masjid Al-Falah.
Nah, sewaktu para bocah tengah bermain-bermain di sekitar masjid dan TPA. Rosneli yang jarang tidur siang, tiba-tiba saja tertidur pulas. Saking pulasnya, istri dari Suarmansyah ini tak tahu apa yang terjadi.
Ketika matanya dibuka kembali. Rupanya, masjid sudah rata dengan tanah. Bangunan-bangunan di sekitar Bancadama, berguguran karena diguncang gempa.
Terpukul tapi Bangkit
Melihat kondisi di sekitarnya telah berubah, kontan Rosneli yang memiliki seorang putri bernama Lisa Fitriawani 16 tahun jadi terkejut bukan kepalang. Tubuhnya serasa menggigil. Sekujur raganya diam membatu.
Otaknya pun berkata,. “Kampung ini telah diguncang gempa”. Maka seketika, Rosneli langsung berucap dalam hati, “Laila ha illallah. Laila ha illallah. Ampun kami ya Allah.......”
“Setelah itu, saya tak tahu lagi apa yang terjadi. Yang jelas, saya melihat, kampung saya, Bancabdama ini sudah rata dengan tanah. Masjid tempat saya mengajar mengaji, sudah tidak ada lagi. Murid-murid saya, juga sudah tertimbun reruntuhan masjid dan tanah. Termasuk putra saya yang masih duduk di bangku kelas enam SD. Tragisnya lagi 13 orang jumlah mereka. Cuma lima orang saja yang jenazahnya ditemukan, selebihnya entah di mana,” ucap Rosneli dengan mata berkaca-kaca.
Sekadar diketahui, dari lima Jorong di Nagari Malalak Selatan, masing-masing Jorong Bancahdama, Nyiur, Talago, Balaisatu, dan Siniair. Memang di Jorong Bancahdama inilah, yang termasuk paling menderita akibat gempa. Rosneli sebagai guru mengaji di jorong tersebut, termasuk satu dari puluhan warga yang merasakannya.
Meskipun demikian, selepas gempa terjadi, Rosneli yang biasa disapa Uniang Nen oleh warga kampungnya, tak mau berlarut-larut dalam duka. Sebagai wanita taat beribadah, bahkan juga dikenal merupakan ustazah di kampung, dia yakin betul bahwa setiap yang hidup pasti akan mati. Tidak ada yang kekal di dunia ini.
Lantaran itu pula, dia meyakinkan kepada warga di Malalak Selatan, khususnya warga asal Bancahdama yang sekarang terpaksa mengungsi ke belakang kantor wali nagari setempat, agar tidak terus-terusan bersedih.
“Siapa yang tidak akan Sedih, bila kehilangan sanak saudara, rumah, harta, bahkan kampung. Tapi, ini adalah ujian dari Tuhan. Pasti ada hikmah di dalamnya,” begitu kata Rosneli, menenangkan warga.
Dengan kata-katanya yang sejuk, bahkan sekali-sekali tendengar tegas. Banyak di antara warga Bancahdama, mulai bangkit dari duka panjang. Mereka, mulai tidak menangis lagi. Mulai tidak meratap lagi. Karena memang, di kampung itu, segala tangis sudah habis. Segala ratap, sudah diratapkan.
“Terus terang, saya ini bisa disadarkan (tidak lagi trauma dan sedih berkepanjangan) berkat Uniang Nen,” aku wanita Murniati, yang kehilangan adik dan anak-anaknya saat ditanya.
“Ya, Uniang Nen atau Rosneli, memang banyak memberi masukan untuk kami. Beliau memang sabar. Padahal, anaknya sendiri juga ikut hilang,” imbuh Bustamar 37 tahun karena gempa, harus kehilangan istrinya bernama Putni Mardani 28 tahun serta sepasang anaknya, yakni Febi 6,5 tahun dan Rendi 35 tahun.
Terlepas dari pengakuan tersebut, yang jelas, kisah Rosneli mencoba bangkit dari keterpurukan akibat gempa. Memang pantas ia dicontoh. Sebab, hidup ini adalah perjuangan. Hidup tanpa berjuang sama dengan kematian, Mati dalam berjuang baru sebuah kehidupan. (Padang Ekspres, Senin 12 Oktober 2009)

43. Mimpi Baralek, Ayam Berkokok Hingga Tiga Kali
Sepekan setelah musibah besar, keluarga besar Jamilus Dt Rajo Bangun mulai mengikhlaskan kepergian anaknya gadisnya Devita Hidayati 21 tahun. Lantas, firasat apa yang dirasakannya sebelum putri bungsunya wafat saat gempa hebat melanda Kota Padang pada hari Rabu 30 September lalu?
Kediaman mantan Wali Nagari Lubuk Malako itu tampak ramai dengan pelayat. Membuat suasana berkabung kian kental terasa di rumah lelaki itu. 6 Oktober genap tujuh hari setelah gempa 7,9 skala richter (SR) mengguncang Kota Padang. Kebiasaan di ranah minang, untuk hari itu ada prosesi “manujuah hari” (tujuh hari).
Sepanjang jalan menuju rumah duka di Jorong Bancah Kampeh, Lubuk Malako, Solok Selatan, terlihat puluhan perempuan separo baya menjinjing bungkusan berisi beras, berkunjung ke rumah Jamilus Dt Rajo Bangun.
Saat ditemui, mata Jamilus masih terlihat sembab. Wajar, anak gadisnya telah berpulang dalam peristiwa nahas itu. Tak terbayangkan rasa kehilangan bagi seorang ayah terhadap putrinya yang masih muda belia.
“Tuhan bakahandak lain, karena Tuhan jauh lebih sayang kapadanya Devita),” ucap Jamilus yang berusaha terlihat tegar.
Devita Hidayati, perempuan kelahiran Desember 1988, itu merupakan mahasiswi Akademi Bidan (Akbid) Ranah Minang, yang berada di Jalan Parak Gadang, Kota Padang. Akhir tahun ini, ia akan menginjak semester V. Namun, sore nahas itu, persisnya pulang kuliah, gadis itu ditimba reruntuhan dinding beton asramanya di kawasan Sisingamangaraja.
Gempa 7,9 SR telah meluluhlantakkan asrama bertingkat milik yayasan itu. Beberapa menit kemudian, Devi-akrab disapa berhasil dilarikan ke Rumah Sakit Tentara (RST) Ganting. Tapi, nyawanya tak tertolong lagi.
“Devi anaknya periang dan ramah. Minggu 27 September 2009, inyo barangket ka Padang untuak kuliah. Ambo barancano akan menyusulnya hari Kamis, maantaan motor nan inyo minta,” kenang Jamilus.
Berita kematian putrinya, tak langsung ia terima. Jaringan komunikasi antara Padang-Solsel putus total sesaat setelah gempa terjadi. Saat itu, tak ada terlintas firasat buruk yang bakal menimpa anaknya. Beberapa jam kemudian, Camat Sangir (teman ayah Devi), mengabarkan kondisi Devi sedang kritis.
“Rabu malam, kiro-kiro pukul 23.00 wib, kami sakaluarga berangkat ke Padang. Ternyata sampai di Padang, kami hanyo mancaliak mayatnya sajo. Tarumuak bana hati kami kutiko tu. Apolagi mamanyo, (Hasmurni), pingsan wakatu mangatahui anak bungsunyo tu alah maningga,” imbuhnya.
Esok harinya, seusai mengurus kepulangan jenazah di RST, jasad Devi dibawa ke Solok Selatan untuk dimakamkan. Suasana duka menyelimuti karib kerabat, teman-teman, tetangga, dan orang-orang yang mencintainya.
“Dilihat keadaan orang lain, derita kita tak sebanding. Bahkan ada yang satu keluarga tewas. Itulah yang membuat kami makin tabah,”ungkap Jamilus.
Saat bulan puasa, kata Jamilus, ia bermimpi “baralek” di rumahnya. Sangat ramai orang yang datang ke rumah. “Mungkin ado hubungannyo jo kajadian kematian anak ambo itu,” katanya.
Sementara itu, suasana duka juga terlihat di rumha milik keluarga Nurjanah 60 tahun, di Jorong Balun, Pakanrabaa Tangah, Koto Parik Gadang Di ateh. Yuli Hendri 37 tahun, putra kedua perempuan itu juga wafat saat gempa melanda Kota Padang.
Hendri pegawai PU Kota Padang. Saat gempa, ia tengah mengikuti rapat di hotel Ambacang.
“Basobok Jo jasadnyo jenazah Hendri hari Kamih lalu,” kata Nurjanah sambil menyeka air matanya dengan-pungung tangannya.
Rabu 30 September malam itu, Nurjanah mengaku, mendapat firasat aneh. Selain belum mendapatkan kabar keadaan anak-anaknya yang ada di Padang. Ia pun mendengar kokor ayam sekitar pukul 22.00 wib.
“Indak biasono ayam bakukuak malam tu do. Biasonyo, pukua ampek subuh. Iko lah tigo kali, pukua 10, pukua 12, dan pukua 1 malam. Firasat amak mulai ndak lamak,” ujarnya.
Setelah tahu putranya sudah meninggal, Nurjanah bersama keluarga lainnya pergi ke Padang. Sampai di Padang, ia masih sempat bertemu dengan jasad anaknya, sebelum dikuburkan.
Baik keluarga Jamilus maupun Nurjanah, tampaknya tabah menerima cobaan dari Sang Pencipta. Mereka tidak meminta hal yang muluk-muluk atas duka yang mereka rasakan.
Hanya bait do’a, untuk mengiringi kepergian anak-anak mereka menghadap sang Khaliq.
“Innalillahi wa irna illahi rojiun.

44. Gusti Anola: “Anak Saya itu Rajin Sholat Dhuha”
Mata perempuan itu berkaca-kaca. Pandangannya tidak lepas menatap puing-puing reruntuhan gedung Lembaga Kursus Pendidikan Gama di Jalan Proklamasi Padang. Sesekali terdengar suaranya terisak, tak mampu membendung perasaannya yang membuncah menahan kesedihan. Matanya memerah. Bibirnya bergetar.
Gusti Anola, perempuan itu. Dia adalah ibunda Angga Aldino 12 tahun, siswa kelas 1 SMP Negeri 9 Padang . Putra satu-satunya itu, menjadi salah seorang korban tewas dalam reruntuhan gedung Gama usai dihoyak gempa bumi 7,9 SR yang mengguncang Sumatera Barat pada hari Rabu 30 September 2009. Mujurnya, jenazah anak kesayangannya itu berhasil ditemukan tim evakuasi, sementara puluhan siswa lainnya masih terkubur hidup-hidup di bawah puing-puing reruntuhan.
Perempuan itu pada hari ke empat pascagempa, Sabtu 3 Oktober di lokasi reruntuhan gedung Gama. Tim evakuasi masih berusaha menemukan jenazah lainnya yang tertimbun reruntuhan. Menurut Gusti, jenazah anaknya itu sudah ditemukan pada Kamis 1 Oktober 2009 sekitar pukul 14.30 wib, sehari pascagempa dalam kondisi tubuh yang tidak rusak.
“Jasadnya seperti orang sedang tidur saja, tersenyum. Bahkan kaca matanya masih melekat dan tidak rusak,” ujarya mengenang saat-saat terakhir sang buah hati tercinta.
Namun lagi-lagi ia tidak dapat menahan gejolak batinnya itu. Ia menangis tersedu-sedu. Ia datang ke lokasi reruntuhan gedung Gama, semata untuk mengenang tragedi memilukan, yang telah merenggut nyawa sang anak dari perkawinannya dengan Drs. Nurul Hadi. Dia tidak pernah menyangka, jika Tuhan sangat sayang kepada buah hatinya sehingga harus begitu cepat dipanggil ke haribaan-Nya.
Angga Aldino buah hati Gusti Anola, kursus di Gama terbilang baru sekitar 3 bulan belakangan sejak ia masuk SMP. Jadwal kursusnya pada hari Senin dan Rabu, mulai pukul 15.00 wib hingga pukul 18.00 sore. Pagi di hari naas itu, Gusti mengantar sendiri anaknya ke Gama. Biasanya, Angga selalu minta uang jajan kepadanya, namun tidak di hari itu. “Angga tidak meminta uang jajan sama sekali. Ia hanya menatap saya, lalu mencium tangan saya,” ujar Gusti.
Gusti yang sehari-hari bekarja sebagai PNS di Badan Perpustakaan Kantor Gubernur Provinsi Sumatera Barat tersebut, di hari-hari biasa, ketika ia pulang kantor melintas di jalan Proklamasi depan gedung Gama menuju rumahnya, ia selalu menoleh ke gedung itu sembari mengenang wajah anaknya yang sedang belajar di sana. Namun di hari itu, Gusti tidak menoleh sama sekali. Ia memalingkan wajah ke arah lain.
“Entah ini sebuah firasat, saya tidak tahu. Di hari naas itu saya tidak menoleh ke gedung Gama,” ujarnya.
Warga Komplek Perumahan Indo Villa Blok A No.1 B Padang ini, ketika tiba di rumahnya sore hari, ia dan warga lainnya merasakan guncangan gempa yang sangat kuat. Dalam kondisi ito Gusti teringat anaknya yang sedang kursus di Gama. Tanpa berfikir buruk ia langsung mencari keberadaan anaknya itu. Namun alangkah kagetnya ia, ketika menuju Gama di kiri kanan jalan banyak terlihat gedung-gedung yang roboh di hoyak gempa.
Semakin kacaulah batinnya. Lebih milis lagi ketika dengan mata kepalanya dia melihat gedung Gama turut roboh dan menimbun hidup-hidup sang buah hati bersama puluhan siswa lainnya. Dia menjerit histeris dan berdoa semoga Allah menyelamatkan anaknya. Namun suratan takdir berkata lain. Tim evakuasi menemukan anaknya dalam kondisi tak lagi bernyawa, sehari pascagempa.
“Saya benar-benar tidak kuat menenima kenyataan ini, namun saya sudah mengikhlaskan bahwa Angga anak saya adalah titipan Allah,” ujar Gusti yang berusaha tegar.
Keseharian Angga Aldino, sang buah hati, adalah anak yang pendiam, baik di rumah maupun di sekolahnya. Sejak kecil Angga rajin melakukan shalat dhuha dan tamat SD telah khatam Alquran. Sebelum meninggal dunia, Angga juga pernah berkata kepada ibunya bahwa dia ingin membayar hutang puasanya yang tinggal dua hari.
“Shalat dhuhanya juga tidak pernah tinggal,” kata Gusti.
Bahkan, cita-cita Angga kelak ketika ia besar, ia ingin membantu kedua orang tuanya. “Dia pernah bilang kepada saya, bahwa kelak ia akan bekerja dan ingin memperbaiki rumah orang tuanya,” ujar Gusti, kembali ia terisak mengenang cita-cita anaknya itu.
Dan, satu hal keinginan putnanya itu yang belum ia penuhi, bahwa minggu besok sebelum ia meninggal dunia, Gusti berjanji akan membelikannya handphone, karena selama ini Angga tidak pernah menggunakan Hp untuk berkomunikasi dengan kedua orang tuanya. Sebelum Gusti membelikan Hp sesuai keinginan anaknya, Allah telah menghendaki keinginan yang lebih baik, mengambil sang buah hati. Untuk selamanya.
Selamat jalan Angga, semoga Allah menjadikan dirimu sebagai penambah pahala amal dan keikhlasan kedua orang tuamu. Amin! (Haluan, Kamis 8 Oktober 2009)

45. Gelas Meletus Tiba-Tiba, Lemang Terbang di Udara
Ini bukan soal percaya tak percaya. Menjelang gempa 7,9 SR mengguncang Ranah Minang. Ternyata, ada banyak peristiwa tak lazim dialami keluarga korban. Mulai dari gelas meletus tiba-tiba, sampai mimpi sepatu hilang dan lemang terbang melayang-layang di udara.
Bagaimana kisahnya?
Siang nan lengang. Sugirti 41 tahun lelah sekali. Guru SD Negeri 01 Tanjuang Balik, Kecamatan Pangkalan Kotobaru, Kabupaten Limapuluh Kota itu lelah, karena baru kembali dari kantor bupati di kawasan Sarilamak, Kecamatan Harau, jarak dari rumahnya sekitar 150 kilometer pulang-pergi. Dengan kondisi jalan berkelok-kelok plus padat arus lalu-lintas.
Walaupun sekujur tubuhnya letih, tapi Sugirti tak mengeluh. Malah, sambil tidur-tiduran, mulutnya nampak tersenyum puas. Menandakan batinnya sedang bahagia. Maklum saja, hari itu, Rabu 30 September, Sugirti baru menerima SK kenaikan pangkat dari Wakil Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi.
Karenanya, ibu empat anak itu berencana, memperlihatkan SK tersebut kepada suaminya Rozali 41 tahun. Tapi berhubung sang suami sedang mengikuti pelatihan Bimbingan Teknis Pengolahan Hasil Perikanan, yang digelar Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Sumbar, di Hotel Ambacang Padang, maka Sugirti terpaksa menangguhkan niatnya.
“Saat itu, saya berpikir, kalau bapak sudah pulang, baru SKnya saya perlihatkan. Pasti beliau juga senang,” ujar Sugirti.
Namun, niat Sugirti sepertinya sama dengan mengukir langit dan menggantang asap. Sia-sia saja. Sebab, Rozali yang belasan tahun sehidup-semati dengannya, justru pulang tanpa nyawa. Ya, Rozali meninggal karena ditimpa reruntuhan Hotel Ambacang yang ambruk, beberapa saat setelah gempa mengguncang Kota Padang.
Kepergian Rozali, membuat Sugirti bagaikan ditembak petir siang bolong. Ibu guru yang dikenal baik hati ini, terguncang begitu hebat. Dia tak menyangka, suaminya Rozali berpulang amat cepat.
Padahal, pada pagi harinya, Sugirti dan Rozali sama-sama menumpangi truk bermuatan barang dari Tanjuang Baliak. Waktu itu, Sugirti turun di halaman kantor bupati Limapuluh Kota. Sedangkan Rozali, tetap melanjutkan perjalanan menuju Kota Padang.
Sepanjang perjalanan, memang tak ada percakapan antara mereka berdua. Entah mengapa bisa begitu. Bapak diam-diam saja saat kami menumpangi truk yang sama. Tak ada satu pun yang beliau sampaikan pada saya. Padahal, di antara kami tak ada masalah apa-apa. Sehingga sampai kini, saya masih berpikir heran, mengapa bapak bisa diam? Apakah ini pertanda kami akan berpisah,” kata Sugirti sesugukan.
Rupanya, tak hanya soal Rozali banyak diam yang membuat Sugirti terheran-heran. Ada pula, kejadian lain yang membuat perempuan berkulit kuning langsat ini tak habis pikir sampai sekarang.
Kejadian tersebut, menurut Sugirti, terjadi hanya beberapa jam menjelang gempa. Waktu itu, Sugirti sedang duduk-dukuk di dalam rumah. Tiba-tiba saja, gelas yang terletak di atas meja meletus keras.
Melihatnya saya kaget, kok bisa-bisanya, gelas meletus di atas meja? Seperti ditembak, padahal tak ada yang menembak
Peristiwanya? Kontan, firasat saya mulai berkata, “Mungkin akan ada sesuatu yang menimpa keluarga kami,” ujar Sugirti pula.
Tapi, waktu itu, Sugirti tidak berpikir tentang suaminya Rozali. Dia hanya teringat pada anak lelakinya yang kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Riau. Anak sulung tersebut menurut Sugirti memang sering sakit-sakitan.
“Makanya saya langsung telepon seorang saudara. Saya bilang padanya, barusan ada kejadian aneh di rumah. Gelas meletus dan pecah tiba-tiba. Mungkin akan ada malang yang menimpa keluarga kita. Lain saya katakan, semoga saja anak sulung saya dalam kondisi Sehat,” imbuh Sugirti.
Rupanya, anak sulung Sugirti memang dalam kondisi sehat. Tidak kekurangan satu apapun juga. Hanya suaminya, Rozali, yang kemudian diketahui berpulang ke rahmatullah. Innalillahi wa inna ilahi Rojiun.
Mimpi Lemang Terbang. Adanya firasat atau tanda-tanda tak enak, menjelang gempa di Sumbar terjadi. Juga diceritakan Rosneli, 42, seorang guru ngaji di Masjid Al Falah, Jorong Bancahdama, Nagari Malalak Selatan, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam.
Kata Rosneli, beberapa hari menjelang kampungnya luluhlantak diterjang gempa. Seorang warga yang masih kerabat dekatnya, dalam tidurnya sempat memimpikan sesuatu.
Dalam mimpi tersebut, kerabat dekat Rosneli, melihat ada banyak lemang (makanan dari beras pulut yang dimasak dalam bambu), tengah dibuat orang di Bancahdama. Saat sedang dimasak, lemang-lemang tadi tak tahunya berterbangan. Melayang-layang di atas udara. Lalu berserak ke bawah.
“Terlepas mimpi tak bisa dijadikan dasar keimanan, namun selepas gempa kampung ini memang porak-poranda. Saya sendiri, antara percaya dan tak percaya saja,” kata Rosneli yang biasa disapa Uniang oleh warga kampungnya.
Seperti diketahui, Nagari Malalak Selatan, memang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa. Menurut wali nagari setempat; Edinal, tercatat ada 62 warganya hilang ditimbun tanah. Dan 62 itu, cuma 28 orang jenazah ditemukan. Sisanya, 34 orang takjeias ke mana rimbanya.
Sepatu Hilang
Kembali pada firasat menjelang gempa. Rupanya, tidak hanya dirasakan Sugirti dan Rosneli. Namun juga dialami Wira 35 tahun yang merupakan istri Benny Sukanda Putra, korban meninggal saat mengikuti pelatihan Asuransi Prudential di Hotel Ambacang Padang.
Menurut Wira, seminggu menjelang tutup usia, suaminya bermimpi sedang baralek gadang (pesta besar). Tapi Benny tidak tahu, di mana pesta besar itu berlangsung. Yang jelas, setelah Benny bermimpi, Wira juga bermimpi pergi baralek (berpesta). Sama dengan Benny, Wira dalam mimpinya juga tak tahu, ke mana dia baralek.
“Nah, beberapa hari setelah mimpi tersebut, saya juga kembali bermimpi. Dalam mimpi terakhir, saya melihat sebelah sepatu saya hilang. Namun, Semua mimpi-mimpi tadi kami anggap sebagai buah tidur saja,” cerita Wira.
Sampai pagi Rabu 30 September atau saat suaminya berangkat mengikuti pelatihan di Padang (padahal pelatihan sudah memasuki hari ketiga atau terakhir). Wira masih tak memikirkan mimpi-mimpi yang dialaminya. Hingga kemudian, dia mengetahui suami yang telah memberinya satu anak, meninggal karena ditimpa reruntuhan bangunan.
Walaupun demikian, tidak semua korban gempa memiliki firasat atau bermimpi sesuatu menjelang peristiwa menimpa mereka. Misalnya saja, Jawanis 43 tahun. Perempuan asal Jumanak, Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman itu mengaku, tak punya firasat apa-apa menjelang musibah menerpanya.
“Menjelang 22 orang anggota keluarga saya hilang ditimbun tanah sampai sekarang hanya 6 orang yang ditemukan jenazahnya. Saya tak bermimpi atau punya firasat apapun,” kata Jawanis.
Terlepas dari beragam cerita di atas. Pastinya, gempa telah berlalu selama dua minggu. Apapun yang terjadi, kini hanya bisa dikenang. Lain, disimpan untuk menatap masa depan. Mari bangkit! (Padang Ekspres, Rabu 14 Oktober 2009).

46. Pa.... Flashdisk Jangan Dibuang Ya!
Kenangan Terakhir Rahadian Bersama Istri Satu Jam Sebelum Gempa
Rasa trauma, sedih dan kehilangan akibat bencana gempa yang melanda Sumbar Rabu 30 Oktober 2009. Kejadian itu tak akan pupus begitu saja dalam ingatan. Terlebih mereka yang jadi korban. Satu di antaranya Rahadian, yang mendapati istrinya tewas tertimpa reruntuhan Salon DeBeauty. Seperti apa kisahnya?
Detik-detik kehancuran masih bermain di benak mereka. Walau diupayakan untuk menghilangkan episode mengerikan itu, namun tetap saja sulit dihilangkan. Satu jawaban yang pasti, butuh waktu panjang untuk melupakannya.
Memori kelam itulah yang kini terus bergelut dibenak Rahadian 35 tahun, warga Kota Solok.
Kesedihan yang dirasakan kembali muncul setiap kali ia melihat foto istri tercintanya, Eka Yelsi yang telah mengaruniainya dua anak laki-laki, masing-masing Muhammad Aiya Ghifari 5,5 tahun serta Si bungsu Muhammad Raffi Ghifari 4,5 tahun.
Foto keluarga kecil yang saat itu dipegang Rahadian, merupakan pemberian terakhir istrinya. “Foto ini memuat kisah sedih saja, untuk itu saya simpan baik-baik,” tuturnya di kediamannya Kota Solok. Eka Yelsi, salah satu korban tewas yang tertimpa bangunan Salon De-Beauty saat gempa besar terjadi mengguncang Sumatera Barat.
Menyedihkan lagi, foto itu merupakan kenangan terakhir, persisnya sekitar satu jam sebelum maut memisahkan mereka. Masih terngiang di teliga pria itu ucapan almarhum istrinya yang meminta agar flashdisk miliknya jangan sampai hilang.
“Pa....flashdisk-nya jangan sampai hilang ya,“ ucapnya kala itu. Flashdisk Eka itu berisikan foto-foto terakhir mereka di Plaza Andalas (PA) Padang, persisnya beberapa saat sebelum gempa. “Entah itu sebuah pertanda atau apa, yang pasti saat itu istri saya begitu takut jika flashdisk itu hilang,” tutur Rahadian lagi.
Kedatangan Rahadian bersama keluarganya ke Padang bermaksud membeli barang-barang kelengkapan toko HP milik mereka. Sekalian untuk rekreasi keluarga pada hari nahas itu.
“Saat di PA, dia mengajak dengan sedikit memaksa untuk berfoto bersama. Hal itu tak biasa dilakukannya.,” kenang Rahadian Di perjalanan pulang, Eka meminta singgah di salon De-Beauty untuk merapikan rambut. Sampai di sana, dia turun sendirian, sedangkan Rahadian dan anak-anak rnenunggu di dalam mobil.
Tak lama kemudian gempa terjadi. Melihat itu Rahadian langsung keluar bersama anak-anak, dan melihat bangunan salon tempat istrinya merapikan rambut ambruk. Terkejut dan bercampur takut. pria itu langsung lari ke salon dan mencari istrinya di dalam bangunan,” katanya lagi.
Sambil bercucuran air mata dia bersama anak-anaknya terus mencari ke setiap sudut bangunan yang roboh tersebut. Namun usahanya itu sia-sia. Karena hari mulai gelap, Rahadian hanya bisa berdiri di sekitar reruntuhan bangunan sambil menatapi puing-puing gedung yang menghimpit tubuh istrinya. Esoknya, jasad Eka Yelsi berhasil dikeluarkan oleh tim SAR, namun kondisinya telah meninggal. (Padang Ekspres, Kamis 22 Oktober 2009)

47. Zikir Massal Hilangkan Trauma
Ribuan warga kota memadati lapangan parkir GOR H. Agus Salim hari Sabtu 17 Oktober 2009 pagi. Warga kota berzikir untuk menenangkan jiwa dan minta ampunan kepada Allah SWT yang dipimpin Majelis Zikir Tazkirah Medan, Dr Amiruddin. Juga menghadirkan H Suhairi Ilyas (Dosen Universitas Ibnu Kaldum Jakarta) memberikan tausyiah.
Suasana sedih dan haru menyelimuti zikir bersama tersebut yang turut dihadiri Wakil Wali Kota Padang, Mahyeldi, Sekko Emzalmi, sejumlah unsur Muspida, pelajar dan majelis taklim dari 104 kelurahan di Kota Padang. “Dengan zikir ini, diharapkan warga kota bisa bangkit kembali melaksanakan aktifitas sehari-hari dan tidak larut dalam duka yang berkepanjangan,” ujar Wawako Mahyeldi.
Suhairi Ilyas dalam tausyiahnya mengatakan gempa adalah satu ujian dari Allah. “Musibah gempa bukanlah hal yang baru. Tetapi sudah diingatkan oleh Allah dalam Al-Quran sejak ribuan tahun lalu. Bahkan sudah pula diriwayatkan dalam cerita nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Pendek kata, kita harus menerimanya dengan tenang dan terus meningkatkan takwa kepada Allah,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Ketua Majelis Zikir Tazkirah Medan, mengingatkan kepada generasi muda untuk selalu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. “Jangan tafsirkan macam-macam musibah gempa yang melanda Sumbar. Kita harus selalu berfikiran positif. Upaya yang dilakulan Pemko selama ini meningkatkan iman dan takwa kepada Allah, harus dikembangkan terus,” ujarAmiruddin.
Wawako juga berharap kepada warga yang ditimpa musibah tidak berlarut-larut dalam duka. “Mari kita mulai dari sekarang bekerja keras membenahi yang rusak. Perkuat mental dan tingkatkan amal ibadah. Mari kita ambil hikmah di balik musibah ini. Mudah-mudahan kita akan diberikan nikmat yang lebih besar oleh Allah,” ungkap Mahyeldi.
Dalam. acara tersebut, Majelis Zikir Tazkirah Medan turut menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp 30.000.000,- lebih untuk penanggulangan musibah gempa Kota Padang. “Mudah-mudahan ada manfaatnya,” pungkas Amiruddin.

48. Cerita Sebelum Terjadi Gempa
Ada Suara Aneh, Bangau Beterbangan
Bulu roma lkhwan 35 tahun merinding. Sore itu, tiba-tiba telinganya mendengar suara aneh dari lautan. Belum lenyap rasa takutnya, semua hewan ternak dan burung-burung berkumpul di depan pondoknya. Seperti mengabarkan sesuatu.
Tapi apa?
Sore itu, 30 September 2009, cuaca sedikit mendung. Sekitar pukul 16.15 wib, telinga lelaki itu menangkap suara janggal. Datangnya dari arah laut Pantai Ulakan, Padang Pariaman. “Suaranya seperti dengungan. . .uuuunnggg... yang membuat bulu roma merinding. Dua tahun aku di sini, baru kali ini mendengar suara seperti itu,” tutur lelaki asal Jawa yang menetap di Tobohgadang, Kabupaten Padang Pariaman itu.
Belum habis penasaran Ikhwan, semua hewan ternak, 20 ekor sapi, 7 ekor kambing, ayam bahkan burung berkumpul di depan pondoknya. “Semua hewan berkumpul di depan pondok ini. Dihalau tak mau, mereka seperti akan mengabarkan Sesuatu,” cerita Ikhwan.
Tak lama berseang, terasa bumi bergoyang.
“Karena di sini tanahnya rawa, jadi guncangan tak terasa begitu kencang karena tanah sering bergoyang bila diinjak,” tutur pria yang menikah dengan uniang Piaman dan dikarunia satu anak. Pria yang masih kental dialek Jawanya ini, tinggal di rumah bapak angkatnya, di Tobohgadang. Beruntung rumah dua lantai itu tak rusak diguncang gempa.
“Hanya pagar semen yang ambruk, rumah tak apa-apa,” katanya. Sehari-hari, lelaki itu mengembala sapi dan kambing di atas lahan seluas tiga hektare milik induk semangnya, takjauh dan Pantai Ulakan. Rembang petang ia pulang ke rumah sang induk semang di Toboh Gadang.
Mimpi Berulang-ulang
Lain lagi Djaniur 50 tahun sebulan sebelum gempa, wanita itu selalu diganggu mimpi berulang-ulang. Rumah yang ditempati tinggal seruang. Itu pun tinggal lantai saja. Kadang terbersit bertanya di dalam hati, apa arti mimpi? Sebulan ia menyimpan gundah di hati. Sampai gempa terjadi.
Mata tua Djaniur nanar menatap puing-puing reruntuhan rumahnya yang nyaris rata dengan tanah. Di Kampung Simpang Padang Kapeh Ambacang Lubuk Alung Padang Pariaman itu, hampir semua rumah runtuh. Sehingga tak ada tempat buat menumpang selain harus tidur di tenda.
Masib lekat dalam ingatan nenek tiga cucu ini, alek sedang berlangsung di rumah itu. Anak sepupunya menikah. Semua orang tengah bergembira di halaman rumah menikmati hiburan dari organ tunggal. Djaniur sendiri sibuk manatiang piriang bersama anak perempuannya Nike.
Tiba-tiba.....duumm! Bumi berguncang, kencang. Kepanikan melanda. Tiba-tiba suara rumah runtuh bergemuruh. Suasana gelap seperti mau kiamat.
Baru Djaniur ingat. Dua orang cucu sedang tertidur dalam rumah. Serta-merta ia bersama Nike, ibu Si cucu, menerobos reruntuhan. Menembus kegelapan debu semen yang beterbangan. Tak ingat lagi keselamatan diri.
Ruang yang ia tuju sudah ambruk ke tanah. Cucunya tertimbun. Sekuat tenaga, ia mengangkat tubuh bayi itu dari reruntuhan tembok dan semen.
“Waktu saya angkat, mulut, hidung dan matanya penuh pasir dan debu. Mujur masih bernapas. Namun sesampai di luar, ia tak mampu lagi bertahan, cucu saya meninggal,” tutur janda ini dengan mata berkaca-kaca. Nike, ibu si bayi bernama Iqbal, tak mampu mengucap sepatah kata pun. Raut mukanya menyimpan duka mendalam. Beruntung, kakak Iqbal bisa selamat karena cepat disambar ayahnya sebelum ditimpa reruntuhan rumah.
“Ia cepat diangkat ayahnya waktu itu, hanya kepalanya luka dan lecet,” kata Djaniur sembari menunjuk ke arah bocah yang asyik main mobil-mobilan. Memang ia belum mengerti apa-apa.
Mimpi Rumah Selantai
Sebulan sebelum gempa, Djaniur sering bermimpi. Hampir tiap malam mimpi itu mengusik tidurnya. Dalam mimpi, rumah yang ia tempati hanya seruang. Itu pun tak berdinding.
“Sering Amak bermimpi, rumah ko hanya salantai, dindingnyo saketek, randah bana, sahinggo kalau duduk nampak dari mano-mano. Amak heran, baa kok mimpi ko baulang-ulang tajadi, batanda apo. Kironyo gampo nan tibo tuturnya.
Suasana duka masih menyelimuti keluarga Djaniur. Delapan anggota keluarga, anak, cucu dan menantu, tidur di tenda. Tetangganya juga begitu.
“Kami di siko sadonyo miskin. Amak baranak jo minantu karajo di pabrik tembok, urang daket-dakek siko umumnyo karajo di situ. Sahari diupah limo baleh ribu. Kini ndak adoh lai, pabrik tu runtuh lo. Ndak adoh pitih. Untuang ado bantuan sembako,” akunya. (kami semuanya miskin. Amak beranak sadangkan minantu kerja di pabrik tembok, orang dekat-dekat sini kerja di situ. Sehari digaji 15.000. Sekarang tidak ada lagi, pabrik itu sudah runtuh. Tidak ada uang lagi. Beruntung ada bantuan sembako). Padang Ekspres, Kamis 22 Oktober 2009.

49.Orang Asing Sebarkan Injil di Kab. Padang Pariaman
Ranah Minang Dikepung Misionaris
Saat terjadi gempa yang menguncang Sumatera Barat hari Rabu 30 September 2009 tercatat 33 relawan asing dan lokal kelas dunia sudah berada di Ranah Minang. Mereka siap menghancurkan aqidah umat Islam, melalui kedok kemanusiaan.
Bermacam cara dilakukan misionaris untuk memurtadan umat Islam. Baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Sungguh sangat mengkuatirkan dan sangat membahayakan bagi kelangsungan aqidah umat Islam.
Di tengah-tengah suasana umat yang dirundung duka. Mereka seolah-olah tidak menyia-nyiakan kesempatan di dalam kesempitan. Dari perkotaan sampai ke polosok pedalaman. Jika melalui jalan darat sulit dijangkau, helikopter pun siap membawa mereka dengan berbagai bantuan sebagai kedok.
Dengan berkedok kemanusiaan, mereka bebas bergerak ke berbagai pelosok pedalaman. Mereka menabur janji-janji, membabtis, meracuni aqidah umat Islam yang lugu dan polos, tanpa sedikitpun mendapat hambatan atau rintangan yang berarti.
Rupanya misionaris telah membaca watak orang Minang yang terkenal dengan ketangguhan dan ketabahannya serta cepat melupakan kedukaan. Oleh karenanya ditebarkanlah tenda-tenda sebagai perangkapnya, agar urang awak jadi pemalas.
Mereka membagi-bagikan uang saat mengontrol tenda-tendanya. Sehingga urang awak menjadi terbiasa menerima uang bukannya berbuat. Yang terjadi selanjutnya, warga korban gempa berderet, berjejer sepanjang jalan ke setiap mobil yang lewat di depan-depan tenda yang telah disediakan.
Gempa bumi Sumatera Barat bagi misionaris benar-benar menjadi kunci pembuka untuk menghancurkan umat Islam. Yang terkenal Agamis dengan bermotto:ADAT BERSANDI SYARAK, SYARAK BERSANDI KITABULLAH.
Di antara organisasi asing yang bernafsu sekali untuk memurtadan Urang Awak adalah IOM, ROTARY, dan LION CLUBS dengan menggunakan ratusan mobil truck maupun mobil-mobil kijang, jeep. Mereka sangat gesit sekali mendatangi para korban gempa sampai ke gunung-gunung yang sangat sulit dijangkau.
Sungguh liciknya para misionaris ini. Mereka telah berhasil membuat urang awak yang tangguh dan gigih menjadi pengemis di jalan-jalan.
Korban Gempa Buncah
Masyarakat korban gempa di Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat buncah. Sejumlah oknum relawan asing yang datang ke Padang Pariaman berkedok memberikan bantuan kemanusiaan. Tetapi di dalam bantuan tersebut oknum relawan asing ditemukan membagi-bagikan kitab Injil kepada warga korban gempa sejak Selasa 27 Oktober 2009. Bahkan, jika ada warga korban gempa yang mau merobah akidahnya secara terang-terangan mereka siap membuatkan rumah permanen.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Padang Pariaman melacak keberadaan oknum relawan asing itu dan sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk dilaporkan ke pihak berwajib.
“Benar, kami mendapatkan informasi dari warga ada oknum relawan asing yang membagi-bagikan Injil di jalanan, kepada siapa saja mereka bertemu,” ujar Ustadz Drs. Ibnu Aqil D. Ghani ketika berdialog dengan penulis di Kota Padang.
Dia menyebutkan, relawan asing yang membagi-bagikan kitab Injil itu disinyalir berasal dari Negara Amerika dan Australia. Mereka masuk ke Padang Pariaman, khususnya di Desa Koto Tinggi beberapa pekan setelah pascagempa dan membagi-bagikan sembako, selimut dan tenda kepada masyarakat di sana.
“Koto Tinggi merupakan desa yang terparah terkena dampak gempa di Padang Pariaman. Jalan putus, jembatan ambruk, dan banyak rumah warga yang rusak. Kondisi medan yang sulit menyebabkan ormas Islam belum masuk ke sana beberapa hari pascagempa,” jelas Ibnu Aqil.
Oknum relawan asing itu masuk ke Koto Tinggi, menurut keterangan warga yang diungkapkan Ustadz Ibnu Aqil, dengan menggunakan helikopter dan membagi-bagikan bahan makanan khususnya beras, susu dan mie instan. Setelah kondisi sedikit aman, mereka turun dan mengajak anak-anak dan orang tua berkumpul untuk mendapatkan bantuan selanjutnya.
“Selain memberikan bantuan makanan, kepada warga oknum orang asing itu juga menyebutkan kata-kata, ‘anggaplah kami sebagai warga surga yang datang ke sini untuk menyebarkan kasih’,” ujar Ustadz Ibnu Aqil seperti dikatakan warga di Koto Tinggi.
Selain itu, masyarakat di sana juga dijanjikan akan dibangunkan rumah dan akan diberikan apa saja yang diminta, asalkan mereka mau berganti keyakinan. Mereka menjanjikan akan datang beberapa kali kesempatan selama 4 tahun berturut-turut untuk memberikan bantuan yang dibawa melalui helikopter.
Memperkenalkan Yesus Kepada Anak-Anak
Dari beberapa keterangan di lapangan misionaris masuk ke pelosok-pelosok kampung dengan memperkerjaan wanita-wanita lokal muslim sebagai penunjuk jalan dan menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa Minang. Maklum di pedalaman Kabupaten Padang Pariaman ini masih banyak warga yang tidak mengerti bahasa Indonesia.
Mereka mengumpulkan anak-anak dengan alasan untuk diobati atau diselamatkan. Mereka mengajak anak-anak bermain dan berkumpul di suatu lapangan sambil bernyanyi dan bertepuk tangan. Selanjutnya anak-anak dibagikan buku cerita komik bergambar. Misionaris menceritakan Yesus Kristus sang juru penolong. Anak-anak dibimbing membaca cerita yang di buku komik tersebut. Dan untuk selanjutnya anak-anak diajak berdialog.
“Anak-anak juga dipengaruhi dengan keyakinan agama mereka, dan menyebut-nyebut Isa sebagai anak Allah,” ungkapnya.
“Tindakan oknum relawan asing ini sangat meresahkan masyarakat. Persoalan akidah sangat sensitif di daerah kami,” katanya.
Menyikapi kondisi yang tidak sehat itu, jelas Ibnu Aqil, sejumlah tokoh masyarakat di Desa Koto Tinggi menggelar rapat dan menyatakan menolak semua bantuan asing yang datang ke desa mereka. Warga juga telah melaporkan kasus tersebut ke MUI Padang Pariaman.
Ormas Islam sendiri, khususnya Formis dan MMI sumbar telah menerjunkan dai/muballigh ke Koto Tinggi guna memberikan dakwah (Tabligh akbar) agar masyarakat tetap memegang teguh keyakinan agama mereka. Di samping ormas Islam juga berupaya melacak keberadaan oknum orang asing itu dan diharapkan tertangkap tangan ketika menyebarkan Injil sehingga dapat diproses secara hukum.
“Membantu boleh tapi jangan menyinggung akidah masyarakat kami,” tegasnya.
Ulama Sumatera Barat Buya Bagindo Muhammad Letter sebelumnya juga menerima informasi itu dari beberapa jamaah pengajiaannya di Padang Pariaman. Dia mengimbau kepada para donatur asing yang membantu korban gempa Sumatera Barat untuk benar-benar murni tanpa ada misi lain.
“Kami sangat menyayangkan tindakan oknum donatur asing itu, tapi untunglah akidah masyarakat di Padang Pariaman cukup kuat,” ujarnya.
Mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Propinsi Sumatera Barat, Buya H. Mas`oed Abidin mengingatkan masyarakat daerah itu, terutama yang terkena bencana gempa bumi,  jangan sampai berubah akidah karena berharap bantuan.
Buya sangat menyayangkan adanya relawan yang berkedok menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk memurtadkan (mengkafirkan) masyarakat yang memeluk Islam.
"Betul sejumlah masyarakat Sumbar pascagempa tengah berada dalam keadaan susah, lapar, dan rumah rusak. Namun, bukan berharap bantuan untuk mengubah akidah (agama) mereka," kata Buya menyesalkan ulah oknum tak bertanggung jawab tersebut.
Jadi, relawan yang ingin merusak akidah masyarakat Minang, kembali sadar dan sebaiknya kembali bawa pulang misi tersebut jauh-jauh.
"Masyarakat korban benar berharap bantuan yang disalurkan dengan ikhlas tanpa ada iming-iming mengkafirkan," katanya.
"Harga Islam bukanlah sebungkus mie instan. Lebih baik masyarakat makan tanah dan berlindung di bawah langit dari pada akidah berubah," katanya mengingatkan masyarakat.
Dugaan kasus pemurtadan di kawasan Patamuan, Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman, tercium pihak Polresta Pariaman. Polresta berhasil menyita 24 buah Injil. Selain itu, juga selebaran dan komik anak-anak dengan judul "Si Bodoh" dan "Bagaimana Caranya Jadi Kaya" diduga disebarkan ke sekolah-sekolah. Ketiga pelaku pemurtadan itu datang memberikan bantuan uang, bagi orang dewasa Rp10 ribu/orang, anak-anak Rp5.000/orang.
Kasat Reskrim Polresta Pariaman, AKP Hendri Yahya, menyebutkan, pelaku, St dan RG berasal dari California Amerika Serikat, didampingi penerjemah mereka Doni, dari Jakarta.
"Kita sudah mengfoto copi paspor dan identitas mereka, kini tengah dilacak organisasi mereka," katanya. Ia menambahkan, pihaknya belum bisa menetapkan tindakan atas kasus tersebut. Bila sudah, Polri yang akan menangani. (Drs. Ibnu Aqil)

50. West Sumatra Quake Victims Warned Against Disguised Missionary Activity
Padang A local Muslim figure has called on fellow Muslims affected by the recent earthquake not to abandon their religious faith following reports of certain foreign aid workers combining their humanitarian work with missionary tasks of another religion.
Buya H Masoed Abidin, former chairman of the West Sumatra chapter of the Indonesian Islamic Propagation Council (DDII), issued the appeal when asked to comment on reports Padang Pariaman police had seized 24 Bibles, a number of leaflets and children’ s comic books from members of the local community who had had contact with foreign humanitarian workers.
He said it would be quite regrettable if foreigners were trying to convert quake-affected West Sumatra Muslims away from Islam under the guise of humanitarian work.
Many West Sumatran people were indeed in dire straits, suffering from hunger and other woes because of the September 30 earthquake and therefore needed humanitarian aid. But if aid was given to them with the ulterior purpose of making them abandon their Islamic faith, the aid givers had better move their mission to elsewhere, he said.
‘What West Sumatra quake victims need is aid without religious strings attached,” he added.
Therefore, he said, quake victims receiving relief aid from foreign parties should not fall for possible attempts to make them change their belief in Islam. They should adhere to the principle to rather remain hungry and homeless than abandon their religious faith.
According to Padang Pariaman police they had identified two foreigners from California whose initials were St and GR as the party that had engaged in missionary efforts while distributing aid to local quake victims.
Assisted by an Indonesian interpreter from Jakarta, identified as Doni, the two-some had also been doling out cash to quake victims at the rate of Rp l0,000 per adult and Rp5,000 per child.
“We have made copies of their passports and are now checking for what organization they are working,” said Adjunct Commissioner Hendri Yahya, head of the Padang Pariaman police’s criminal investigation unit.
He said police had yet to decide what action needed to be taken against the group but if action was necessary, it would be done by order of the National Police Headquarters.
The foreign duo’ s disguised missionary activity was detected after police received a report that a 48-minute missionary message video was being circulated by cell-phone in Padang Pariaman district.

COPYRIGHT © 2009 ANTARA
51. Tak Terganti Iman dengan Sebungkus Mie
Bantuan gempa yang disusupi misi keagamaan, jauh-jauh hari sudah tercium oleh kalangan ulama. Belajar dari daerah bencana lainnya, yang selalu saja ada pihak yang mencoba memperkeruh keadaan, Sumatera Barat terang tidak ingin kecolongan.
Dengan ditemukannya injin dan komik serta ajakan untuk pindah agama, memperkuat dugaan kalau relawan asing tidak sepenuhnya ikhlas membantu korban gempa. Oleh karena itu, keberadaan mereka harus terus diwaspadai.
Menurut Buys Mas’oed Abidin, pemberian darimana saja boleh diterima. Tetapi kalau sudah bermisi pemurtadan, sumbangan itu harus ditolak sepenuhnya. “Jangan mengganti iman dengan pemberian sumbangan. Karena itu, masyarakat harus hati-hati menerima bantuan asing,” kata Buya Mas’Oed.
Dikatakannya, kalau sumbangan tersebut nyata-nyata mengajak pindah agama, maka kelaparan lebih baik daripada memakannya. Orang Minang yang sebenarnya Minang menurut Buya, bukan suku yang gampang pindah agama, hanya karena masalah isi perut ataupun tempat berlindung.
Jika ada orang Minang yang mau menukar agamanya dengan makanan ataupun perumahan, itu sudah tidak ada lagi darah Minang dalam dirinya, Maka dari itulah suku Mlnang disebut orang Minangkabau. Itu berarti, kalau Islam sudah lepas dari dirinya, yang tinggal hanyalah nafsu kebinatangan yang diumpamakan seperti kerbau (kabau).
Oleh karena itu, orang Minang harus menghidupkan kembali semangat hidup bergotong royong. Karena dalam Allah menjanjikan bakal menolong dan membantu seorang hamba, selama hamba itu menolong dan membantu saudaranya.
Rektor Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang Prof. DR. H. Sirajjuddin Zar menilai bentuk bantuan dari mereka yang berbeda agama tak masalah untuk diterima. “Sekarang kita bicara bantuan. Kita memang tidak bisa memilih orang untuk membantu kita. Karena ini adalah bentuk perhatian orang terhadap kita. Jika bantuan itu masih berbentuk benda dan uang yang sama tanpa embel-embel tidak salah kita menerimanya,” terang Sirajjuddin Zar.
Untuk bantuan itu tidak ada embel-embel saat memberikan tidak usah dipermasalahkan. Lagian bantuan itu hanya menjelang bisa melupakan kesedihan akibat gempa. Sehingga korban gempa jangan berlama-lama dalam kasedihan.
“Kita tahu orang banyak lolos dari ujian atau cobaan berat. Namun Sedikit orang yang mampu lolos dari cobaan kesenangan. Untuk itu jangan lagi mempermasalahkan bantuan. Prinsipnya, asalkan barang yang diberikan itu tidak ada syaratnya,” ujarnya.
Sirajjuddin mengakui ada pemahaman, kalau Sumatera Barat dijadikan target pemurtadan. Seolah-olah menguasai Sumbar berarti sudah menguasai Indonesia”’ Orang Sumatera Barat itu adalah orang yang memiliki aqidah yang kuat. Untuk itu akan sulit untuk mempengaruhi masyarakat Sumatera Barat, mampu mengubah aqidahnya dengan memberikan bantuan sebungkus mie instan,” tambahnya.
Sanksi Penodaan Agama
Kristenisasi berkedok bantuan bagi korban gempa diakibatkan longgarnya peraturan dan tidak jelasnya sangsi bagi pelaku. Selain ini penerimaan bantuan dari pihak mana pun membuat mudahnya pihak-pihak tertentu menarik orang lain mengikuti keyakinan mereka.
Hal tersebut dikatakan Guru Basar dan Sosiolog Agama Universitas Andalas, Prof. Bustanuddin Agus. Ia sangat mengecam kasus penodaan agama yang banyak dialami warga di Kabupaten Padang Pariaman belum lama ini. Prof. Bustanuddin menilai tindakan pengkristenisasikan akan terus dilakukan dengan upaya dan sarana yang berbeda.
Untuk itu Ia berharap pemerintah tegas menindak hal ini. Pemerintah tidak boleh mengizinkan tindakan untuk rehabititasi mental warga korban gempa, sebatas rehabilitasi fisik saja, seperti bantuan makanan, pakaian, dan bantuan bahan bangunan.
“Rehabilitasi mental tidak boleh dilakukan karena hal ini menyangkut agama dan filosofi seseorang. Selain mempertebal keimanan dan mental untuk pribadi upaya pemerintah untuk memberikan sangsi terhadap pelaku mesti tegas,” kata Bustanuddin Agus.
Dan agar tindakan serupa tidak terulang lagi salah satu caranya dikatakan BustanuddinAgus ialah memperjelas dan mempertegas sangsi hukum bagi para pelaku pemurtadan agama tersebut. (H. Masoet Abidin)  

52.  Kristenisasi di Pasa Kudu “COKLAT TUHAN”
Ada 3 misionaris yang melakukan aktivitas Kristenisasi, yaitu Bala Keselamatan, Charites dan IBU (Internasional Building Unit) dan mereka sering melakukan kegiatan bareng, terkordinasi yang dapat dilihat dari seragam mereka melakukan kegiatan pemurtadan. Sasaran mereka lebih difokuskan kepada anak-anak. Mereka setiap hari mendekati anak kecil. Anak-anak dikumpulkan dan diberi arahan keselamatan dan kegembiraan. Serta diarahkan untuk mengenal Tuhan.
Inilah sebuah kisah nyata yang dialami anak-anak Muslim di Pasa Kudu, Lubuk Alai Padang Pariaman. Kisah yang kami beri nama Coklat Tuhan. Sebuah kisah yang menujukkan akal culas misionaris memurtatkan anak-anak Minang dari Tauhid.
Suatu sore, di akhir bulan Oktober, seperti biasanya para relawan Kristen mengumpulkan anak-anak Muslim. Setelah berdialog dan memberi semangat seperlunya, Relawan Misionaris bertanya, “Berapa Tuhan kamu, anak-anak sekalian”?
Serentak anak-anak menjawab dengan penuh percaya diri; “Satu”
Mereka lalu diberi hadiah 1 buah coklat. Meski tenang karena sudah menduga sebelumnya,  jawaban tersebut kurang menyenangkan sang relawan.
Pertanyaan  dilanjutkan lagi, “Berapa Tuhan kalian”?
Anak-anak yang menjawab “Tiga”, karena sudah sering dengar bahwa orang Kristen Tuhannya 3. Maka relawan tersenyum sumbringah. “Bagus anak-anak sekalian, lalu anak-anak Muslim itu dikasih hadiah lebih besar. Masing-masing diberi coklat tiga. Tentu sang relawan akan memantapkan pendirian baru anak-anak bahwa Tuhan adalah tiga. Karena itu ia pasti bertanya lagi.
Anak-anak berfikir, dijawab satu dikasih satu, dijawab 3 dikasih tiga. Sekarang dijawab banyak saja, sepuluh saja agar dikasih sepuluh. Maka setelah diskusi anak-anak itu akan menjawab sepuluh agar lebih banyak dapat coklat.
Sekarang pertanyaan diajukan lagi, “Berapa Tuhan kalian”? Jawaban yang diharapkan tentunya 3, sesuai arahan apalagi sudah terbukti yang jawab tiga lebih banyak dapat coklatnya.
Tapi, anak-anak menjawab,  “Sepuluh, Bang”.
Kaget si relawan, Namun kali ini tak memberinya sepuluh. Hanya diberi 3 juga.
Lebih kaget dan bingung lagi anak-anak Muslimim kita itu; dijawab Tuhan Satu sesuai dengan keyakinan mereka maka dikasih coklat satu. Dijawab tiga sesuai keyakinan relawan dikasih tiga, dijawab sepuluh sesuai dengan keyakinan penyembah banyak dewa malah dikasih tiga. Wah, dasar akal bulus !
Akhirnya anak-anak jadi sadar mereka dikerjain sang relawan dan lapor pada orang tua mereka dan kakak-kakak mereka.
Padang Sago tidak Mau Menerima Sumbangan dari Muslim
Masuknya minionaris dan aktivis kriten itu membuat dua orang warga korban gempa melaporan aksinya kepada pemuka masyarakat.
Padang Sago adalah salah satu kampung yang tidak mau menerima bantuan dari Muslim padahal mereka semuanya Muslim. Ada salah satu relawan dari salah satu ormas yang diusir dari kampung itu. Mereka berjanggut dan berjubah, sehingga diisukan menyebarkan aliran sesat.
Ketika dua orang warga yang melapor tersebut menghiba dan menceritakan suara hatinya: “Tolong Pak, kirim ulama atau ustad dan kia sebanyak-banyaknya. Kami di sini butuh ustad untuk menyejukan hati kami yang gundah gulana. Misionaris banyak datang ke kampung kami, membagi-bagikan Injil. Dan ada juga bantuan yang ada tulisan logo Yesus Kristus. Juga anak-anak sering diajarkan do’a-do’a ala Kristen, tolong kami. Kirimkan ulama segera ke kampung kami untuk meluruskan jalan dengan aqidah dari Al-qur’an dan hadits.
Tanggal 25 September 2009 sore hari, salah satu posko tenda mosionaris yang ada di Padang Sago Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman. Para misionaris terlihat sedang duduk rapi mendengarkan briefing dari dua orang bule. Rupanya para misionaris ini sedang rapat menyatukan visi dan misi mereka di dalam gerakan permurtadan warga Minang korban gempa. Terbukti esok harinya warga Padang Sago digemparkan dengan adanya Gerakan Permutadan oleh orang bule Amerika dan Australia.
Mereka sengaja mengumpulkan warga setalah warga berkumpul mereka berkhotbah yang diterjemahkan oleh orang lokal: yang isi khutbanya, intinya mengajak warga korban gempa untuk meminta pertolongan pada tuhan mereka yaitu Yesus Kristus.
Dengan adanya permurtadan ini, penguatkan aqidah memang harus segera di lakukan di Kabupaten Padang Pariaman. Tak hanya sekedar bantun sandang pangan dan obat-obatan tapi lebih dari itu yaitu aqidah.
Mengusir mereka dari Ranah Minang adalah suatu keharusan, sebagai salah satu bentuk menjaga keimanan penduduk Padang Sago yang selama ini memang bergama Islam. Semua harus dilakukan demi menjaga aqidah umat sekarang dan generasi yang akan datang.

53.Misionaris Ngaku Islam, Tetapi Nggak Tahu Shalat Ashar!
Kelompok misionaris yang berpura-pura menjadi relawan gempa itu menyebut kelompoknya FKPA. Tak tanggung-tanggung, untuk menipu umat mereka memakai atribut Islam, misalnya wanita mereka berjilbab. Di desa  Pasa Kudu, mereka menempati rumah yang dikontrak selama 6 bulan. Sehingga akhirnya diusir setelah masyarakat muak melihat aktivitas mereka yang merusak akidah umat, terutama anak-anak Muslim.
Target mereka adalah anak-anak, TK, SD dan SMP. Dan anak-anak pun segera akrab degan mereka karena begitu pandai dan pengasihnya mereka kepada anak-anak Muslim. Tapi, sedikit demi sedikit kedok mereka mulai terkuak.
Adek Kudu menceritakan, guru mengaji di desa tersebut serta masyarakat yang peduli agama mulai mencurigai mereka setelah melihat gejala-gejala kurang sedap. Pertama, anak-anak SD lalu kemudian anak-anak SMP yang dijadikan target itu dikumpulkan untuk mngikuti acara-acara mereka, jam-jam shalat dan mengaji. Acara mereka bahkan dari Ashar sampai malam dan diberi hadiah-hadiah. Akibatnya anak-anak tidak lagi mengaji.
Kecurigaan juga timbul karena mereka hidup serumah campur aduk laki-laki dan perempuan. Wanitanya pakai jilbab, tapi tak mencerminkan sebagai wanita berjilbab layaknya wanita muslimah.
“Pada suatu sore, saya bersama anak-anak dan kaum Muslimin mau shalat Ashar. Relawan PKPA itu duduk-duduk, di TPA masjid di tempat kita sekarang ini”, kata Adek bercerta kepada ustadz Aqil.
Setelah selesai shalat saya tanyakan pada relawan itu. “Kamu belum shalat?”
Dia menjawab dengan ragu-ragu, “Belum bang dan akan shalat di rumah saja.”
Saya tanyakan, “Mengapa tak di masjid saja?”
Ia jawab, “Ya di rumah aja bang.”
Lalu ia bertanya, “Ini shalat apa namanya bang? Apakah ini shalat Ashar?”.  Saya kaget, kok dia tak tahu bahwa ini shalat Ashar. Seketika saya berfikir, kelihatan sudah belangnya. Di  kolong langit ini tak ada orang Islam yang tak tahu shalat Ashar. Apa lagi ia seorang mahasiswa. Pastilah ia bukan Muslim!
Mereka yang mengaku orang Bukittinggi dan Padang Panjang serta Medan itu akhirnya diusir masyarakat setempat. Karena masyarakat sudah tahu bahwa mereka sebenarnya adalah misionaris Kristen. Dan sikap masyarakat tegas, tidak akan lagi mau menerima bantuan berbentuk apapun dari mereka.

54. Dibaptis di Taluk Bayua Kototinggi
Banyak orang yang tak percaya  kalau orang Minang begitu penurut. Malah tak satu pun yang yakin kalau warga Padang Pariaman akan dapat dimurtadan satu orang pun. Tetapi, kenyataan di lapngan lain. Begitu mudahnya mereka dibaptis. Mengapa mereka seperti tak berdaya?
Satu hari setelah membagi-bagikan Injil, misionaris Kristen itu datang lagi. Kali ini bukan hanya membagi-bagikan Injil dan mendengar khutbah para Misionaris. Tapi datang untuk menuai hasil, baptis warga setempat.
“Benar Ustaz Aqil, ada warga yang di Baptis. Saya lihat sendiri. Ketika itu, persis sehari setelah peristiwa menghebohkan bagi-bagi Injil (Bibel). Saya pergi ke rumah saudara saya di Taluak  Bayua (Teluk Bayur) Korong Kototinggi, maka saudara saya melaporkan lihat apa itu Jo. Maka saya lihat dan saya dengar sendiri peristiwa baptis tersebut”, ungkap Pak  Khaidir di Masjid Raya Kototinggi kepada Ustadz Aqil.
“Yang dibaptis waktu itu seorang pria namanya Datuak Pian. Bahunya  kananya dipegang oleh pendeta (dengan tangan pula), kemudian pak Pendeta meluruskan tangannya ke depan. Lalu dibaca doa-doa keberkatan secara Kristen atas nama Yesus. Kegiatan itu berlangsung beberapa menit.
Para misionaris dan pendeta yang membaptis tersebut berasal dari kelompok misionaris gabungan Mitra Sejati dan Samaritan. Terdiri dari bagsa barat, dan orang Indonesia yakni dari Bali, Ambon dan Medan. Mereka telah membantu korban sejak awal baik sembako atau alat-alat pertanian.
Korban bukan hanya  Datuk Pian, tapi juga dialami seorang pria bernama M. Nur Jabat. Baik  Dt. Pian atau Nur Jabat keduanya dari suku Tanjung. Tapi, dibaptisnya M. Nur Jabat dilaporkan kepada Pak Khaidir dan tokoh masyarakat lainnya oleh seorang pemuda Kototinggi yakni Muslim dan Anto. Muslim dan Anto melihat dan medengar sendiri.
Masyarakat lantas menangkap para pendeta dan misionaris tersebut dan membawanya ke Posko. “Lalu, di posko kami marah-marah dan mengintrogasi mereka.” Mereka mengakuinya dan mita maaf. Lalu, masyarakat melepaskannya sambil memberi peringatan agar jangan mengulangi kembali. Setelah berjanji tak akan mengulangi lagi dan minta maaf  mereka pun dibiarkan pergi.
Masyarakat Diasingkan ke Korong Kayu Angik Padang Alai
Kelompok Misionaris yang telah menebar Injil di Padang Alai sekitar Kototinggi dan patamuan. Semakin dibuat resah saja. Sebanyak 27 KK warga Kototinggi kini hidup terasing di Korong Kayu Angiak Padang Alai. Mereka diasingkan bagaikan disandra oleh kelompok misionaris. Dengan iming-iming akan diberi bantuan Rp 30 juta. Masyarakat meningggalkan kampung halamannya dan hidup dalam pengasingan saja. Kelompok misionaris tersebut mensyaratkan harus tinggal di perkemahan mereka itu selama 6 bulan dan kalau tak cukup enam bulan mereka terancam tak dapat apa-apa. Dan sampai laporan ini ditulis mereka sudah sebulan dalam pengasingan tersbut.
Seorang ninik mamak pemuka masyarakat  yang juga kepala SD di desa Kototinggi, Amir Hosen Datuak L. Marajo sangat kuatir sekali,. Dan berusaha agar masyarakatnya kembali menempati tempat mereka semula. Namun, mereka yang telah hidup dalam pengasingan itu betul-betul terbuat janji. Mereka akan dibantu 30 juta rupiah dan diberi persediaan pangan itu ketika diajak kembali ke kampung halaman mereka semula, malah marah kepadanya. “Nanti kalau kami ke Kototinggi lagi, apakah Datuk yang akan memberi kami makan dan membuatkan rumah”, sanggah mereka.
Akankah masyarakat tersebut betul-betul akan memperoleh rumah dan uang senilai 30 juta? Akankah mereka meraih nilai material sebesar itu? Tapi apakah nilai itu telah seimbangkah dengan kehilangan aqidah? (Drs. Ibnu Aqil)

55. Habis Gempa Datanglah Pendeta          
Habis gempa datanglah Pendeta. Gempa telah meluluh lantakkan rumah, harta benada, mereka. Pendeta hendak  menghancurkan aqidah mereka.
Bagi ummat Islam, termasuk warga Kototinggi yang 100%; aqidah adalah seperti nyawa sementara harta dan seperti raga.  Maka gempa telah menghancurkan raga mereka dan pendeta akan menghancurkan jiwa mereka. Jika pendeta (misionaris) itu berhasil, artinya mereka telah merenggut segala-galanya.
Kototinggi, terletak sangat jauh di ujung kabupaten. Bahkan berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam. Jalan menuju desa itu cukup bagus beraspal dan dengan mudah dapat ditempuh hanya kurang lebih 70 menit dari Pariaman dan tak ada tanggul, bebas hambatan. Karena itu masyarakat sangat bahagia dengan kondisi desa mereka, gunung-gunung yang indah, lembah yang mengapit kiri kanan jalan, kelapa yang berbuah lebat, ada kayu manis, tanaman coklat, durian, rambutan, jeruk dan yang lainnya. Tak ada keluh kesah yang merisaukan di sini. Nyaris tak ada berita buruk yang terjadi bertahun tahun dari desa ini. Dan karena itu masyarakat Minangkabau tak banyak yang tahu dengan desa Kototinggi ini.
Barulah Kototinggi namanya melejit setelah adanya gempa bumi yang amat dahsyat tanggal 30 September 2009. Apa yang menyebabkan terkenal? Karena umumnya desa ini luput dari pemberitaan mass media, tapi top dan popular bagi  dan relawan gempa, baik relawan Muslim dan relawan Kristen. Kenapa terkenal, karena ketatnya misionaris mengurung masyarakat dengan jerat pemurtadan dan pendangkalan aqidah.  
Gempa dahsat itu menumbagkan hampir seluruh rumah masyarakat, bahkan di beberapa lokasi terjadi longsor dahsyat yang menyebabkan 3 buah rumah tertimbun. Ada 18 orang warga meninggal. Dan separah dari jenazah mereka belum dapat ditemukan.
Badan jalan yang ikut hilang dibawa longsor, di banyak tempat menyebabkan desa ini terputus total. Berhari-hari kami di saat takut yang amat menggelisahkan itu dibiarkan saja sendiri. Tak ada relawan yang datang, tak ada bantuan pemerintah dan tak ada siapa-siapa. Sampai-sampai masyarakat saling bertanya-tanya akan selamanyakah masyarakat Kototinggi dibiarkan menanggung derita berat yang tak terperikan ini. Ya, Allah tolongklah kami.   Alhamulillah, hari minggu (hari ke lima pasca gempa) datanglah bantuan.
Mengaku sebagai Orang Minang, tahu-tahunya Misionaris Kristen         
Hari itu, di jalan raya depan posko kita ini, saya ketemu dengan 4 orang pemuda. Mereka adalah relawan yang terlibat membagi-bagikan Bibel di sini. Saya tanyakan prihal indentitas dan agama mereka. Mereka menjelaskan, bahwa mereka beragama Islam, dua orang dari Padang Panjang, dua orang lagi dari Bukittingi. Saya tak percaya karena mereka tak berlogat Minang. Saya ajak bahasa Minang dan saya terus bertanya dimana anda di Bukttinggi dan Padang Panjang? Akhirnya mereka tak dapat lagi mengelok dan mengakui dengan jujur bahwa mereka dari Medan dan Ambon. Mereka pun mengaku sebagai orang yang beragama Kristen. Kristen dari Medan dan Kristen dari Ambon.
Saya katakana kepada mereka tindakannya membagi-bagikan Bibel serta menyebarkan brosur Kristen dan mengajak kaum Muslimin murtad telah membangunkan ular lalok (tidur). Anda ingat katika masyarakat Pariaman mengusir orang China dari Pariaman. Di kota Pariaman ada namanya kampung China, setelah di usir maka tak seorangpun orang China yang berani dan mau tinggal di Pariaman. Anda kalau masih melakukan tindakan yang mengarah pemurtadan maka negeri ini akan kami jadikan sebagai kuburan anda sekalian.
“Tapi ini pribadi Pak” sergah para misionaris itu”.
Kamu dusta. Kamu telah berpengalaman. Kami tahu misionaris sebelum bergerak kemari, di kawasan bencana ini telah dilatih berbulan-bulan dan telah diplaning sedemikian rupa, perencanaan, target, sasaran, opeasional yang matang dan dana yang besar. Jadi dusta besar kalau anda berbicara itu secara pribadi. Tapi sudah  terprogram.
“Tapi, pak kalau ada kasus sebaiknya dilaporkan ke pemerintah. Dan kami dalam hal ini sudah korban. Seorang makan cempedak semua kena getahnya”.
Kami tak percaya kepada pemerintah. Kemampuan aparat dalam mengatasi kristenisasi ini rendah, saya sudah pengalaan dalam hal ini. Gerombolan anda telah ditangkap, barang bukti sudah diambil, malah konon polisi udah menyita ratusan injil, tapi semuanya dilepas. Dan kalau anda merasa bahwa anda hanya kena getahnya oleh perbuatan yang anda bilang oknum, maka anda harus tuntut kawan anda itu. Kalau tidak anda tuntut itu menjadi bukti bahwa anda bersekongkol.
 Akhirnya mereka mengakui. Bahkan mengataan bahwa kami menjadi takut dan mengadakan pertemuan dengan pemuka Muhammadiyah di Padang di jalan Proklamsi. Kami minta bantuan kepada Muhammadiyah. Setelah mereka memberi jaminan keamaan kepada kami, barulah kami berani masuk. Karena pimpinan Muhmmadiyah itu telah memberikan jaminan keselamatan kami untuk masuk, barulah kami masuk kembali. 
Misionaris Berjenggot Itu Membagikan Jilbab Biarawati
Wanita Muslimah di Kototinggi habis gempa tetap dirundung malang. Bahkan seolah harga diri mereka diinjak-inkak saja. Dan itu merupakan pengalaman  seumur-umur yang tak terlupakan. Pengalaman apa itu? Mereka disuguhi kerudung biarawati.
Para wanita yang tak terima kaum mereka diberi suguhan yang tak menarik itu lantas melaporakan ke Ustaz Shidiq relawan MMI di Kototinggi. Masak kami diberi jilbab aneh bersambung panjang ke belakang. Ustaz Shidiq pun melacak berita itu ke Kepala Korong, apakah benar atau hanya sekedar issu saja. Ternyata, pak Kepala Korong membenarkan. ”Benar masyarakat kami telah diberi oleh relawan-relawan Mitra Sejati dan orang asing lainnya jilbab seperti jilbabnya biarawati,” ujar beliau.
Dan tragisnya lagi yang memberikan adalah relawan Kristen berjenggot.
“Saya telah meminta barang bukti kepada Pak Walikorong. Dan beliau pun berjanji akan memberikannya setelah mengumpulkan dari para wanita muslimah rakyat yang dicintainya”. Ujar M. Shidiq.  
Nama Islam tetapi Agamanya Kristen
Misionaris itu mengaku bernama Mustafa, Daud dan Yusuf. Bahkan Muslim dari Bukittinggi dan Padang Panjang. Bukan itu saja, untuk menggelabui masyarakat para wanitanya berjilbab. Dengan indentitas palsu seperti itu, mereka berlalu lalang memberikan bantuan dan mengkhutbahi masyarakat dengan ajaran Misionaris Kristen.
Masyarakat jadi percaya. Prianya berjengggut, wanitanya berjilab kurang apa lagi? Ternyata kedok mereka terbuka; mereka membagi-bagikan kerudung Biarawati. Bahkan yang membagikannya langsung pria berjengggot tadi dibantu oleh wanita berjilbab.
Culas memang, tapi masyarakat tak gampang dibohongi. Ini Pariaman bung!

56. Insya Allah, Kami Masih Shalat!
KAMPUNG itu terletak di kaki bukit Gunung Tigo, sekitar 3 kilometer Utara Pasar Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, Padang Paraman. Korong Patamuan namanya, sama dengan nama kecamatan di sisi timur gunung yang sama, yaitu. Kecamatan Patamuan.
Ketika gempa berkekuatan 7,9 SR menerjang Sumatra Barat 30 September 2009, Korong Patamuan juga luluh lantak. Meski hanya satu korban meninggal karena terbawa arus tebing yang runtuh, namun kondisi kampung yang berada di atas perbukitan ini benar-benar merana.
Di sejumlah ruas jalan Padang Alai-Malalak, terdapat jurang terjal yang menganga dengan dinding tebing yang masih memerah.
Dari sebuah warung di pinggir jalan,di kaki bukit itu yang di depannya terdapat sebuah tebing runtuh, Zai, 50 tahun menunjuk rumahnya yang berada di balik jurang yang menganga tersebut.
“Itu rumah awak Da... Tebing itu runtuh ke bawah sedalam 100 meter dengan membawa istri, anak dan adik ipar ambo. Anak dan adik ipar selamat, istri awak digulung tanah dan baru ditemukan enam hari kemudian,” ujar Zai sedih sambil mengamit anak lelakinya yang masih menatap jurang yang dalam itu.
Kamis 5 November 2009 petang berebut senja, kampung itu nampak lengang. Hanya ada satu dua kendaraan roda dua dan roda empat yang lewat. Jalan menuju Gunung Tigo dari Padang Alai terus ke Malalak masih bisa dilalui. Yang sudah terban masuk jurang bersama perkampungan penduduk adalah dari Korong Patamuan menuju Tandikek, Kecamatan Patamuan.
Setiap mobil yang berhenti di kampung ini, akan selalu didatangi penduduk. Apalagi mobil yang membawa bantuan, pasti akan distop.
Cuma, sejak beberapa hari terakhir, masyarakat di daerah ini mulai curiga dan selektif dengan rombongan pembawa. bantuan, terutama kalau ada relawan asing yang menyertainya.
Kenapa begitu? Akhir pekan lalu, kampung ini didatangi beberapa orang bule yang mengaku datang dari Amerika dengan seorang penerjemah orang Indonesia asli.
Menurut cerita Ery, 25 tahun begttu turun dari mobil, mereka membawa gitar dan bernyanyi. Lantas anak-anak dan sejumlah penduduk berkumpul menonton aksi mereka, “Yo di siko bana tampeknyo Da. Itu gambar rumah nan runtuah dan di belakangnya ado tabiang. Tantang ko bana we e main gitar dan bernyanyi,” kata Ery sambil melihat rekaman video hazdphone.
Saat penduduk sudah ramai, bule yang lain memberi uang untuk sejumlah orang, termasuk membayarkan minum anak-anak muda yang ada di warung dengan memberi uang Rpl00.000,-
Setelah agak ramai, baru mereka berpidato tentang kedatangan mereka yang jauh dari Amerika sana untuk membantu penduduk yang sedang kesusahan. Di antara pidato-pidato itu, mereka menyampaikan pesan-pesan tentang Tuhan Yesus. “Kecek we e Tuhan Yesus, Pak. Kami mangango se mandanganyo,” sela seorang penduduk.
Mengajak Pindah Agama
Ery dan sejumlah teman-temannya mengakui ada upaya para bule-bule itu melalui penerjemahnya, mengajak masyarakat kampung untuk beralih agama. Ini bisa dibuktikan dengan pemberian lebih 20 Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia secara cuma-cuma kepada penduduk.
“Wak dapek lo ciek Da..,” kata Ery sambil bergegas mengambil Alkitab setebal 10 cm bersampul cokelat itu ke rumahnya yang tak jauh dan tempat bule-bule tersebut bernyanyi.
Ery menyerahkan Alkitab itu. “Lai sempat wak baco, tapi sakik kapalo wak deknyo,” kata Ery yang diiyakan istrinya.
Ery, Zai, Taher dan sekitar sepuluh orang lebih penduduk yang berkumpul senja itu, mengaku masih melaksanakan ibadah shalat lima waktu. “Meski umumnya surau pada runtuh. lnsya Allah kami masih shalat dan tak semudah itu mereka mempengaruhi kami,” kata Ery yang diiyakan oleh warga lainnya.
Hanya saja, Ery tak tahu siapa saja yang mengambil Alkitab itu dan diapakan oleh masyarakat “Kito maambiak ciek surang, ndak tahu wak jo sia barang tu kini,” katanya.
Yang pasti, lebih dari 20 Alkitab itu kini ada di tangan masyarakat Korong Patamuan. Belum terdengar ada upaya apapun yang dilakukan oleh aparat setempat.
Saat ditanya, kenapa tidak dilaporkan kepada kepala dusun atau kepala jorong? Sejumlah penduduk yang ditemui mengaku tidak tahu harus bagaimana.
Pikiran penduduk masih fokus soal nasib dan masa depan keluarganya.
“Ambo harus pindah ke kaki gunung sebelah situ. Belum ada kepastian tentang kampung kami yang sebaglan sudah turun ke dasar ngarai,” ujar Taher sambil menunjuk arah tempat tinggalnya yang baru.
Sejumlah. pemuda di Pasar Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, yang ditanya mengaku mendengar adanya upaya kristenisasi di kampung mereka. “Saya dengar ada anggota masyarakat yang diberi obat supaya otaknya jadi labil. Ada pula yang bilang, ketika mobil bule itu lewat di pasar ini dilempari batu oleh penduduk,” kata pemuda tersebut tanpa tahu siapa yang diberi obat dan siapa yang melemparnya dengan batu.
Namun Ery dari Korong Patamuan, memastikan sang bule-bule yang berbadan kekar, bernyanyi, membagi-bagikan uang dan mengajak masyarakat Korong Patamuan berpindah agama itu berpindah-pindah tempat di sekitar Padang Alai dan Padang Sago. “Banyak kampung-kampung tersuruk di sekitar sini. Dan mereka datang tanpa membawa nama LSM,” terangnya.
Sekretaris LKAAM Sumatra Barat, Drs. M. Sayuti Datuk Rajo Pangulu yang ditanya di Bandana Internasional Minangkabau (BIM), mengaku terkejut dengan langkah-langkah para misioner itu. Ia malah sangat tercengang melihat rekaman video handphone berdurasi lebih dan dua menit yang memperlihatkan bagaimana mereka merangkul masyarakat Patamuan.
Menurut Sayuti, perlu dilakukan segera langkah konkret oleh pemerintah, LKAAM, MUI dan Bundo Kanduang untuk mengatasi masalah ini. Terutama untuk menggugah masyarakat supaya jangan terpancing dengan iming-iming pihak luar.
Sayuti meminta kalangan non-Muslim untuk tidak menggunakan kesempatan dalam kesempitan. “Mereka (masyarakat korban gempa) sedang kosong pikirannya dan labil pendiriannya,” katanya.
Soal permurtadan di Padang Pariaman, kata Muslim sudah berlangsung lama. Para misionaris memanfaatkan anak-anak muda yang menganggur dan menyekolahkannya. “Sudah ada beberapa orang anak muda daerah ini yang menjadi pastor,” kata dia.
Sesepuh MUI Sumbar, Buya Masoet Abidin nampak lebih tenang menyikapi masalah ini. “Kita memang perlu hati-hati, tetapi tetap waspada. Peran tuanku-tuanku di Padang Pariaman sangat dibutuhkan untuk membentengi masyarakat yang sedang labil itu, ujarnya.
Buya belum sempat dikonfirmasi ulang bahwa misionaris asing itu memang sudah ditemukan jejaknya di Padang Alai. Dan tak seorang pun bisa menjamin bahwa mereka sudah meninggalkan negeri “seribu tuanku itu”.

57. WARGA PASIR PARUPUK BUNCAH
Kristenisasi Berkedok Bantuan Korban Gempa
Tiga setengah bulan setelah gempa mengguncang Pulau Sumatera, masyarakat korban gempa di Muaro Gantiang, Kelurahan Pasir Parüpuk, Tabing, Kecamatan Koto Tangah, Padang buncah. Sejumlah oknum relawan asing yang datang ke daerah tersebut berkedok memberikan bantuan rehab bangunan, namun ketika ditemukan mereka membagi-bagikan stiker yang bergambarkan salib pada hari Jum’at 15 Januari 2010.
Para relawan asing tersebut sengaja mendatangi rumah korban di RT 02-04/ RW 17, Muaro Gantiang, Kelurahan Pasir Perupuk, pada senja hari. Hal itu dimaksudkan supaya niat mereka menyebarkan agama tertentu kepada warga yang beragama Islam berjalan mulus. Tapi akhirnya diketahui juga, akibatnya warga Pasir Parupuk, buncah dan heboh.
Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansyarulah, Camat Koto Tangah A. Masrul, S.H., dan lainnya setelah mendapat laporan buru-buru datang ke lokasi, malam setelah beberapa jam kejadian. Tujuannya untuk mencegah dan menenangkan warga supaya tidak main hakim sendiri. Selain itu mengingatkan kepada relawan asing untuk tidak menyebarkan agama tertentu yang berkedok memberikan bantuan kepada korban gempa.
Menurut informasi dari warga, peristiwa itu berawal dan kedatangan para relawan asing Learning Content Management System (LCMS) yang berpusatkan di Medan. Mereka memberikan bantuan kepada warga di daerah pinggiran yang bermukim di tepi pantai. Bantuan itu untuk rehab bangunan rumah warga yang rusak akibat gempa 30 September 2009. Bantuan itu berupa bahan bangunan semen, pasir dan lainnya.
Namun niat baik dari sejumlah oknum LSM yang berasal dari luar negeri itu terselip maksud tertentu untuk mengubah akhlak warga supaya pindah agama. Bagi mereka yang telah mendapatkan bantuan relawan memberikan stiker dan lalu menempelkan di depan rumah warga. Selain itu relawan memberikan selebaran yang bergambar orang disalip dan gambar babi bergandengan dengan sapi.
Warga yang menerima bantuan difoto dekat stiker yang ditempel di rumah mereka. Menurut informasi, foto itu sebagai barang bukti relawan bantuan sudah sampai ke tangan warga. Lebih parahnya lagi para relawan secara terang-terangan menyebutkan, jika ada korban gempa yang mau mengubah akidah, mereka siap membuatkan rumah permanen.
Kedatangan para relawan yang memberikan bantuan tersebut tanpa diketahui ketua RT/RW, lurah bahkan camat. Mereka diduga mendatangi warga secara sembunyi-sembunyi.
Untuk mencegah aksi relawan itu, warga melaporkan kasus itu ke ketua RW.17, Rusdi Karim, Lurah Pasir Parupuk, Usman Samra dan Camat Koto Tangah A. Masrul, S.H. Sebelumnya warga mengusir para relawan tersebut sebelum warga lainnya mengamuk dan main hakim sendiri.
Ketua RW.17, Rusdi Karim ketika ditemui pada hari Sabtu 16 Januari 2010 membenarkan kejadian yang menimpa warganya. “Para relawan sengaja mendatangi warga tanpa sepengetahuannya, pada waktu sore hari sekitar pukul 17.00 WIB. Namun karena memberikan bantuan langsung, warga pun membutuhkan, mereka menerima dengan senang hati. Tapi setelah diketahui bantuan itu dibumbui dengan maksud tertentu, warga menolaknya dan melaporkan kepada saya,” terang Rusdi seraya menyebutkan masih untung warga tidak main hakim sendiri.
Disebutkan, atas kejadian tersebut warga mengusir relawan asing itu, supaya tidak lagi berbuat hal yang sama di Pasir Parupuk. Jika masih kedapatan, mereka akan tahu akibatnya.
Buncahnya kasus upaya untuk dugaan mengkristenisasi warga muslim di Pasir Parupuk tersebut, Camat Koto Tangah, A. Masrul, Lurah Perupuk Tabing, Usman Samna, para ketua RT/RW dan pemuka masyarakat sekitar mengadakan rapat kilat di RW.10, kelurahan setempat. Rapat tersebut membahas kasus itu supaya tidak terulang lagi.
Camat A. Masrul ketika dikonfirmasikan, membenarkan kasus yang menimpa warganya. Ia menyebutkan kasus tersebut cepat diatasi oleh Wakil Walikota Padang, Mahyeldi Ansyarulah yang datang ke lokasi setelah beberapa jam kejadian bersama unsur pejabat terkait lainnya.
Sehingga upaya oknum relawan asing yang diketahui bennama Herman dan Tulus yang mengaku berasal dari Medan tersebut tidak dapat mempengaruhi warga yang memegang teguh aqidah.
Namun katanya diimbau kepada warga supaya tidak saja menerima bantuan yang berasal dan relawan asing, apalagi diembel-embeli untuk pindah agama tertentu.
Upaya pengkristenisasi warga muslim pascagempa yang meluluhlantakan Sumbar, 30 September lalu pernah pula terjadi di daerah Pariaman, Kecamatan X Koto Kampung Dalam, Patamuan, V Koto Timur dan Kecamatan IV Koto Aur Malintang, daerah Lubuk Alung serta daenah lainnya. Oknum relawan asing itu membagi-bagikan injil, sementana mereka tahu masyarakat di daerah itu seluruhnya muslim.
Kasus tersebut sempat heboh, dan para ulama meminta para relawan asing supaya menghentikan kegiatannya dan tidak menyebarkan agamanya di tengah-tengah warga yang sudah punya agama. Namun aksi itu hanya hilang sesaat, tapi kasus yang sama kembali mencuat seperti yang terjadi di Pasir Parupuk, Tabing. (Singgalang, Senin 18 Januari 2010)


KESIMPULAN
Terjadinya gempa 7,9 SK yang menghancurkan negeri Ranah Minang dan meluluhlantakan bangunan-bangaunan yang bertingkat. Apa hikmah yang bisa kita petik dari musibah tersebut? Kita mengharapkan kepada keluarga korban bisa tabah menghadapi cobaan ini. Allah tidak akan memberikan cobaan kalau kaum itu, kalau kaum itu tidak sangaup menghadapinya. Semakin bertaqwa kita kepada Allah, semakin besar cobaan yang kita hadapi di dunia ini. Kalau kita lulus menghadapi berbagai macam cobaan, insya Allah kita ada orang paling beruntung.
Dan bagi korban yang selamat, marilah kita ambil hikmah di balik bencana ini untuk bisa lebih khusuk dan ikhlas beribadah karena Allah semata. “Seluruh manusia akan binasa kecuali yang berilmu, dan seluruh ilmu akan binasa kecuali yang beramal dan seluruh amal akan binasa kecuali orang yang ikhlas”. Maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa ikhlas adalah kunci dari semua amal ibadah yang kita lakukan.
Gempa boleh menghancurkan semua bangunan yang berdiri megah, yang didirikan dengan biaya milyaran rupiah. Tetapi uang milyaran rupiah tidak bisa menghancurkan iman kaum Muslim yang ikhlas.
Gempa dengan kekuatan 7,9 SK yang terjadi di Sumatera Barat pada 30 September 2009 tidak akan bisa membunuh orang. Kenapa? Kalau gempa mengguncang sedangkan kita lari dan berada di luar rumah atau di lapangan terbuka, tentu tidak akan ada korban jiwa. Yang menimbulkan banyak korban jiwa adalah struktur bangunan yang tidak kokoh dan tidak sesuai dengan standar bangunan nasional/internasional. Para kontraktor, konsultan dan terkait lainnya terlalu banyak bermain di dalamnya. Sehingga konstruksi bangunan asal jadi saja. Dengan datangnya gempa yang mengguncang Sumatrera Barat dengan kekuatan 7,9 SK pada 30 September sehingga bangunan yang tidak kokoh tersebut ambruk dan menimpa ratusan orang yang terjebak di dalamnya. Inilah yang menyebabkan timbulnya korban jiwa.
Apalagi bangunan yang sudah tua, tiba-tiba disulap jadi banguan yang megah dengan struktur bangunan asal jadi. Bangunan inilah yang ambruk dan menimpa ratusan korban jiwa. 
Di Jepang gempa yang mengguncang dengan kekuatan 7 SK orang-orang tidak akan keluar rumah. Karena mereka sudah biasa menghadapinya. Dan gempa dengan kekuatan tersebut tidak ada orang Jepang yang meninggal, kenapa? Karena mereka telah mempersiapkan banguan rumah atau gedung-gedung tahan gempa.
Kenapa di Kabupaten Padang Pariaman bukit longsor dan menimbun ratusan manusia, sehingga menjadi kuburan massal? Kita kembali kepada ajaran Islam yakni al-qur’an dan hadits. Allah berfirman di dalam al-qur’an yang artinya: Semua musibah yang terjadi di dunia ini adalah karena ulah manusia itu sendiri. Memang benar, bahwa daerah yang terkena musibah terparah dimana di daerah itu terjadi maksiat dan banyak manusia yang ingkar kepada ajaran Allah SWT.
Semoga di masa mendatang kita bisa lebih meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT. Dengan demikian Insya Allah kita bisa terhindar dari bencana mendatang kalau tiba-tiba datang lagi menimpa negeri kita yang indah ini. Marilah kita ambil hikmah dari musibah yang menimpa negeri kita ini. Dari musibah gempa 30 September 2009 terdapat korban yang meninggal sebanyak 1.197 orang, yang luka berat sebanyak 619 orang dan para korban yang menderiata luka ringan sebanyak 1.179 orang.
Pemurtadan yang menimpa Kabupaten Padang Pariaman memang berkedok bantuan kemanusiaan. Oknum relawan asing itu masuk ke Koto Tinggi, Patamuan, Padang Alai, Pasa Kudu, Padang Sago dan daerah-daerah lainnya. Menurut keterangan warga mereka menggunakan helikopter dan membagi-bagikan bahan makanan khususnya beras, susu dan mie instan. Dengan berkedok kemanusiaan, mereka bebas bergerak ke berbagai pelosok pedalaman. Mereka menabur janji-janji, membabtis, meracuni aqidah umat Islam yang lugu dan polos, tanpa sedikitpun mendapat hambatan atau rintangan yang berarti.
Gempa bumi yang terjadi di Sumatera Barat bagi misionaris benar-benar menjadi kunci pembuka untuk menghancurkan umat Islam, yang terkenal Agamis dengan bermotto, “Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah”
Di antara organisasi asing yang bernafsu sekali untuk memurtadan masyarakat adalah IOM, ROTARY, dan LION CLUBS dengan menggunakan ratusan mobil truck maupun mobil-mobil kijang, jeep. Mereka sangat gesit sekali mendatangi para korban gempa sampai ke gunung-gunung yang sangat sulit dijangkau.
Sungguh liciknya para misionaris ini. Mereka telah berhasil membuat masyarakat yang tangguh dan gigih menjadi pengemis di jalan-jalan.
Penulis mengharapkan kepada masyarakat yang telah menerima bantuan terutama dari relawan asing supaya lebih berhati-hati lagi dan jangan sampai kita kecolongan dua kali. Kita boleh menerima bantuan dari siapapun karena kita memang membutuhkannya tetapi tidak diembel-embeli oleh permurtadan. Tidak akan tergantikan aqidah kita dengan apapun bentuk bantuan itu.
Pada hari Jum’at tanggal 22 Januari 2010 masyarakat korban gempa di Muaro Gantiang, Kelurahan Pasir Parüpuk, Tabing, Kecamatan Koto Tangah, Padang tepatnya di RT. 02-04/ RW.17 relawan asing Learning Content Management System (LCMS) yang membagi-bagikan stiker yang bergambarkan salib dan memberikan bantuan kepada korban di daerah pesisir pantai. Bantuan itu berupa bahan bangunan semen, pasir dan lainnya. Warga yang menerima bantuan difoto dekat stiker yang ditempel di rumah mereka.
Seteleh menerima laporan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansyarulah, Camat Koto Tangah A. Masrul, S.H, Lurah Perupuk Tabing, Usman Samna, para ketua RT/RW dan pemuka masyarakat mengadakan rapat kilat untuk mengantisipasi terjadinya pemurtadan.
Sekali lagi kita kecolongan.
Sungguh suatu fenomena yang mengharukan, bahwa selama ini kita kurang waspada dalam menghadapi kerikil-kerikil yang mengganjal keimanan kita. Walau bagaimanapun kita harus mewaspadai datangnya musuh baik dari luar maupun dari dalam. 

PENULIS

Muhammad Zalzalah lahir di Padang Besi. Menamatkan sekolah dasar pada tahun 1977, sekolah menengah pertama tahun 1981, sekolah menengah atas tahun 1983/1984. Kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan PGRI Sumbar dan terakhir pada Universitas Terbuka jurusan ekonomi manajemen.
Mulai menulis pertama kali pada tahun 1987 dengan tulisan cerpennya berjudul “bulan madu”. Setelah itu tulisannya sering terbit di berbagai media yang ada di Kota Padang seperti, Harian Umum Singgalang, Haluan, Semangat, Mingguan Canang dan Media lainnya. Juga telah menulis buku Biograpy H. Yong Suar Dt. Tumangguang, Alur Adat Istiadat Nagari Lubuk Kilangan Kota Padang. Dan buku yang telah ditulis dan akan diterbitkan antara lain Piagam Tertulis Nabi Muhammad SAW, Konsepsi Bung Karno, dan Sejarah Pancasila Menjadi Dasar Negera Republik Indonesia.